Home / OPINI

Minggu, 20 Agustus 2023 - 19:00 WIB

KATANYA KITA INI BERSAUDARA, TERNYATA KAU PENGKHIANAT 

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Scienties, USK, Aceh

DIANGGAP MUSUH tapi kau saudara, dianggap kawan tapi kau lawan, dianggap benar tapi kau salah, dianggap tuli tapi kau mendengar, dianggap kau bodoh tapi kau mampu membuat keadaan negeri ini semakin kacau balau hingga galau. Kita ini sudah merdeka katanya, namun kenapa masih saja ada penjajah berkeliaran di luar sana yang selalu mengancam hak-hak kaum lemah yang tak berdosa hingga mereka mulai berteriak gaduh akan nasib yang telah menimpa mereka.

KATANYA negeri kita sudah merdeka, namun kenapa penindasan-penindasan masih saja bertaburan diluar sana, masih saja berdiri bagaikan pahlawan yang selalu mewaspadai gerakan para musuhnya. Lihatlah bendera yang selalu berkibar lantang dimana ia tak peduli diterpa panas dan hujan ia mengabari rasa satu kesatuan kepada negeri ini, namun kenapa kau tak peduli dengan arti kibaran itu, apakah kita sudah menjadi orang yang tak mengenal apa itu arti merdeka?.

Katanya kita ini sudah merdeka, namun entah kenapa kita saling berlomba untuk menjadikan suasana negeri kembali seperti sediakala di mana kau acuhkan kebenaran, kau tinggikan kesalahan lalu berteriak, jika kaulah yang paling benar, bahkan Tuhan yang kau anggap paling berkuasa atas semua seisi dunia ini seakan tak pernah berarti apa-apa dalam hidupmu.

Lihat saja tingkah lakumu, begitu pandai bersandiwara dalam kepura-puraan seakan kaulah pemeran utama yang mampu menutupi kekurangan atas peran yang lain. Tapi peranmu bukan untuk menghibur dan memberi, namun dibalik hibur dan berilmu tertanam niat jahat yang ingin memilliki kuasa atas peran yang kau jalani. Berkuasa hingga tak kuasa menahan emosi dan gejolak jiwa hingga melampuai batas kemanusian adil yang beradab yang terpampang di dada garuda itu.

Lihat saja kau begitu pandai memakai gerak dan rupa seperti bunglon, dimana kau bersahaja begitu ramah dan tamah, namun dibalik senyummu dan tingkah laku baikmu, kau menyimpan sebuah ambisi penjajah yang begitu erat tertanam dalam dirimu. Kenapa kita saling mengancam, kenapa kita saling menuduh hingga gaduh lalu memfitnah hanya untuk menjadikan dirimu seolah kaulah yang paling kuasa di dunia ini.

Baca Juga  TEGAKAH KITA MEWARISKAN "RUMAH KEBANGSAAAN" YANG RAPUH KEPADA GENERASI MENDATANG?

Kenapa kita saling mengadu, saling mengaduh dalam keresahan hati rakyat yang semakin menjelma menjadi tak peduli lagi dengan pemimpinnya. Mereka begitu lelah dan lemah untuk bersuara bukan saja karena mereka tak mampu lagi untuk berkata namun jauhnya janji yang pernah diucapkan terbongkar dalam dusta yang menyakitkan hati. Yang berbeda denganmu, kau fitnah dan kau hancurkan karirnya. Tapi kau lupa, balasan dari Allah Swt akan menghancurkan hidup dan kehidupanmu sendiri.

Kenapa kau begitu sombong dengan kedudukan itu, kenapa kau begitu angkuh dengan jabatan yang serendah itu – hingga kau menuai ancaman kilat dari para pengemudi negeri ini. Lalu muncullah sang pembela yang katanya dari golongan benar, namun pada kenyataannya, mereka hanya berkedok palsu, penjilat dan penjilat – hingga mengakibatkan rasa satu dan kesatuan itu semakin pudar memudar terasa pergi jauh dari peredaran dalam suasana ramah negeri ini.

Kita saling mencari siapa mereka dibalik ancaman itu, namun pada kenyataannya kita sendiri sudah lupa jika kita juga termasuk dalam golongan mereka yang tak mengenal dengan baik apa arti dari itu semua. Kau ajak mereka berbondong-bondong mengikuti jejak nasehatmu dengan berdalih jika itu salah, jika itu harus dibenarkan dan jika itu harus dinaikan dan diturunkan, namun kau lupa jika kau telah memerangi saudaramu sendiri. Kau benar-benar kejam dan sadis, serta tak berperikemanusiaan. Kau bersifat kebinatangan … Sungguh menyakitkan …

Belum lagi jika kau berada dalam posisi yang kau inginkan, kau seakan tak segan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kau begitu berani mendustai sumpah atas nama Tuhanmu sejak hari itu kau dipercayai menangani negeri ini. Ketika itu semua telah berjalan, kau tak bisa menahan diri lalu memeras saku bangsa yang dihasilkan dari keringat rakyatmu sendiri.

Baca Juga  PERLUKAH DEBAT PEMILIHAN CALON PRESIDEN 2024, DILAKUKAN DI KAMPUS?

Tak kasihan kah kau berlaku kepada bangsa dan negerimu sendiri, kau mengaku bertanah air satu, berbendera satu dan berbahasa satu, berarti kau begitu paham dan memahami dengan makna yang dari sumpah itu yang tertulis itu jika kita semua yang berada dalam negeri ini adalah satu. Sudah cukup lelah negeri ini melihat tingkah lakumu yang selalu menjauh dari kata satu.
Kau begitu gemar menggemari diri dengan sikap ingin memecah belah yang telah dibangun begitu sulit oleh para pahlawan negeri ini. Mungkin mereka meneteskan air mata jika menyaksikan keadaan negeri kita saat ini, di mana mereka membangun negeri ini dengan jiwa dan raga mereka dengan memerdekakannya dengan susah payah lalu kini kau malah menjajah kembali negerimu sendiri tanpa titik.

Sudahlah …, kita ini satu dan bersatu dalam keanekaragaman yang kuat, saling menghormati, bertoleransi, saling berjabat tangan dan selalu menyelesaikan segala permasalahan yang ada dengan musyawarah yang pernah dilakukan oleh pendulu negeri ini. Semoga saja kita semua sadar dan menyadari dimulai dari sendiri jika keadaan negeri kita saat ini sedang dalam keadaan kurang baik, jadi jangan buat berita, masalah dan perihal lain untuk mengambil tindakan dan langkah yang hanya akan mempersulit keadaan.

Berhentilah menyebarkan isu-isu yang tak penting, tak bermakna yang hanya akan mengundang mala petaka menimpa kita semua. Kita ini bersaudara, maka selesaikan dengan baik penuh dengan persaudaraan. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya. Semoga Indonesia selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dari hal yang ingin menghancurkan negeri kita ini, Amin, Ya Rabbal ‘Alamiin.

Share :

Baca Juga

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung

ACEH

SDA Aceh Disebut “Emas yang Tak Basi”: Perlukah Pemerintah Tahan Izin Tambang Demi Generasi Berikutnya?

OPINI

Orang Baik Tidur Lebih Nyenyak

BERANDA

Wacana Alih Fungsi Blok Andaman Jadi KEK Lhokseumawe Disorot, Warga Aceh Tekankan UUPA