![]()
Oleh :
Prof. Dr. TM. Jamil, Drs, M.Si
Ilmuwan Politik dan Senior Lecturer pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
OPINI – Bangsa ini terlalu sering mabuk slogan tentang “Indonesia Emas 2045”, tetapi gagal melakukan refleksi paling mendasar : apakah bangsa ini benar-benar sedang membangun manusia beradab, atau justru sedang memproduksi generasi yang cerdas tetapi brutal?
Hari ini kita menyaksikan ironi besar dalam kehidupan sosial Indonesia. Pendidikan terus berkembang, teknologi semakin maju, akses informasi semakin terbuka, tetapi kualitas moral publik justru mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan. Di tengah gegap gempita modernisasi, masyarakat perlahan kehilangan empati, etika, rasa malu, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Kita hidup di era ketika kecerdasan tidak lagi identik dengan kebijaksanaan. Gelar akademik meningkat, tetapi kesantunan menurun. *Literasi digital meluas, tetapi kedewasaan moral justru runtuh. Ruang publik dipenuhi manusia yang fasih berbicara tentang demokrasi, hak asasi, nasionalisme, bahkan agama, tetapi gagal mengendalikan amarah, kebencian, dan agresivitas sosial.
Fenomena ini terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial berubah menjadi arena perang psikologis dan pembantaian karakter. Perbedaan pendapat tidak lagi diselesaikan melalui argumentasi ilmiah, tetapi melalui penghinaan, fitnah, doxing, caci maki, dan kekerasan verbal yang dipertontonkan secara vulgar. Sebagian influencer menjadikan penghinaan sebagai komoditas hiburan. Sebagian elite politik menjadikan kebencian sebagai strategi elektoral. Sebagian buzzer menjadikan kebohongan sebagai industri propaganda.
Kita menyaksikan pelajar yang brutal terhadap gurunya, mahasiswa yang kehilangan etika dialog, demonstrasi yang dipenuhi makian, anak-anak muda yang bangga mempermalukan orang lain demi konten digital, hingga fenomena tawuran dan kekerasan sosial yang semakin sadis. Bahkan sebagian masyarakat mulai menganggap kesantunan sebagai kelemahan, sementara arogansi dianggap simbol keberanian dan kecerdasan.
Filsuf politik Thomas Hobbes pernah mengingatkan tentang situasi homo homini lupus — manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Ketika etika sosial runtuh, manusia tidak lagi melihat sesama sebagai saudara kemanusiaan, tetapi sebagai ancaman yang harus dikalahkan. Dalam kondisi seperti itu, kekuasaan, popularitas, dan pengaruh menjadi lebih penting daripada kejujuran dan integritas.
Media sosial telah melahirkan budaya “penghakiman massal”. Orang merasa paling benar tanpa tradisi berpikir kritis. Kritik dibalas kebencian. Perbedaan dianggap permusuhan. Agama diperalat sebagai senjata menyerang lawan politik. Bahkan demokrasi sering dipahami bukan sebagai ruang adu gagasan, tetapi arena menghancurkan martabat lawan.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, jauh hari telah mengingatkan bahwa ketika nilai-nilai luhur runtuh, manusia akan terdorong memuja kekuasaan dan dominasi. Dalam situasi seperti itu, moralitas dianggap beban, sedangkan manipulasi dipandang sebagai kecerdikan. Yang terjadi kemudian adalah lahirnya manusia-manusia agresif yang kehilangan hati nurani tetapi merasa dirinya paling hebat.
Dalam perspektif sosiologi modern, kondisi ini dapat dibaca melalui teori anomie dari Émile Durkheim — situasi ketika norma sosial melemah dan masyarakat kehilangan pegangan nilai bersama. Dalam masyarakat yang mengalami anomie, kebohongan tidak lagi memalukan, penghinaan dianggap biasa, dan kekerasan verbal diperlakukan sebagai ekspresi kebebasan.
