![]()
Oleh :
Heni Ekawati, S.Pd., M.Pd
Kepsek dan Guru pada SLB YAPDI Banda Aceh.
Mahasiswi Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, SPs, Universitas Syiah Kuala Universitas Syiah Kuala.
MEDIALITERASI.ID | OPINI – Tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tahun 2026 ini, Indonesia memasuki peringatan Kebangkitan Nasional ke-118. Namun pertanyaan paling mendasar yang patut diajukan adalah : benarkah bangsa ini sedang bangkit? Ataukah kita hanya sibuk memperingati sejarah tanpa sungguh-sungguh memahami makna kebangkitan itu sendiri?
Kita hidup di tengah paradoks zaman. Teknologi berkembang luar biasa cepat, tetapi empati sosial justru mengalami kemunduran. Pendidikan semakin modern, tetapi karakter generasi muda semakin rapuh. Anak-anak semakin dekat dengan layar, namun semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Bangsa ini tampak maju secara fisik, tetapi mengalami kelelahan moral yang serius.
*Dalam konteks itulah, Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan penuh pidato formal dan slogan kosong.* Kebangkitan sejati harus dimulai dari kesadaran untuk membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berempati, dan memiliki keberanian moral menghadapi zaman yang semakin kehilangan arah.
Sebagai guru pada pendidikan anak berkebutuhan khusus di TK SLB Kota Banda Aceh, *saya melihat langsung bagaimana pendidikan bukan hanya soal kemampuan akademik, melainkan perjuangan memanusiakan manusia. Anak-anak berkebutuhan khusus mengajarkan satu hal yang sering dilupakan masyarakat modern : bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, status sosial, ataupun kecanggihan teknologi, tetapi oleh hati, perhatian, dan penghargaan terhadap sesama.
Ironisnya, masyarakat hari ini justru semakin mudah menghina, membully, merendahkan, dan menghakimi orang lain di ruang publik maupun media sosial. Kita hidup dalam budaya yang sering kali lebih menghargai pencitraan dibanding ketulusan. Inilah krisis besar generasi kita: krisis empati.
Sosiolog Jerman, Jürgen Habermas, pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern menghadapi ancaman “krisis komunikasi”, ketika ruang publik kehilangan rasionalitas dan dipenuhi kebisingan emosional. Fenomena itu kini nyata di Indonesia. Diskusi publik berubah menjadi arena caci maki. Pendidikan kehilangan kedalaman filosofis karena terlalu sibuk mengejar angka, ranking, dan formalitas administratif.
Di sisi lain, teori social learning dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar melalui contoh sosial di sekitarnya. Persoalannya, apa yang sedang dicontohkan kepada generasi muda hari ini? Mereka menyaksikan korupsi yang dipertontonkan, elit yang gemar bertengkar, ujaran kebencian yang dinormalisasi, dan budaya instan yang mengikis etos kerja. Dalam situasi seperti itu, pendidikan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat daripada sekadar mengajarkan membaca dan berhitung.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi oleh kualitas manusianya. Jalan raya dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi membangun karakter generasi membutuhkan kesabaran lintas generasi.*
Aceh sendiri memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat untuk melahirkan kebangkitan baru. Nilai gotong royong, penghormatan kepada guru, budaya musyawarah, dan identitas religius merupakan fondasi penting yang mulai terkikis oleh individualisme modern. Kita sedang menghadapi situasi ketika anak-anak lebih mengenal tokoh media sosial dibanding mengenal sejarah bangsanya sendiri. Mereka hafal tren digital, tetapi kehilangan akar budaya dan identitas moral.
Karena itu, pendidikan harus kembali menjadi gerakan peradaban. Guru tidak boleh hanya menjadi pengajar kurikulum, tetapi harus menjadi penjaga nurani bangsa. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang membangun akhlak, empati, toleransi, dan keberanian berpikir kritis.
Filsuf pendidikan Brasil, Paulo Freire, menyebut pendidikan sebagai proses pembebasan manusia dari ketidakadilan dan kesadaran palsu. Dalam konteks Indonesia hari ini, pendidikan harus membebaskan generasi muda dari mental pasif, budaya takut, serta kebiasaan menerima kebohongan sebagai sesuatu yang normal.
Kebangkitan nasional abad ini bukan lagi sekadar melawan penjajah fisik, tetapi melawan kemiskinan moral, krisis keteladanan, ketidakadilan sosial, dan degradasi kemanusiaan. Musuh terbesar bangsa ini hari ini bukan hanya kebodohan, tetapi hilangnya kepekaan sosial.
Maka, generasi muda Indonesia harus dibangkitkan dengan tiga kekuatan utama: literasi, empati, dan keberanian moral. Literasi tanpa empati akan melahirkan manusia cerdas tetapi dingin. Empati tanpa keberanian hanya menghasilkan simpati tanpa tindakan. Sedangkan keberanian tanpa moral dapat berubah menjadi kekuasaan yang menindas.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 semestinya menjadi alarm besar bagi bangsa ini: bahwa membangun Indonesia tidak cukup dengan slogan optimisme, tetapi membutuhkan keberanian untuk memperbaiki kualitas manusia dan sistem pendidikan secara serius.
Sebab sebuah bangsa tidak akan runtuh hanya karena kemiskinan ekonomi. Bangsa runtuh ketika generasinya kehilangan nurani, kehilangan rasa malu, dan kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Dan dari ruang-ruang kelas sederhana, dari sekolah-sekolah kecil, dari tangan para guru yang sering dilupakan, sesungguhnya kebangkitan bangsa itu sedang diperjuangkan setiap hari.
Kota Banda Aceh, 20 Mei 2026







