![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh
Pengantar.
Semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan kita semangat untuk berbuat yang terbaik bagi umat dan bangsa kita tercinta. Tulisan ini merupakan sebuah pengamalan pribadi saya, saat mengikuti sebuah “Seminar Nasional Tentang Bahasa dan Budaya” di Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu. Tapi saya pikir, masih layak untuk dipublish di media ini, semoga dapat memberikan inspirasi bagi siapa saja, yang mendambakan bangsa ini hidup bermartabat dalam Ridha Allah SWT. Amiiinn Ya Rabbal Alamin.
————
Tak dapat dipungkiri bahwa, di setiap masyarakat penutur bahasa, selalu ada ungkapan lokal atau prokem lokal yang disebut slank. Makna kata atau ungkapan yang tergolong prokem atau slank sering tidak ditemukan di dalam kamus, sehingga orang lain yang bukan penutur asli bahasa itu mengalami kesulitan memahami maknanya. Dalam bahasa Jawa, misalnya, terdapat banyak prokem, seperti weleh-weleh, ndasmu, dengkulmu, gombal dan sebagainya. Bagi yang bukan penutur bahasa Jawa, apalagi orang asing, kata-kata itu sangat sulit dipahami maknanya. Suatu ketika dalam sebuah acara seminar, saya bertemu dengan seorang teman saya orang asing, sebut saja Mr. Arnold, yang sudah hampir dua tahun tinggal di Yogyakarta.
Mr. Arnold yang sudah mulai fasih berbahasa Indonesia ini bingung bukan kepalang setiap mendengar kata “gombal” yang diucapkan orang di sekelilingnya. Dibanding dengan orang asing (baca:: Barat) pada umumnya, Mr. Arnold ini memang tergolong agak pemalu, mungkin karena ia tinggal di Yogyakarta – yang budaya Jawa lebih kental, sehingga ia lebih suka berusaha sendiri mencari makna kata yang ia tidak mengerti maknanya melalui kamus ketimbang bertanya kepada seorang kawan atau kolega. Mengapa ia lebih suka mencari sendiri makna kata? Sebab, menurutnya, ketika baru saja tiba di Indonesia, ia pernah ditipu oleh seorang kawan kenalan barunya ketika ia bertanya apa makna kata “gendheng” (gila), atau “pungo” dalam bahasa Aceh.
Si kawannya yang usil itu, menerangkan bahwa “gendheng” adalah ungkapan santun yang mesti diucapkan kepada setiap orang yang lebih tua dan dihormati. Kata gendheng digolongkan sama maknanya dengan kata baik dan bagus. Apalagi bagi orang asing yang baru saja tiba di Indonesia, kata gendheng itu wajib diucapkan kepada setiap orang yang ditemui. Mr. Arnold yang polos itu menuruti saja anjuran kawan yang ber-etnis Jawa itu. Suatu saat, Mr. Arnold hampir ditempeleng oleh seorang penarik becak karena mengatakan “Terimakasih. Kamu gendheng sekali Pak”. Untung si penarik becak segera menyadari bahwa Mr. Arnold bukan orang Jawa. Sejak saat itu, ia tidak pernah bertanya lagi kepada orang lain makna kata yang ia tidak mengerti.
Pertemuan saya dengan Mr. Arnold membuktikan sikapnya yang tidak mau bertanya kepada orang lain mengenai arti sebuah ungkapan atau kata yang baginya asing. Dalam obrolan ringan sambil menunggu kedatangan seorang pembicara sebuah seminar pada waktu di Yogyakarta, kata gombal muncul beberapa kali. Mr. Arnold itu pun mencatat tidak kurang dari 20 kali kata gombal itu diucapkan oleh peserta obrolan. Merasa semakin penasaran apa makna kata gombal, Mr. Arnold minta izin keluar dari forum obrolan itu dan menuju perpustakaan universitas yang kebetulan hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat mengobrol.
