Home / OPINI

Rabu, 11 Oktober 2023 - 14:28 WIB

SAAT SAYA BERMIMPI INGIN MENJADI “KONSULTAN POLITIK”

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor,
Ilmuwan Politik, USK, Banda Aceh

PARA PEMBACA YANG MULIA … Ada suatu ‘penyakit’ dalam diri ini – Saya mempunyai kebiasaan buruk, yaitu seringkali menulis sesuatu ketika peristiwa telah lama atau sesuatu itu yang baru saja terjadi. Selain itu, saya juga menulis di media ini acap kali berbanding lurus dengan stress yang sering saya rasakan.

Anehnya, semakin saya stress sepertinya semakin bagus, serius dan sayapun rajin sekali menulis. Oleh karena itu, jika beberapa hari ini atau beberapa hari ke depan saya tak menulis, itu sesungguhnya keadaan saya sudah lumayan baik dan tidak stress lagi.

Nah, kali ini saya akan menulis sebuah kebiasaan lain yang lagi saya suka. Memang, saya sejak dulu, paling suka untuk membaca tentang “sisi kehidupan seseorang”. Biasanya, saya jadikan hobby untuk membaca “kisah orang sukses”, di samping hobby lain sebagai penulis, diskusi, dan sebagainya. Yaa… hobby saya adalah membaca profil tokoh atau siapapun dech … Ya, Entah mengapa, saya memang terlalu malas kalau harus membaca buku biografi orang yang sangat tebal itu. Lagi pula, saya lebih suka membaca kisah hidup orang yang masih hidup. Itu karena saya percaya setiap masa punya persoalan dan semangatnya sendiri-sendiri.

Membaca kehidupan orang lain membuat saya sadar bahwa parameter dan ukuran keberhasilan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang sukses dengan jadi Guru Besar atau Profesor (pesanan dan orbitan), ada jadi guru besar madya, ada jadi “guru besar kepala”, dan ada juga yang sukses dengan menjadi guru SD. Ada yang berhasil menjadi pengembang di dunia global, ada yang sukses jadi petani cabe (seperti Almarhum ayahku sendiri), ada juga yang cukup bahagia dengan menjadi juragan rumah kontrakan, dan tentu ada yang lebih bahagia dengan jadi PNS mujur, jujur dan hidup seadanya.

Ada yang merasa mencapai “sesuatu” karena sekolah di luar negeri atau luar daerah, ada pula yang merasa cukup untuk berhenti kuliah di semester ke-tiga dengan berbagai alasan. Kita tentu tidak tahu mengapa itu terjadi, hanya mereka sendiri-lah yang lebih tahu baik yang sukses maupun yang gagal. Kata Istriku sendiri, yang seringkali dikutip oleh anakku. Anakku sering bilang begini : Ayah … “Orang itu beda-beda. Bukankah karena perbedaan itu yang membuat hidup kita ini lebih menarik dan indah?”. Wallahu ‘aklam. Mungkin Betul juga ya kata-kata anak saya !

Tapi, tentu saja yang paling sering saya baca sekarang ini adalah kisah para akademisi dan politikus, baik yang top beneran maupun yang pura-pura nge-top. Membaca nama dan kisah hidup singkat mereka seperti, Calon Presiden, Calon Menteri, Calon Rektor, Calon Dekan, Calon Gubernur, dan Calon Bupati/Calon Walikota, misalnya, bisa membuat saya cukup terhibur. Ya, mereka itu hebat-hebat. Saya terintimidasi, eh terinspirasi tentu saja, dan ini membuat saya senang bukan kepalang untuk bisa belajar ada apa dengan ‘keberanian’nya untuk menjadi calon, bahkan di antaranya ada yang sudah berkali-kali menjadi calon, namun mau menjadi calon lagi. Ada yang menjadi “calon tetap” dan tidak sedikit pula yang jadi “tetap calon” selamanya.