Lebih jauh, Albert Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa manusia belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Anak-anak muda tidak hanya belajar dari sekolah, tetapi dari perilaku elite, tokoh publik, influencer, dan atmosfer sosial di sekitarnya. Ketika para elite mempertontonkan arogansi, kebencian, dan manipulasi, maka sesungguhnya bangsa ini sedang mendidik generasi baru untuk percaya bahwa moralitas tidak lagi penting dalam meraih kekuasaan dan popularitas.
Sementara itu, sosiolog kontemporer Zygmunt Bauman menyebut masyarakat modern sebagai liquid society masyarakat cair yang kehilangan pijakan moral dan identitas etik. Dalam masyarakat cair, loyalitas mudah berubah, hubungan sosial kehilangan kedalaman, dan manusia mudah terseret dalam fanatisme, amarah kolektif, serta agresivitas sosial.
Hoaks diproduksi secara massal. Fitnah menjadi alat politik. Kekerasan seksual meningkat. Perundungan di sekolah dianggap biasa. Tawuran semakin brutal. Demonstrasi kehilangan substansi moral karena dipenuhi provokasi dan penghinaan. Bahkan sebagian kaum terdidik mulai menikmati budaya mempermalukan orang lain sebagai bentuk hiburan sosial.
Di sinilah letak kegagalan paling serius pembangunan bangsa kita : negara terlalu sibuk membangun infrastruktur fisik, tetapi lalai membangun infrastruktur moral. Kita membangun jalan tol, gedung megah, dan transformasi digital, tetapi gagal membangun budaya malu, kejujuran, empati, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.
Kita mengukur kemajuan dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi menutup mata terhadap kerusakan etika publik. Kita bangga dengan kecerdasan artifisial, tetapi gagal membangun kecerdasan moral. Padahal sejarah dunia menunjukkan bahwa peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena hilangnya integritas dan nurani sosial.
Kekaisaran Romawi runtuh ketika kemewahan mengalahkan moralitas. Banyak negara modern mengalami krisis bukan karena miskin teknologi, tetapi karena kehilangan rasa keadilan dan kepercayaan sosial. Peradaban tidak pernah hancur secara tiba-tiba. Ia runtuh perlahan ketika kebohongan menjadi budaya, ketika kekuasaan kehilangan etika, dan ketika masyarakat tidak lagi memiliki rasa malu.
Sebagai akademisi, saya selalu mengingatkan :
“Jangan pernah bermimpi melahirkan bangsa bermoral jika cara berpikir, metode perjuangan, dan perilaku sosial yang kita gunakan justru dipenuhi kebencian dan ketidakberadaban.”
Kalimat ini penting karena bangsa besar tidak dibangun hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga dengan kematangan moral. Demonstrasi boleh keras, kritik boleh tajam, oposisi boleh lantang, tetapi semuanya tetap harus berada dalam koridor etika dan keadaban. Demokrasi tanpa moralitas hanya akan berubah menjadi anarki sosial yang dilegalkan.
Kita membutuhkan generasi kritis, bukan generasi brutal. Kita membutuhkan anak muda yang berani berpikir, tetapi juga mampu menghormati perbedaan. Sebab keberanian tanpa etika hanya akan melahirkan kekacauan sosial.
Jangan berharap lahir generasi santun jika ruang publik dipenuhi kebencian. Jangan berharap anak muda menghormati moral jika elite mempertontonkan penghinaan setiap hari. Dan jangan berharap bangsa ini bermartabat apabila manipulasi dipuja sebagai kecerdikan politik, sementara kejujuran dianggap kelemahan.
Sesungguhnya masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi oleh nilai moral apa yang ditanamkan kepada generasi mudanya hari ini.
Sebab bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Bangsa runtuh ketika terlalu banyak manusia cerdas kehilangan hati nurani.
Sagoe Aceh Rayeuk, 22 Mei 2026