Saya bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Mr. Arnold. Ia menuju rak tempat kamus dan ensiklopedi disimpan untuk membuka kamus dan mencari makna kata gombal. Ketika berada di depan rak kamus dan ensiklopedi, seorang petugas terlihat menghampirinya. Petugas perpustakaan dengan ramah menyapa dan bertanya apa yang dapat ia bantu. Mr. Arnold menjawab bahwa ia perlu kamus bahasa Jawa yang letaknya memang agak jauh dari kamus bahasa Indonesia. Dengan terkejut, Mr. Arnold menemukan kata gombal di dalam kamus tersebut. Tetapi, dia terheran-heran setelah membaca makna kata itu. Gombal diartikan sebagai “kain lusuh atau lama yang tidak lagi terpakai dan biasanya untuk alat bersih-bersih”. Mr. Arnold tampak semakin bingung, sebenarnya apa relevansi makna kata itu dengan konteks obrolan kawan-kawannya tadi atau yang sering diucapkan oleh orang Indonesia, terutama orang Jawa.
Saya waktu menempuh Pendidikan Doktor, Sebagai orang yang kebetulan suka mengkaji fenomena kebahasaan dan bermaksud menolong teman asing ini saya menjelaskan arti kata gombal tersebut. Seperti layaknya saya sedang menjelaskan salah satu materi atau pokok bahasan dalam matakuliah sosiolinguistik, yakni slank, idiom, dan jargon serta register, saya mengawali penjelasan dengan mengatakan bahwa di setiap masyarakat penutur bahasa (speech community) selalu ada ungkapan bernilai lokal kultural yang maknanya sering jauh dari makna literal, sebagaimana yang tertulis di kamus. Dalam masyarakat modern yang berpenutur bahasa Inggris pun juga terdapat slank, jargon dan sejenisnya. Karena makna kata atau ungkapan pada hakikatnya adalah hasil konvensi di antara anggota masyarakat penuturnya, maka setiap anggota penutur bahasa juga berhak menciptakan istilah, jargon atau ungkapan tertentu sesuai kemauan mereka sendiri untuk kepentingan komunikasi di antara mereka, termasuk kata gombal itu.
Mr. Arnold tampak termangu-mangu dengan penjelasan saya itu dan sepertinya tidak sabar menanti jawaban apa arti kata gombal itu. Dalam masyarakat Jawa, kata gombal dipakai sebagai ungkapan penyeru simpulan atau penilaian atas suatu mutu pembicaraan, barang, kinerja, karya dan sebagainya yang dipandang tidak berkualitas, tidak bermutu atau lembek yang tidak sesuai dengan harapan. Karena itu, kalau ada orang yang kinerja, prestasi dan karyanya tidak bagus bisa dikatakan pula bahwa kinerja, prestasi dan karyanya gombal. Kalau kita masuk rumah makan yang kelihatannya bagus dan ternyata menu makanannya tidak enak, apalagi harganya tinggi, kita juga dapat menyebutnya sebagai “rumah makan gombal”.
Dalam lingkungan kampus, kalau ada mahasiswa yang sikap dan pembicaraannya tidak berkualitas atau tidak bermutu bisa juga dikatakan sebagai gombal. Kalau ada mahasiswa yang indeks prestasinya (IP)-nya 0, 67 karena semua matakuliah yang di-program tidak lulus kecuali satu matakuliah dan itupun nilainya C (belakangan disadari oleh dosennya bahwa nilai C itu pun karena keliru memasukkannya karena sambil mengantuk saat menuliskan nilai), maka mahasiswa ini pun juga bisa disebut sebagai gombal kendati sehari-hari berpakaian necis, rapi dengan celana jean dan sepatu berkualitas. Mungkin mahasiswa demikian lebih gombal ketimbang gombal sehingga menjadi gombal suwek. Sudah gombal dan robek lagi sehingga tidak ada artinya sama sekali.
