FEATURE – Kande atau lebih dikenal dengan sebutan Panyoet (lampu tradisional khas Aceh yang terbuat dari kuningan) kini menjadi salah satu koleksi berharga di Museum Islam Samudera Pasai, Kabupaten Aceh Utara. Lampu ini pada masanya digunakan sebagai alat penerang ruangan, dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
Keunikan panyoet terletak pada jumlah mata atau sumbu api yang dimiliki. Sebutan panyoet tujuh mata muncul karena lampu tersebut memiliki tujuh sumbu api yang menyala bersamaan. Selain itu, museum juga menyimpan panyoet culot dengan satu sumbu api, serta panyeut lhe mata dengan tiga sumbu api.
Kehadiran panyoet bukan sekadar benda penerang, melainkan menyimpan nilai sejarah dan filosofi tersendiri. Pada masa kerajaan Samudera Pasai, panyoet digunakan dalam berbagai kegiatan penting, termasuk penerangan di meunasah, rumah raja, hingga acara keagamaan.
Akademisi dan Konsultan Hukum, Dr. Bukhari, M.H., CM, menilai keberadaan panyoet di museum merupakan simbol penting yang menghubungkan masyarakat Aceh dengan warisan peradaban Islam di Nusantara.
Panyoet tujuh mata bukan sekadar alat penerang, melainkan simbol cahaya ilmu dan agama yang dahulu berkembang di Samudera Pasai. Dengan menyimpan dan merawat peninggalan seperti ini, kita bisa melihat bagaimana Islam hadir dalam keseharian masyarakat Aceh sejak ratusan tahun lalu,” ungkap Dr. Bukhari, Rabu(20/8/2025).
Ia menambahkan, keberadaan panyoet juga dapat menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda.
Generasi sekarang perlu memahami bahwa benda sederhana seperti panyoet punya makna besar. Ia adalah saksi bagaimana peradaban Islam tumbuh di negeri kita. Karena itu, museum harus terus dilestarikan sebagai ruang pembelajaran sejarah dan identitas Aceh, pungkasnya.
Dengan nilai historis yang dimilikinya, panyeut di Museum Islam Samudera Pasai menjadi bukti bahwa Aceh bukan hanya kaya akan tradisi, tetapi juga memiliki warisan peradaban yang berperan dalam penyebaran Islam di Nusantara. (**)







