Home / RELIGI

Rabu, 4 Juni 2025 - 13:36 WIB

Ketika Mencintai Allah, Maka Bercerminlah Dari Sejarah Kurban Nabi Ibrahim AS

Oleh :
TM. Jamil, Dr, Drs, M.Si
Associate Professor, pada Sekolah Pascasarjana USK, Banda Aceh.

HARI RAYA KURBAN akan kembali menghampiri kita, In Sha Allah, Jumat Besok Akan Kita Rayakan. Setiap tahun (barangkali) kita menunaikan ibadah kurban, menyembelih seekor domba, kambing, sapi, atau unta. Daging­-dagingnya kita sebarkan untuk bisa dirasakan oleh fakir miskin. Aktivitas seperti ini rutin terjadi dalam siklus hidup kita. Bahkan, mungkin, telah menjadi rutinitas! Seperti mesin, rutinitas adalah proses yang berulang-ulang.

Memang banyak ibadah mengharuskan dilakukan secara rutin. Shalat misalnya, sehari kita lakukan lima kali. Puasa Ramadhan kita lakukan satu bulan dalam setiap tahun. Persoalannya adalah, apakah ibadah-ibadah seperti itu bisa dilakukan sekedar sebagai rutinitas; sesuatu yang mekanis? Ayo dan Mari Renungkan !

Pertanyaan seperti ini penting kita kemukakan saat-­saat kita sedang diliputi suasana kurban. Sebab jika kita tengok sejarahnya, ternyata kurban membawa muatan makna yang cukup dalam, jauh dari sekedar sebuah Sejarah Awal Mula Hari Raya Idul Adha – Hari Raya Qurban simbol penyembelihan dan pemba­gian daging kurban.

Adalah nabiyullah Ibrahim AS dan Ismail AS, yang telah mendemontrasikan betapa ibadah kurban adalah pertaruhan antara tauhid dan syirik. Pertarungan antara Allah dan selain Allah. Dan mereka lulus dalam ujian “pertaruhan” ini. Bahwa Ibrahim dan Ismail lebih mementingkan Allah Swt telah dibuktikan dengan kesanggu­pan mereka untuk menyem­belih dan disembelih, karena memang itu perintah Allah. Kecintaan Nabi Ibrahim kepada anaknya tetap diletakkan di bawah kecintaannya kepada Allah.

Baca Juga  Komunitas Pemuda Subuh Aceh Utara Melakukan Safari Subuh

Ibrahim memang cinta, dan bahkan sangat cinta, kepada putranya, Ismail AS. Akan tetapi, perintah Allah lebih dari segala kecintaan duniawi. Inilah implementasi tauhid yang benar. Bahwa tauhid bukan sekedar “basa­-basi” percaya akan ke-esaan Allah. Tauhid bukan sekedar penolakan secara lisan terhadap tuhan-tuhan dan penunggalan Allah. Tauhid adalah jiwa kehidupan. Tauhid menuntut pendemonstrasian sikap secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt melaknat makhlukNya yang munafik dan berlaku sombong.

Sebagai “bapak monotheisme”, Ibrahim sangat paham terhadap sikap-sikap tauhid yang harus dilakukan. Dia sangat paham bahwa : ”… jika bapak-bapak, anak­-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah SWT mendatangkan keputusan-Nya…” (At-Taubah/9:24). Subhanallah !!!

Bercermin dan Berkaca lah dari sejarah kurban Ibrahim AS, maka ibadah kurban yang kita lakukan mestinya kita jadikan ajang pengasahan sikap tauhid kepada Allah Swt, Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.

PENGORBANAN TAUHID
Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah kurban juga mengandung dua sisi yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Menyembelih hewan dan membagikan dagingnya pada fakir miskin adalah satu sisi syari’at yang tidak boleh diabaikan. Akan tetapi, sisi ini bukanlah tujuan dari ibadah itu sendiri. Allah sendiri menjelaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukan daging atau darah hewan kurban, melainkan ketaqwa­an pelaku kurban-lah yang sampai Perayaan Idul Adha (Al ­Hajj/22:37).

Baca Juga  Semarakkan Ramadhan 1443 H: Perkemahan Tahfidz Remaja Islamic Center Ke-6 Lhokseumawe Dibuka

Ini artinya bahwa penyembelihan kurban adalah simbol ketundukan dalam menjalan­kan perintah Allah. Dan ibadah tidak boleh berhenti sebatas pada simbol, sebab jika ini yang terjadi, ibadah hanya akan menjadi rutinitas dan kehilangan makna yang sesungguhnya. Maka bersama kucuran darah, kita kurbankan segala kepentingan dunia, demi memenuhi panggilan Allah. Segala ketaatan kita letakkan di bawah ketaatan kepada Allah. Seluruh ketakutan kita letakkan di bawah ketakutan kita kepada Allah. Semua kecintaan hanya boleh dan sah jika kita letakkan di bawah kecintaan kita kepada Allah.

Bukan sebaliknya, demi kepentingan duniawi dan merebutkan jabatan manusia saat ini korbankan Allah. Na’uzubillahi Min Zalik. Kita korbankan tauhid. Panggilan kekuasaan mengorbankan ketaatan kita pada Allah. Kita menjadi lebih otoriter dibanding Allah. Seruan gelimang harta telah melupakan kita dari perjuangan. Kita menjadi serakah dan tamak; merasa paling kaya dan memiliki segalanya, lupa bahwa semuanya adalah milik Allah. Kita korbankan kejujuran demi panggilan korupsi dan memaksa kehendak ingin terus berkuasa. Kita korbankan moral dan kehormatan, hanya karena bisikan lawan jenis dan syetan. Lantas sampai kapan, kurban menjadikan kita konsisten dalam bertauhid?. Wallahu ‘Aklam. Hanya Hati Kita Yang Mampu Menjawabnya. Semoga kita jujur dengan bisikan hati untuk mencintai-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Share :

Baca Juga

RELIGI

Maulid Nabi di Kuta Makmur Jadi Ajang Pererat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

ACEH

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, BMA Ajak Warga Jaga Persaudaraan dan Perkuat Kepedulian Sosial

ACEH

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Bupati Aceh Timur Ajak Warga Doa Bersama dan Jaga Perdamaian untuk Anak Cucu

ACEH

Oknum Polisi di Banda Aceh Divonis 20 Bulan Penjara Kasus Ikhtilat

ACEH

Baitul Mal Aceh Timur Buka Bantuan Zakat untuk Guru Dayah dan Santri, Pendaftaran 11-18 Agustus

BERANDA

Artikel Opini “Ya’juj Ma’juj Fans Club” Viral, Soroti Dukungan Publik terhadap Trump dan Netanyahu

ACEH

Baitul Mal Aceh Monev Langsung 22 Daerah, Tegaskan Transparansi Dana ZIWAH Harus Sampai ke Mustahik