SURABAYA | MEDIALITERASI.ID — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu identik dengan biaya mahal, apalagi harus ditempuh di luar negeri.
Ia mempertanyakan efektivitas penggunaan dana negara untuk membiayai studi luar negeri dalam jumlah besar, jika hasilnya belum tentu lebih berdampak dibanding lulusan perguruan tinggi dalam negeri.
“Buat apa uang negara habis banyak untuk luar negeri, sementara alumni dalam negeri juga banyak yang berhasil menjadi tokoh bangsa?” ujarnya.
Ning Lia memaparkan, perjalanan akademiknya dari jenjang sarjana hingga doktoral ditempuh dengan biaya relatif terjangkau. Saat menempuh S1 di IAIN, Universitas Airlangga, dan STID Taruna, total biaya kuliah per semester disebut tidak sampai Rp1,5 juta.
Bahkan ketika menyusun skripsi, ia bekerja untuk membantu membiayai pendidikannya sendiri.
Untuk jenjang S2, Lia memperoleh beasiswa dalam negeri, sedangkan saat menempuh S3 ia mendapatkan bantuan BPP selama satu tahun. Secara keseluruhan, dana pribadi yang ia keluarkan hingga meraih gelar doktor diperkirakan sekitar Rp30 juta.
“Kalau niat belajar, tidak harus mahal. Jangan sampai pendidikan menjadi ajang gengsi. Yang terpenting adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat,” tegasnya
Menurutnya, kebijakan pendidikan nasional seharusnya lebih diarahkan pada penguatan perguruan tinggi dalam negeri agar semakin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda.
Ia meyakini kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat dibangun tanpa harus selalu bergantung pada pendidikan luar negeri.
“Pendidikan itu soal proses dan keberkahan. Kalau dalam negeri mampu, kenapa harus selalu ke luar?” pungkasnya.