Anehnya lagi, saat ini mereka kadang masih sedang menjabat, tetapi selama ini mereka dinilai gagal oleh banyak pihak – tidak ada yang istimewa mereka lakukan, tapi dengan sangat berani mengatakan bahwa ; “Saya akan mencalonkan diri lagi sebagai ……..”. Wooww….Menarik bukan?. Bagi saya, hal itu sah-sah saja dilakukan oleh siapapun, tak ada yang bisa melarangnya. Semua orang di negeri ini wajib dan berhak untuk mengabdi kepada bangsanya. Jika mereka sukses dan telah mampu membawa ummat ini ke arah yang lebih baik, saya mengucapkan selamat melanjutkan kiprahnya sebagai pemimpin.

Namun, jika merasa dirinya belum berbuat apa-apa, sebaiknya ikhlaskan lah bagi orang lain siapapun dia, agar dapat memanfaatkan tenaganya untuk mewujudkan masyarakat yang lebih berjaya dan bermartabat. Memaksa diri dan memaksa kehendak, apalagi hanya ingin tetap berkuasa, padahal realitasnya, amanah itu belum mampu dilaksanakan dengan baik, maka selayaknya beristirahatlah dengan hormat. Masih terlalu banyak bangsa ini yang ingin berkiprah dalam membangun negerinya. Namun itu semua, berpulang kepada kita yang memiliki hati untuk belajar pada pengalaman. Insya Allah, masa depan bangsa kita semakin baik dalam Ridha Allah Swt. Amiin…Amiin…Amiin, Ya Mujibassa’ilin.

Baca Juga  Pilkada Satu Putaran Dapat Menjadi Model Demokrasi yang Elegan di Indonesia

Sementara itu, karena saya sebagai dosen dan ilmuan politik, maka saya juga senang membaca profil mereka-mereka yang mencapai jenjang guru besar di usia muda, dan kisah hidup mereka yang sukses menjadi pejabat tanpa “bermasalah” dalam memimpin. Malah, Saya baca berkali-kali tentang mereka yang seperti ini. Saya ingin tahu jejak langkahnya, tapi bukan untuk diplagiasi, ya sekedar referensi saja untuk memotivasi diri saya sendiri agar lebih bersemangat dalam menjalani hidup ini.

Celakanya, saya juga suka membacanya profil anak-anak muda, eksekutif dan atau kisah hidup pengusaha di halaman akhir sebuah majalah ekonomi yang top di negeri ini. Saya senang melihat wajah-wajah segar yang mendapatkan keberhasilan ekonomi dari hasil kristalisasi keringat sendiri, bukan karena aji mumpung atau karena numpang sama ayahnya yang pejabat. Hebat, mantap, dan saya salut tabik terhadap mereka. Mereka insan luar biasa, karena saya ketika menjadi mahasiswa dulu pernah juga coba-coba jualan jeruk dan mangga ternyata saya bangkrut. He … he….

Membaca hasil liputan majalah ekonomi tersebut, memaksa dan bikin saya ingin mencoba bisnis lagi… Hmmmm… mungkin mau buka PAUD, TK atau Konsultan Politik? Ah… asyik juga lagi bermimpi nich…!. Tapi kadang-kadang saya juga berpikir, mana ada sich, orang yang mau, apalagi harus mengeluarkan uang lagi untuk konsultasi tentang bagaimana berpolitik secara etis dan meraih kemenangan secara santun dan beradab?. Maksud saya, bukanlah mereka menjadi politisi karbitan dan plin plan. Waktu bertarung bicara lain, setelah menang bicaranya lebih aneh lagi… Semua orang tahu, untuk apa cerdas dan banyak ilmu dalam berpolitik? Bagi mereka, terutama ‘oknum politisi karbitan’ – yang penting mereka sangat cerdas untuk mempolitisir orang agar tujuannya tercapai.

