Home / ACEH / BERANDA / BERITA / EKBIS / HUKUM

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:57 WIB

Izin Tambang Beutong Ateuh Banggalang Dikecam: “Jangan Ada Pesta Babi Jilid 2 di Aceh”

Jubir Rakyat Aceh tolak narasi lapangan kerja. Warga Nagan Raya ingatkan pemerintah: ruang hidup & tanah adat bukan komoditas korporasi

MEDIALITERASI.ID | NAGAN RAYA – Penolakan rencana eksploitasi tambang di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, terus menguat. Warga dan aktivis mengecam pemberian izin tambang di kawasan itu karena dinilai mengorbankan keselamatan ekologis demi kepentingan korporasi.

Khalilullah, yang didaulat sebagai Juru Bicara Rakyat Aceh saat aksi penolakan Pergub JKA beberapa waktu lalu, menegaskan Beutong Ateuh Banggalang punya nilai historis dan kultural mendalam bagi masyarakat Aceh. Bukan sekadar lahan kosong yang bisa dikapitalisasi.

“Beutong Ateuh Banggalang itu bukan hamparan hutan kosong yang bisa dikorbankan demi isi kantong investor. Itu ruang hidup, warisan para syuhada, tanah adat, dan masa depan anak cucu kami. Mengeluarkan izin tambang di sana sama saja memancing bencana ekologis besar lagi bagi Aceh,” tegas Khalilullah kepada media, Sabtu 31/5/2026.

Baca Juga  Jernang Aceh Jadi Incaran Dipasar China

“Mitos usang lapangan kerja” 

Mahasiswa Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh Unmuha ini menyorot narasi pemerintah soal kesejahteraan lewat korporasi tambang. Ia menyebut klaim “buka lapangan kerja” sebagai argumen manipulatif untuk menutupi kegagalan negara membuka kerja layak.

“Argumen bahwa korporasi tambang akan ‘membuka lapangan kerja dan menyejahterakan masyarakat lokal’ itu kalimat paling menjijikkan. Itu mitos usang dan janji manis palsu yang selalu dipakai pemerintah untuk meredam perlawanan rakyat karena ketidakmampuan buka lapangan kerja,” cecarnya.

Ia menekankan masyarakat Aceh menolak ditukar jadi buruh murah jika taruhannya kehancuran ruang hidup permanen. “Jangan bodohi kami dengan narasi ‘lapangan kerja’. Kami tidak mau ditukar jadi buruh murah beberapa tahun, sementara tanah adat, hutan, sungai, dan keselamatan anak cucu kami digadaikan selamanya!”

Peringatan “Pesta Babi Jilid 2”

Baca Juga  Sikat Afiliasi Israel

Khalilullah menutup dengan peringatan keras. Ia mengaitkan situasi Beutong Ateuh dengan film dokumenter _Pesta Babi_ yang merekam digilasnya hutan adat dan ruang hidup masyarakat Papua oleh proyek besar.

“Kita semua nonton bagaimana hutan adat dan ruang hidup saudara kita digilas atas nama proyek besar di film Pesta Babi. Saya ingatkan pemerintah, jangan sampai terjadi ‘Pesta Babi Part 2’ di Tanoeh Aceh!” tegasnya.

Pemerintah pusat dan daerah diminta segera membatalkan dan meninjau ulang segala perizinan tambang di Beutong Ateuh Banggalang sebelum kerusakan masif terjadi.

“Jangan biarkan Beutong Ateuh Banggalang bernasib sama: hutan adatnya digunduli, masyarakatnya disingkirkan, alamnya dihancurkan demi memuaskan nafsu korporasi skala besar,” pungkasnya. (AYD)

 

Pertanyaannya sekarang: Negara pilih melindungi warisan syuhada dan tanah adat, atau ulangi skenario ekologis yang sama demi investasi?

Share :

Baca Juga

Wisuda 227 Lulusan, UIA Berikan Apresiasi Prodi Unggul Hadiah Umrah

BERITA

Penguatan Mutu Menuju 2030, UIA Gelar Wisuda Angkatan XXXVIII di Kampus Paya Lipah

ACEH

LITERASI BENCANA: Hampir Setahun Berlalu, 222 Ribu Jiwa di Aceh Timur Masih Menanti Jadup dan Isi Hunian di Tahap 10

ACEH

ABEH UBEE ABEH: Slogan Persiraja yang Harus Dibuktikan di Atas Lapangan, Bukan Sekadar Tulisan

HUKUM

PERANCIS MEMBARA: Gedung Bersejarah 143 Tahun Dibakar Amuk Massa, Menara Jam Runtuh di Tengah Demo Biaya Hidup

BUDAYA

Kritik Budaya Literasi Semu, Teuku Muhammad Jamil Ajak Ubah Kebiasaan Berbagi Tautan Jadi Berbagi Pemahaman

BERITA

DPN Indonesia dan Pagar Nusa Siapkan 2.000 Beasiswa PKPA bagi Kader Sarjana Hukum

BERITA

Direktur PMMU Lepas Tiga Alumni untuk Lanjutkan Studi ke Universitas Al-Azhar Mesir

BERITA

Polri Ajak Masyarakat Waspadai Modus Penipuan Online, Jaga Keamanan Digital