Home / BERITA / NASIONAL

Minggu, 13 September 2026 - 10:42 WIB

Ketua Sinode Baptis Papua: OAP Berasal dari Ras Melanesia dan Memiliki Identitas Budaya Papua

MEDIALITERASI.ID | JAYAPURA – Ketua Sinode Baptis Papua, Steven Yan Wenda, S.Th., M.Th., menilai pembahasan mengenai terminologi Orang Asli Papua (OAP) tidak perlu dipersulit. Menurut dia, OAP pada prinsipnya merujuk kepada penduduk asli Papua yang secara turun-temurun mendiami wilayah Papua dan memiliki karakteristik serta identitas sosial dan budaya masyarakat adat Papua.

Wenda mengatakan masyarakat asli Papua merupakan bagian dari ras Melanesia dan memiliki bahasa serta identitas lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat adat di berbagai wilayah Papua.

Pernyataan tersebut disampaikan Wenda saat menanggapi wacana mengenai pendefinisian dan pemaknaan OAP yang belakangan menjadi perhatian berbagai kalangan, khususnya masyarakat asli Papua.

Menurut Wenda, persoalan yang lebih mendesak bukan hanya mengenai terminologi OAP, melainkan bagaimana status kependudukan dan tata kelola kebijakan di Papua diterapkan. Hal itu, kata dia, penting agar kebijakan negara dan implementasi Otonomi Khusus (Otsus) benar-benar tepat sasaran, adil, proporsional, serta memberikan keberpihakan kepada masyarakat asli Papua.

“Orang asli Papua bukan sekadar istilah identitas. Status OAP berkaitan langsung dengan kebijakan afirmasi, perlindungan, pemberdayaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, aparatur sipil negara, representasi politik, perlindungan masyarakat adat, hingga pengelolaan dan pemanfaatan dana Otsus,” ujar Wenda.

Baca Juga  Ribuan Kades Se Indonesia Demo di DPR Tuntut Masa Jabatan 9 Tahun

Ia menilai perbedaan pemahaman mengenai definisi OAP tidak seharusnya berkembang menjadi persoalan yang justru mengaburkan substansi pelaksanaan Otsus.

Menurutnya, perhatian pemerintah semestinya diarahkan pada memastikan kebijakan afirmasi benar-benar diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat asli Papua, bukan berhenti pada persoalan administratif maupun perdebatan terminologi.

“Yang paling penting adalah bagaimana negara memastikan keberpihakan kepada orang asli Papua diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan hanya dalam rumusan terminologi,” katanya.

Soroti Lembaga Adat

Dalam kesempatan tersebut, Wenda juga menyoroti keberadaan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua.

Ia mengatakan Gereja Baptis Papua tidak memandang LMA sebagai lembaga adat yang merepresentasikan seluruh masyarakat adat Papua. Menurut dia, LMA merupakan organisasi kemasyarakatan yang kemunculannya relatif baru.

Sebaliknya, Wenda menyebut Gereja Baptis Papua mengakui Dewan Adat Papua sebagai wadah bersama masyarakat adat Papua.

Baca Juga  Prajurit Kostrad Perkenalkan Teknologi dan Informatika Kepada Anak - Anak Pedalaman Papua

Menurutnya, keberadaan lembaga adat harus berpijak pada sejarah, identitas, struktur sosial, serta kehendak masyarakat adat Papua sendiri. Ia menilai lembaga adat tidak semestinya hanya dibentuk berdasarkan kebijakan atau kepentingan politik pemerintah pusat.

Evaluasi Definisi OAP

Wenda juga menyinggung rapat yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta pada Kamis (10/9/2026) dalam rangka asistensi dan supervisi implementasi kewenangan khusus Papua.

Menurut informasi yang disampaikannya, rapat tersebut membahas penyamaan persepsi mengenai pendefinisian dan pemaknaan OAP di enam provinsi di wilayah Papua dengan merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2021 tentang Kewenangan dan Kelembagaan Pelaksanaan Kebijakan Otonomi Khusus Provinsi Papua.

Wenda berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat adat, gereja, lembaga adat, serta berbagai elemen representatif masyarakat Papua dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan keberadaan dan masa depan OAP. (Rex Sapau)

Share :

Baca Juga

BERITA

Polda Metro Jaya Siagakan 17.800 Personel Amankan Laga Persija–Persib di GBK

BERITA

Jaga Iklim Usaha, Kapolri Perintahkan Jajaran Tindak Pungli dan Premanisme

BERITA

Menag Apresiasi Panggung Gembira Santri Misbahul Ulum di Lhokseumawe

BERITA

Gugatan PTUN Masih Berproses, Petani Laoli Layangkan Delapan Desakan ke Bupati Luwu Timur
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 1.001 cup sanger dibagikan gratis kepada pengunjung selama festival budaya Sanger Day Fest 2026 yang berlangsung di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, pada 11–14 September 2026. Festival ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.

BERITA

1.001 Sanger Gratis Dibagikan Selama Sanger Day Fest 2026

BERANDA

Polisi Bongkar 3 “Sarang” Peredaran Narkoba di Kota Batam, Jaringan Libatkan Kasir hingga Ladies Companion

BERITA

Batam Jadi Jalur Panas Peredaran Narkoba: Dari Lokasi Strategis Hingga Jaringan THM yang Beroperasi Sejak 2018

BERANDA

Nasabah Protes Keras: Restrukturisasi Polis Jiwasraya oleh IFG Dinilai “Merampas Masa Depan”, Dana Beasiswa Pendidikan Lenyap