Oleh : Juni Ahyar, M.Pd. Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa
OPINI – Belakangan ini, semakin banyak guru mengeluhkan hal yang sama: sekolah seolah dituntut menyelesaikan seluruh persoalan anak sendirian. Guru tidak hanya diminta mengajar mata pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, mengawasi perilaku, menyelesaikan persoalan psikologis siswa, hingga menghadapi dampak kecanduan gawai dan media sosial.
Di sisi lain, banyak orang tua merasa pendidikan anak sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab sekolah. Padahal di rumah, anak justru menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga dan lingkungan sosialnya.
Situasi ini memperlihatkan satu persoalan besar: kerja sama antara rumah, sekolah, dan lingkungan perlahan melemah.
Padahal sejak dahulu pendidikan anak tidak pernah berdiri hanya di satu ruang. Sekolah memang tempat belajar formal, tetapi rumah tetap menjadi ruang pertama pembentukan karakter, kebiasaan, disiplin, dan nilai kehidupan.
Anak mungkin belajar matematika di kelas, tetapi kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, cara menggunakan teknologi, hingga kebiasaan menghargai waktu pertama kali dipelajari di rumah. Karena itu, ketika sekolah diminta menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan sendirian, sebenarnya sekolah sedang dibebani tugas yang melampaui kapasitasnya.
Masalahnya, perubahan sosial hari ini membuat pola pengasuhan keluarga juga ikut berubah. Banyak orang tua harus bekerja lebih lama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak sedikit yang pulang dalam keadaan lelah sehingga waktu berinteraksi dengan anak menjadi semakin terbatas.
Di era digital, tantangan itu semakin besar. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan penggunaan internet pada kelompok usia anak dan remaja terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar aktivitas digital anak digunakan untuk hiburan dan media sosial, sementara literasi digital keluarga belum tumbuh secara merata.
Akibatnya, banyak keluarga sebenarnya hadir secara fisik di rumah, tetapi tidak benar-benar hadir dalam proses pendidikan anak. Anak sibuk dengan gawainya, orang tua sibuk dengan pekerjaannya, dan komunikasi keluarga perlahan semakin renggang.
Dalam kondisi seperti ini, guru sering berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi, guru dituntut meningkatkan kualitas pembelajaran dan membangun karakter siswa. Namun di sisi lain, ruang gerak guru dalam mendisiplinkan siswa juga semakin terbatas karena kekhawatiran dianggap melanggar aturan perlindungan anak.
Tidak sedikit guru akhirnya memilih lebih berhati-hati atau bahkan pasif ketika menghadapi pelanggaran disiplin di sekolah. Fenomena ini terlihat dalam berbagai kasus ketika tindakan pendisiplinan justru berujung pada konflik dengan orang tua atau menjadi viral di media sosial.
Tentu perlindungan terhadap hak anak tetap penting. Namun sekolah juga membutuhkan sistem pendisiplinan yang edukatif, jelas, dan disepakati bersama agar pembentukan karakter tetap berjalan sehat.
Karena itu, persoalan pendidikan hari ini tidak bisa disederhanakan hanya dengan menyalahkan guru, orang tua, atau siswa semata. Yang sedang terjadi sesungguhnya adalah perubahan sosial besar dalam pola kehidupan masyarakat.
Dulu lingkungan sosial memiliki kontrol yang lebih kuat. Ketika ada anak bolos sekolah atau melakukan pelanggaran, masyarakat sekitar ikut menegur. Hari ini budaya saling mengingatkan mulai melemah karena banyak orang takut dianggap mencampuri urusan pribadi.
Namun tentu saja, perubahan zaman tidak berarti masa lalu sepenuhnya lebih baik. Dulu pendidikan juga memiliki banyak keterbatasan, mulai dari akses belajar yang belum merata, pola disiplin yang kadang terlalu keras, hingga minimnya ruang dialog antara anak dan orang tua.
Karena itu, tantangan pendidikan hari ini bukan sekadar mengembalikan cara lama, melainkan membangun pola kerja sama baru yang relevan dengan kondisi zaman sekarang. Yang dibutuhkan bukan nostalgia, tetapi adaptasi.
Sekolah dan keluarga perlu membangun komunikasi yang lebih sehat dan realistis. Orang tua tidak harus menguasai seluruh mata pelajaran untuk mendampingi anak belajar. Hal sederhana seperti memastikan anak memiliki jadwal belajar, memeriksa tugas sekolah, membatasi penggunaan gawai, atau sekadar bertanya tentang aktivitas anak di sekolah sudah menjadi bentuk keterlibatan yang sangat penting.
Sebaliknya, sekolah juga perlu memahami bahwa tidak semua keluarga memiliki kondisi sosial dan ekonomi yang sama. Ada orang tua yang bekerja hingga malam, ada pekerja harian dengan waktu tidak menentu, dan ada keluarga yang sedang menghadapi tekanan ekonomi berat sehingga tidak selalu mampu mendampingi anak secara optimal.
Karena itu, pendekatan pendidikan tidak bisa dibangun dengan saling menyalahkan, tetapi dengan saling memahami.
Pemerintah dan sekolah juga perlu menghadirkan langkah yang lebih konkret. Program parenting di sekolah misalnya, tidak cukup hanya bersifat seremonial, tetapi harus menjadi ruang diskusi rutin tentang pola pengasuhan anak di era digital. Sekolah juga perlu menyediakan panduan pendampingan belajar sederhana bagi orang tua, memperkuat layanan konseling siswa, serta membangun komunikasi aktif dengan keluarga, bukan hanya ketika anak bermasalah.
Selain itu, beban administratif guru juga perlu dikurangi agar guru memiliki lebih banyak waktu mendampingi siswa secara langsung. Pendidikan karakter pun tidak bisa dibebankan hanya kepada guru agama atau wali kelas semata. Seluruh ekosistem pendidikan harus terlibat, termasuk lingkungan masyarakat, media sosial, hingga kebijakan publik yang ramah terhadap tumbuh kembang anak.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar urusan nilai rapor atau kelulusan sekolah. Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia.
Dan proses sebesar itu tidak mungkin berhasil jika rumah, sekolah, dan lingkungan berjalan sendiri-sendiri.
Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang saling menyalahkan. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau bekerja sama untuk mendampingi tumbuhnya.
Sebab sekolah bisa mengajar, tetapi hanya kerja sama rumah, sekolah, dan masyarakat yang dapat membesarkan manusia.