Agar tidak terkesan pernyataan saya ini bombastis dan provokatif– coba lihatlah bagaimana gemuruh dan gegap gempitanya saat hajat besar menjelang pemilihan atau suksesi seorang pemimpin, para calon presiden, Gubernur atau Bupati/Walikota dan timsesnya sibuknya luar biasa dengan membuat berbagai pertemuan atau kampanye yang dibungkus dengan acara silaturrahmi – tentu kegiatannya diskusi (kalau ada dengan alasan menjaring aspirasi), tetapi yang lebih banyak malah acara makan-makan. Itu lho, hanya menjelang pemilihan saja agar terkesan humanis, familiar dan populis atau merakyat. Tetapi, apa yang terjadi setelah pemilihan dan ternyata dia menang, jangan pernah lagi berharap ada acara makan-makan.

Hhmmm … para pendukung dan pemilih mereka tetap menikmati kelaparan dan kesulitan hidup yang berkepanjangan, di saat yang bersamaan tokohnya yang diagungkan dulu sedang menikmati kekuasaan dalam kemewahan. Kita sebagai pendukung, Mau ada acara makan-makan, paket lebaran dan parsel lagi? Insya Allah ada kok – Tunggu saja Nanti, ketika dia ingin memperpanjang kekuasaannya. Itulah sekelumit model dan ala suksesi di tanah air atau daerah kita tercinta di masa yang lalu. Saya pribadi, belum pernah tahu juga apa yang akan terjadi lagi di masa depan?. Akankah Berubah gaya dan model atau masih sama saja. Kita tunggu dech!. Saya Berharap jangan ada yang tersinggung, marah dan membenci saya karena tulisan ini. Tetapi, mari sama-sama kita belajar untuk instrospeksi diri, jika kita ingin menjadi bangsa yang bermartabat.

Oleh karena itu, Jika Allah Swt mentakdirkan saya untuk menjadi konsultan politik, pasti akan saya sarankan kepada klien saya, kira-kira begini : Saudaraku : “Jangan pernah menggaet dan menyentuh hati pemilih ketika Anda ingin berkuasa dengan memberi mereka makan malam atau makan siang yang sifatnya sesaat. Tetapi, Ajaklah mereka pendukung mu untuk sama-sama membangun bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik. Namun, yang paling penting adalah ketika Anda telah menjadi pemimpin berikanlah kesempatan yang baik kepada bangsamu semua agar mereka dapat dengan mudah untuk mencari makan. Ingatlah, Bangsa ini besar, kita bukan bangsa pengemis”. Bagus bukan saran dan argumentasi saya?. Nah, jika begitu saran saya, mungkinkah mereka akan menjadikan saya sebagai konsultan politiknya? Ah mana mungkin…

Baca Juga  PUNCAK KEDUNGUAN DPR : BENTUK DPA

Para Pembaca Yang Mulia, kita kembali lagi pada pembahasan kisah hidup orang sukses dan orang hebat. Saya juga sekarang makin percaya bahwa apa yang terlihat seringkali bukan yang sebenarnya. Apakah kita sukses diukur dari gadget yang dipakai? Semakin luas bentang layar gadget atau layar Hp berarti makin hebat? Atau jumlah batu giok yang dipakai di tangan? (mungkin bagi yang hobby) atau jenis dan tipe kendaraan yang digunakan? makanan yang di makan ataukah merek kopi yang diminum? Hhhmmm…, pernahkah Anda mendengar kisah imajiner saya ketika bertemu dengan orang kaya bernama “Tengku Mujur”, yang membeli sebuah apartemen seharga sepuluh milyar di “Love City” buat anak-anak yang sekolah di kota sana?, Kisah itu mengajari saya bolak-balik dan mengubah cara pandang tentang orang dalam meraih cita, cinta dan kesuksesan dalam hidup ini. Kalau belum pernah mendengar kisahnya, kapan-kapan saya ceritakan lagi ya…

Mengintimidasi, Terinspirasi atau memaksa diri sendiri oleh orang-orang yang (saya anggap) top, hebat, dan sukses adalah merupakan cara saya membunuh rasa egoisme dalam diri saya yang berlebihan dalam memperlakukan orang lain yang belum sukses, seperti untuk adik-adikku yang masih berstatus mahasiswa. Mahasiswa, mereka sedang belajar dan masih butuh waktu yang banyak untuk mencapai sukses. Makanya, saya tak pernah sedikitpun menuntut “lebih banyak” dari mereka. Saya selalu memberikan apresiasi terhadap hasil kerja mahasiswa dalam bentuk apapun yang mungkin mampu mereka lakukan untuk saat ini. Bagi saya, asalkan mereka tahu “banyak lebih” saja, sudah baik dan menurut saya mereka adalah calon orang-orang hebat di masa depan.

Mari kita bina adik-adik kita mahasiswa untuk menjadi yang terbaik sesuai dengan zamannya. Jangan pernah mempunyai minat sedikitpun untuk membinasakan mereka. Meski juga ada diantaranya yang ‘kurang ajar”. Biarkan saja, sejarah untuk mencatatnya. Saya pikir kita harus mampu memberikan contoh yang baik untuk mereka. Jangan sampai lembaga pendidikan di negeri ini gagal lagi membentuk karakter anak bangsa. Lihatlah, selama ini betapa banyak anak negeri ini yang ‘korban kecerdasannya’ harus meringkuk di penjara karena kasus korupsi. Na’uzubillahi Min Zhalik. Memang dalam hidup ini, selalu butuh rasa empati, upaya dan kerja keras untuk meredam rasa “sudah berhasil” atau “merasa hebat” dalam diri kita sendiri dan mentransformasikannya ke dalam bentuk yang lebih baik, merasa bersyukur kepada Allah Swt atas semua limpahan nikmatnya kepada kita selama ini. Karena saya yakin, dengan sikap seperti itu, kesuksesan dengan bantuan Allah swt semakin dekat menghampiri kita semua. Amin, Ya Rabb.

TERNYATA, kondisi seperti ini dan perasaan tidak nervous lagi pernah juga terjadi pada diri saya sendiri, ketika akan presentasi proposal penelitian untuk mendapatkan dana pada Toyota Foundation Jepang beberapa tahun yang lalu. Dulu, ketika sebelum diterima proposal, rasa rasa takut terlalu tinggi dan saya pernah merasa punya kepercayaan diri kadang terlalu berlebihan. Kemudian tidak takut dan sungkan lagi ketika mau presentasi walaupun dalam lingkup nasional maupun internasional.

Akibatnya, kualitas presentasi saya sangat tidak memuaskan, dibandingkan ketika saya masih ada rasa takut dan tidak percaya diri. Ayo Kenapa? Hal ini dikarenakan kalau merasa masih merasa takut dan tidak percaya diri, saya pasti belajar lebih serius lagi dan latihan lagi. Hasilnya pasti lebih bagus, bukan? Ah, ada-ada saja, kok ngelantur sich bicaranya, sampai ke pembahasan ‘rasa takut’ dan curhatku pribadi … Sama juga seperti Caleg yang merasa dirinya sudah di atas angin, yakinlah mereka akan di bawa angin dan kalah untuk melawannya.

Nah, seharusnya begitulah sikap kita dalam menjalani hidup ini, jangan sombong, angkuh dan terlalu percaya diri. Bukankah Rasulullah SAW berpesan kepada kita : Hiduplah dalam kesederhanaan, karena kesederhanaan itu dapat meningkatkan harkat dan martabatmu dalam Ridha Allah SWT. Semoga saja Tulisan Ini bermanfaat bagi insan yang berhati mulia. Hhhmmm…Mau baca tentang kisah saya?. Tunggu Ya… !!!

Bumi Iskandar Muda, 11 Oktober 2023.

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian