Home / BERANDA / BERITA / HUKUM / NASIONAL / SOSIAL

Senin, 25 Mei 2026 - 00:44 WIB

Pemerintah Larang Film ‘Pesta Babi’, Yasinta Moenwen Sebut Kesaksiannya Dimanipulasi

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Pemerintah resmi melarang peredaran film dokumenter _Pesta Babi_ produksi Watchdog. Larangan itu keluar setelah salah satu narasumber, Yasinta Moenwen, warga Merauke, Papua Selatan, menyatakan kesaksiannya dalam film tersebut tidak sesuai dengan pernyataan asli yang ia sampaikan.

Yasinta Moenwen menyatakan kecewa karena merasa pernyataannya digunakan tanpa izin dan tidak sesuai konteks. Ia mengaku tidak menyetujui penyuntingan yang membuat kesaksiannya seolah menolak seluruh pembangunan di Papua Selatan.

“Saya tidak pernah mengatakan menolak pembangunan. Yang saya sampaikan adalah kekhawatiran soal dampak lingkungan dan pelibatan masyarakat adat,” ujar Yasinta dalam keterangan yang beredar, Senin 25 Mei 2026.

Baca Juga  Polri Mutasi 85 Perwira, Tiga Kapolda dan Sejumlah Pejabat Mabes Berganti

Pemerintah menilai film tersebut berpotensi menimbulkan keresahan dan memuat informasi yang tidak berimbang terkait proyek strategis nasional di Papua Selatan. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut keputusan pelarangan diambil untuk mencegah penyebaran narasi yang dinilai dapat mengganggu stabilitas sosial di wilayah tersebut.

Watchdog selaku rumah produksi belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan manipulasi dan penggunaan kesaksian tanpa izin. Pihak produksi sebelumnya menyatakan film itu dibuat untuk menyoroti dampak proyek pangan dan infrastruktur terhadap lingkungan serta ruang hidup masyarakat adat di Merauke.

Sorotan terhadap Sumber Pendanaan

Sejumlah pihak menyoroti sumber pendanaan Watchdog. Organisasi itu tercatat pernah menerima hibah dari jaringan filantropi internasional, termasuk Open Society Foundations yang didirikan George Soros.

Baca Juga  Guncangan Besar di Dunia Cellular! Pedagang Pulsa Menjerit, Kebijakan Provider Diduga Ancam Jutaan Mata Pencaharian

Penerima hibah menegaskan dana digunakan untuk program penguatan demokrasi, bantuan hukum, dan kebebasan pers, tanpa intervensi terhadap konten editorial. Namun kritikus khawatir pendanaan asing dapat memengaruhi arah advokasi organisasi lokal di Indonesia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Open Society Foundations maupun Watchdog terkait tudingan tersebut. Kementerian terkait menyatakan akan terus memantau penyebaran konten yang dinilai mengandung informasi menyesatkan.

Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan keterangan narasumber dan dokumen publik. Pihak Watchdog dan lembaga terkait memiliki hak jawab atas isi pemberitaan. (AYD)

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Viral! Atraksi Sembur Api Iringi Lagu Aceh Kuthiding di Johor Malaysia, Penonton Karnival Jom Heboh 1 November 2026 Histeris

INTERNASIONAL

Terseret Duel Veda Ega vs Hakim Danish, Alvaro Carpe Gagal Kejar Quiles di Sepang

HUKUM

Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tak Sah, Penggugat Desak Prabowo Usulkan 2 Nama Calon Wapres ke MPR

HUKUM

Kronologi Penggerebekan Ma’had Hamalatul Qur’an Sukoharjo, Santriwati Dibawa Dini Hari – Polisi: Pengembangan Kasus Pembakaran Warung

INTERNASIONAL

Veda Ega Pratama Kibarkan Merah Putih di Sepang, Start P8 Finish P2 Podium Terbaik Sepanjang Karir

EKONOMI & BISNIS

Pelindo Lhokseumawe Sosialisasikan Penyesuaian Tarif Layanan Kepelabuhanan 15 Persen

EDUKASI

BAZISMU Misbahul Ulum Salurkan Santunan Perdana bagi Santri Yatim Piatu

NASIONAL

CDA Soroti Penggambaran Sejarah Film Malahayati, Sutradara Tegaskan Karya Fiksi Sejarah