Tak terkecuali dosen, lanjut saya, Kendati telah berpendidikan tinggi dan beberapa gelar akademik berjejer di depan dan belakang namanya, seorang dosen bisa saja disebut sebagai …………(wah saya tidak berani menyebutnya, he…he), jika ia tidak memiliki komitmen dan integritas akademik tinggi yang ditunjukkan dengan karya atau tulisan-tulisan ilmiahnya milik sendiri, tidak hanya nongol namanya di karya ilmiah milik orang lain. Begitu juga tentang reputasi, kinerjanya yang dibuktikan dengan keseriusan dalam memberi kuliah dan membimbing mahasiswanya. Maaf, kadang-kadang ada juga dosen kita, kalau ditugaskan untuk mengajar sering malas, lupa, pura-pura tidak sehat, dan bahkan seringkali menciptakan suatu kondisi seakan-akan dia sibuk banget dihadapan mahasiswa. Bagaikan dia seorang selebritis terlaris di dunia saja…!!!
Padahal, dalam kenyataannya, memang dia tidak pernah siap untuk mengajar, karena tidak pernah lagi membaca buku-buku yang up to date. Masuk kelas hanya bawa kertas dan mengajar hanya beberapa menit, lalu “menghilang”. Wow……tidak semua dosen kita juga begitu. Hhmmm…. Dosen semacam ini, biasanya sudah krisis intelektual, dan anehnya dia selalu mengejar jabatan-jabatan struktural dan administratif di kampusnya atau di birokrasi dengan memanfaatkan kelompok atau ahli family sendiri, yang itu dapat dianggap sebagai sumber pendapatan. Karena menurutnya, pada jabatan administratif atau struktural tidak dibutuhkan kecerdasan otak dalam mengeluarkan pendapat, tetapi selalu mendapatkan pendapatan yang berlipat-lipat. Di luar sana Tak butuh kecerdasan, dan nilai akademis tetapi hanya butuh “pendukung” atau jiwa “pengemis”.
LIHATLAH, di sekelling kita, berapa hari dari 22 atau 24 hari kerja dalam sebulan para pimpinan/pejabat yang stand by di ruang kerjanya atau di kantor untuk melayani rakyatnya …? Hhmmm…. Bukankah Mereka lebih banyak disibukkan dengan urusan pribadi dan keluarga dibandingkan dengan urusan dinas?. Jika ini terjadi sungguh menyedihkan nasib bangsa ini, pemimpinnya telah memanfaatkan jabatan publik dan fasilitas negara, tetapi untuk mengejar kepentingan pribadinya. Semoga saja kondisi seperti ini tidak pernah terjadi di lembaga dan daerah yang kita cintai. Mari kita instrospeksi diri.
Tentu saja kita berbahagia, karena masih cukup banyak juga para pemimpin dan dosen kita yang berkualitas, dan memiliki semangat mengajar anak didiknya dalam mengabdi tanpa pamrih, meski mereka tak pernah mendapatkan pengakuan dan bahkan yang sering diterima justru hujatann, fitnah murahan dari orang-orang biadab … Astargfirullahal Adhiem. “Wah demikian ya makna kata gombal ya Pak TM”, kata Mr. Arnold sambil memegang kamus yang di dalamnya tidak ada penjelasan yang lengkap atas makna kata gombal itu. Saya jawab Iya, Iya… Dan, karena itu mesti hati-hati mengartikan arti kata.
“Terus, bagaimana awal mula kata gombal itu dipakai dan siapa yang mengawali menggunakannya Pak? tanya Mr. Arnold. Nah, kali ini saya sangat bingung menjawabnya, apalagi saya bukan orang Jawa. Tapi tak apa. Sebab, pertanyaaan kapan dan di mana sebuah kata atau ungkapan mulai digunakan dan siapa penggunanya merupakan salah satu pertanyaan sulit dalam ilmu kebahasaan atau linguistik. Ini memerlukan penelitian filologis yang lumayan sulit.
Namun demikian, agar tidak mengecewakannya, saya jawab begini. “Seingat saya, sejak kecil saya sudah sering mendengar kata gombal baik di lingkungan keluarga, masyarakat atau bahkan sekolah”. Kebetulan waktu itu saya tinggal di sebuah perkampungan yang banyak warga trasmigrasi, umumnya mereka itu orang Jawa. Di keluarga, nenek saya, maklum saya memang diasuh nenek sejak kecil karena keburu punya adik lagi, yang dalam masyarakat Jawa disebut kesundulan, nenek saya sering mengatakan saya ini gombal ketika saya merumput (Jawa: ngarit), potong rumput (Aceh : koh naleung) setengah hari hanya memperoleh setengah keranjang karena saya selalu kalah main balangan (melempar sabit ke batas sawah atau galengan) karena melesat terlalu jauh sehingga rumput saya diambil oleh yang menang. Maklum, saya memang paling kecil di antara teman-teman sepermainan pada waktu itu, sehingga saya sering menjadi bahan gunjingan, permainan dan bahan mainan mereka.
Di sekolah saya juga pernah dikatakan gombal oleh guru olahraga karena tim kasti saya kalah telak dengan tim kasti sekolah desa tetangga. Yang mengherankan waktu itu kekalahan akibat hasil kerja tim yang tidak kompak dan lawan memang tangguh, yang dimarahi dan dikatakan gombal hanya saya sendiri. Padahal, saya bukan ketua tim. Kepada ketua tim, guru saya justru memberi semangat dengan mengatakan ”Gak apa-apa sekarang kalah, tetapi lain kali tidak boleh ya”. Karena itu, dalam hati saya mengatakan guru saya ini guru gombal, karena selalu pilih kasih.
Tetapi, Mr. Arnold, lanjut saya, di Indonesia ini memang banyak gombal. Dalam dunia pendidikan, ada orang memperoleh gelar doktor dan bahkan profesor hanya dalam waktu beberapa bulan dengan membayar beberapa juta rupiah. Lebih fatal lagi mereka tak pernah sekolah atau bukan juga tenaga pendidik di Kampus, tetapi para politisi yang sedang atau pernah berkuasa. Anehnya, peminat praktik gombal ini bukan dari golongan masyarakat awam, tapi anggota masyarakat terdidik dan bahkan para pejabat penting di negeri ini.
Tanpa merasa malu apalagi salah, usai diwisuda, pengukuhan di hotel dan tempat-tempat rekreasi, peserta langsung memasang gelar di depan atau belakang namanya. Beberapa di antaranya menggunakannya untuk kepentingan politik. Mr. Arnod juga mengangguk-angguk dengan penjelasan saya ini. Mr. Arnold bahkan menambahkan ‘Iya ya, saya tadi membaca koran lokal. Ada orang korupsi milyaran dan bahkan trilyunan rupiah dengan enaknya berpesiar di luar negeri dan bahkan dapat menemui presiden di Istana Negara dengan aman.
Tetapi, seorang pencuri seekor ayam untuk membayar SPP anaknya dan tertangkap basah pemiliknya dihajar sampai babak belur dan dibawa ke kantor polisi. Kasihan ya Pak TM” lanjut Mr. Arnold lagi. Sambil tersipu malu, saya menjawab”, Ya, memang praktik hukum di negeri ini masih gombal Pak. Katanya Ada perbaikan dari periode pemerintahan sebelumnya, tetapi belum signifikan. Namun menurut saya, malah semakin buruk. Ke depan, entahlah…..! Wallahu ‘Aklam.
Berbeda dengan di negeri anda yang sudah mapan, jawab saya, sambil menghibur diri. Setelah itu obrolan dengan Mr. Arnold berhenti karena pembicara seminar yang ditunggu telah datang dan Mr. Arnold belum sempat merespons pernyataan saya. Sambil bergegas masuk ruang seminar, dalam batin saya berpikir obrolan dengan Mr. Arnold akan saya tulis dalam kolom Warta Kampus tempat saya mengabdi. Sebelum saya kirim ke Redaksi Warta Kampus, seorang kawan sempat membaca tulisan saya ini dan berujar, ”tentang ucapan lokal dan gombal saja kok ditulis seperti ini Pak TM”! Saya sambil tersenyum dan berlalu. Mungkin ya juga…. he…he.. KARENA itu, tidak jadi saya kirimkan ke Warta Kampus, Makanya saya kirimkan ke MediaLiterasi ini agar bisa dinikmati oleh banyak pembaca yang baik hati dan bijak. Semoga bermanfaat.
Pojok Kantin Kampus UGM.







