MEDIALITERASI.ID | SABANG – Angin laut berembus pelan di pelabuhan Sabang. Di ujung barat Indonesia itu, ombak masih setia memecah bibir pantai, sementara kapal-kapal datang dan pergi membawa cerita tentang masa lalu yang pernah gemilang. Bagi banyak orang Aceh, Sabang bukan sekadar kota kecil di pulau terluar. Kota ini adalah simbol harapan, jejak sejarah, dan kemungkinan masa depan.
Di tengah semangat membangun kembali kejayaan Aceh, Irwansyah atau yang akrab disapa Syech Wan, Putra Sabang yang mengingatkan bahwa kebangkitan daerah tidak bisa dilepaskan dari peran strategis Sabang. Menurutnya, kota pelabuhan itu pernah menjadi denyut nadi ekonomi maritim Aceh dan memiliki peluang besar untuk kembali memainkan peran penting di tingkat regional.
“Sabang bukan kota kecil biasa. Ini adalah titik nol peradaban ekonomi maritim Aceh. Jika Sabang bangkit, Aceh akan ikut bangkit,” ujar Syech Wan pada Minggu sore (12/04/2026)
Jejak kejayaan Sabang juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Kota di ujung barat Nusantara ini diyakini pernah menjadi titik singgah penting para pelaut dan penjelajah dunia. Catatan sejarah pelayaran abad ke-13 kerap mengaitkan jalur Selat Malaka dan perairan Aceh dengan perjalanan penjelajah Venesia Marco Polo sekitar tahun 1292 saat kembali dari Asia. Sementara kisah Sinbad lebih banyak hidup dalam legenda pelayaran Arab abad pertengahan yang menggambarkan ramainya jalur laut Samudra Hindia. Meski sebagian cerita berkembang sebagai memori lisan, narasi itu menunjukkan betapa Sabang sejak lama dikenal dalam peta pelayaran dunia.
Sabang juga pernah menjadi simbol kemakmuran. Pada masa jayanya, kota ini dikenal sebagai pelabuhan bebas internasional yang ramai oleh kapal dagang. Aktivitas perdagangan membuat roda ekonomi bergerak cepat. Salah satu penanda kemakmuran itu terlihat dari tingginya nilai komoditas cengkeh. Dalam ingatan warga lama, hingga sekitar 1970, satu kilogram cengkeh pernah setara satu manyam atau sekitar 3,3 gram emas. Memasuki periode 1970 hingga 1980, nilainya masih sangat tinggi, yakni sekitar satu gram emas per kilogram cengkeh. Gambaran ini menunjukkan betapa kuatnya daya beli masyarakat dan betapa hidupnya perputaran ekonomi Sabang pada masa pelabuhan bebas internasional berjaya.
Selain itu, keberadaan Asrama Haji Sabang sejak era pertengahan abad ke-20 juga menjadi penanda penting peran kota ini sebagai simpul mobilitas masyarakat dari Aceh dan wilayah sekitarnya menuju Tanah Suci. Sebelum transportasi udara berkembang seperti sekarang, Sabang menjadi salah satu sentral pemberangkatan jemaah haji melalui jalur laut. Ribuan calon jemaah dari Aceh dan berbagai daerah lain pernah singgah, bermalam, dan mempersiapkan perjalanan panjang menuju Makkah dari kota pelabuhan ini. Pada masa itu, Sabang bukan hanya tempat transit, tetapi juga ruang pertemuan harapan, doa, dan perjalanan spiritual masyarakat Nusantara. Semua jejak itu memperlihatkan bahwa Sabang bukan sekadar kota transit, melainkan pernah menjadi pusat pertemuan sejarah, perdagangan, dan peradaban.
Sejarah Sabang bukan cerita kosong. Kota ini pernah dikenal sebagai pelabuhan bebas yang sibuk, menjadi tempat singgah kapal dagang dari berbagai negara. Aktivitas ekspor-impor, pengisian bahan bakar kapal, hingga perdagangan lintas negara menjadikan Sabang sebagai salah satu pusat ekonomi penting di kawasan.
Foto-foto lama masih menyimpan kesaksian itu: kapal-kapal besar bersandar rapat di dermaga, pekerja pelabuhan bergerak cepat, dan kawasan perdagangan hidup hampir tanpa jeda. Bagi generasi lama, masa itu adalah bukti bahwa Sabang pernah berdiri tegak sebagai kota niaga yang disegani.
Bagi Syech Wan, sejarah itu bukan sekadar nostalgia. Ia melihatnya sebagai peta jalan yang pernah berhasil dilalui dan bisa menjadi inspirasi untuk masa kini.
Kini, wajah Sabang memang berbeda. Kota itu tak lagi seramai masa jayanya, tetapi geliat baru mulai terlihat. Lautnya yang jernih, terumbu karang yang memesona, serta bentang alam yang eksotis terus menarik perhatian wisatawan.
Kehadiran kapal pesiar internasional yang sesekali bersandar di pelabuhan Sabang juga menghadirkan optimisme baru. Bagi warga setempat, setiap kapal yang datang bukan hanya membawa wisatawan, tetapi juga harapan akan perputaran ekonomi yang lebih hidup.
“Ketika kapal pesiar mulai datang, itu tanda dunia masih melihat Sabang. Tinggal bagaimana kita menangkap peluang ini secara serius dan berkelanjutan,” kata Syech Wan.
Sabang, dalam pandangan banyak pihak, masih memiliki modal besar: posisi strategis di jalur pelayaran dunia, kekayaan wisata bahari, dan identitas kuat sebagai gerbang barat Nusantara.
Namun, potensi saja tidak cukup. Menurut Syech Wan, kebangkitan Sabang membutuhkan kerja nyata, keberanian mengambil keputusan, dan tata kelola yang visioner.
Ia menyoroti pentingnya peran Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) dalam mendorong percepatan pembangunan. Lembaga itu dinilai harus lebih progresif dalam membangun infrastruktur pelabuhan, mempermudah investasi, dan membuka akses perdagangan internasional.
Revitalisasi pelabuhan, peningkatan layanan logistik, serta promosi pariwisata yang terintegrasi menjadi beberapa langkah yang dinilai penting untuk mengembalikan daya saing Sabang.
“BPKS adalah kunci. Jika dikelola dengan visi besar dan keberanian, Sabang bisa kembali menjadi hub perdagangan internasional seperti dulu,” ujarnya.
Bagi masyarakat Aceh, Sabang bukan hanya wilayah terluar. Kota itu adalah wajah daerah di mata dunia. Karena itu, menghidupkan kembali Sabang dinilai bukan semata urusan ekonomi, tetapi juga soal harga diri dan kepercayaan diri daerah.
Syech Wan menilai, kemunduran Sabang selama ini banyak dipengaruhi inkonsistensi kebijakan dan lemahnya kesinambungan pembangunan. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memandang Sabang sebagai agenda bersama.
“Sejarah sudah memberi kita peta jalan. Tinggal kemauan dan keberanian untuk menjalankannya. Jangan sampai kejayaan Sabang hanya menjadi cerita tanpa aksi,” katanya.
Di ujung barat negeri, Sabang masih berdiri menghadap samudra luas. Kota itu seolah menyimpan pesan yang belum selesai: bahwa kejayaan pernah ada, dan harapan untuk kembali bangkit selalu terbuka bagi mereka yang berani memulai. (EQ)







