Home / OPINI

Senin, 11 September 2023 - 07:37 WIB

HARGAILAH WAKTU, JANGAN DIHABISKAN HANYA UNTUK BERDEBAT DAN BERMUSUHAN

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh

BIASANYA Orang bijak selalu bilang, waktu itu seperti air yang mengalir. Dia hanya sekali menyentuh dan melewati suatu permukaan, setelah itu dia akan berlalu, berjalan untuk menyentuh permukaan lainnya. Seperti air mengalir, waktu hanya datang sekali dalam setiap episode kehidupan, setelah itu akan lewat dan berlalu meninggalkan kekinian menuju masa depan. Tak ada yang bisa menghentikannya, dia akan terus berjalan menuju garis takdir kehidupan tanpa mempedulikan siapapun. Maka jadilah insan yang cerdas dan kuat dalam melawan arus dan derasnya air mengalir, dan hanya ikan mati yang selalu di bawa air dan kalah dalam melawan arus.

Lihatlah, sebongkah batu tak pernah peduli pada air yang melewati dan menyentuh permukaannya. Air itu dibiarkan berlalu begitu saja, menempel sebentar dan membuat permukaan jadi basah. Ya … hanya di permukaan … Ketika air berlalu maka permukaan batu itu akan kembali kering, tanpa bekas apapun. Berbeda dengan batu, pohon tidak pernah membiarkan aliran air yang menyentuhnya berlalu begitu saja. Air yang mengalir dan menyentuhnya akan dimasukkan dalam pori-pori, diserap oleh akar dialirkan dalam batang, ranting dan daun. Diproses dan dimasak untuk pertumbuhan dirinya, hingga menjadi daun yang rimbun dan buah yang bermanfaat untuk kehidupan.

Inilah ayat kauniyah yang bisa menjadi cermin bagi kehidupan. Jika waktu ibarat air, maka sikap manusia terhadap waktu bisa diibaratkan batu dan pohon. Manusia yang bijak, cerdas dan alim tak akan pernah membiarkan waktu berlalu dan menyia-nyiakan kenyataan yang ada begitu saja. Dia akan menyerap setiap waktu yang menghampirinya, memanfaatkan sebaik mungkin untuk mengembangkan diri agar kehidupannya bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan bukan manusia yang dimanfaatkan oleh orang lain.

Baca Juga  OPINI : Mengaku Wartawan Ternyata Sopir

Berbeda dengan manusia bandel dan dungu yang menyia-nyiakan waktu dan kenyataan berlalu begitu saja. Orang seperti ini tak pernah bisa menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu yang menghampiri kehidupannya hanya sekadar digunakan untuk membasahi permukaan hidup, penyejuk fisik semata. Tak ada yang masuk dalam hati, jiwa dan rohaninya, sehingga perjalanan hidup akan berlalu begitu saja, lenyap seiring perjalanan waktu. Mereka ini seperti batu yang membiarkan air mengalir yang menyentuh permukaannya.

Sebagaimana halnya air yang membawa zat-zat yang berguna bagi kehidupan dalam setiap aliran yang menyentuh batu dan pepohonan, waktu yang menghampiri kita juga membawa kenyataan yang sarat dengan berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tapi kemanfaatan itu hanya bisa diserap dan diambil oleh mereka yang memiliki kepekaan membaca kenyataan yang datang bersama waktu.

Jelas di sini terlihat, waktu yang datang menghampiri setiap episode kehidupan memiliki makna dan nilai yang amat penting dan berharga, sehingga manusia akan merugi jika menyia-nyiakannya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi : “dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari). Hadits ini mensyiratkan orang yang menyia-nyiakan waktu hingga berlalu begitu saja, sama dengan menyia-nyiakan nikmat Allah Azza Wajalla yang hadir menghampirinya. Oleh karena itu, jangan pernah habiskan waktu hanya untuk berdebat dan bermusuhan dalam menjalani hidup ini …

Baca Juga  MAHFUD BAKAL "KEOK" LAWAN DENNY ?

Para ulama banyak yang menganggap bahwa waktu merupakan nikmat Allah yang tak dapat dinilai dengan apapun. Bahkan Imam Hasan Basri pernah menyatakan; “saya melihat ada segolongan manusia yang memberi perhatian pada waktu melebihi perhatiannya terhadap dinar dan dirham …”.

Inilah orang yang tidak menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja, mereka memanfaatkan dan menggunakan waktu yang menghampirinya seperti pohon menyerap air yang mengalir menyentuh permukaannya. Datang dan perginya waktu adalah hukum besi kehidupan. Manusia tak dapat meratapi dan menahan kepergiannya juga tak akan memiliki kemampuan menolak dan menghindari kehadirannya.

Saatnya kita merenung, seberapa besar bisa memanfaatkan waktu yang telah menghampiri kita. Apakah kita termasuk orang yang bisa menyerap dan memanfaatkan keberadaan waktu yang telah datang menghampiri, seperti pohon menyerap air mengalir yang menyentuhnya? Atau jangan-jangan kita tergolong orang yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja? Seperti seonggok batu yang membiarkan air mengalir menyentuh permukaanya, basah sebentar kemudian kering kembali. Tanpa bekas dan tanpa makna… Camkanlah …

[Pajok Gampong, Atjeh Rayek, Awal September 2023]

Share :

Baca Juga

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026

HUKUM

Ketika Keadilan Dipertanyakan: Antara Hukum, Integritas, dan Harapan Publik

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran