Home / OPINI

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:56 WIB

Masjid Sultan Malikussaleh: Iman yang Menggerakkan Ekonomi

Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM

Di lintasan strategis Jalan Medan–Banda Aceh, tepatnya di Gampong Mancang, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, berdiri Masjid Besar Sultan Malikussaleh salah satu penanda penting lahirnya peradaban Islam di Nusantara. Di sinilah sejarah, iman, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh berkelindan sejak berabad-abad lalu.

Hari ini, masjid tersebut sedang dalam proses pembangunan lanjutan. Namun ia tidak pernah sepi dari denyut kehidupan. Sejak 2023, pengurus masjid mengembangkan kantin jamaah berbasis UMKM. Hingga kini, pelaku usaha kecil terlibat aktif. Bagi mereka, masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga ruang bertahan hidup.

Salah satunya adalah seorang ibu rumah tangga di Gampong Mancang yang kini mampu membiayai sekolah anaknya dari hasil berjualan kue di lingkungan masjid. Kisah-kisah semacam ini berulang, meski jarang terdengar, dan menunjukkan bahwa masjid, ketika dikelola dengan baik, mampu menjadi benteng ekonomi rakyat kecil.

Baca Juga  ANIES BASWEDAN BERBEDA DENGAN CAPRES LAIN

Konteks Aceh Utara menegaskan urgensinya. Wilayah ini masih menghadapi persoalan kemiskinan struktural dan keterbatasan lapangan kerja. Program negara sering kali belum menjangkau lapisan terbawah. Dalam kondisi demikian, masjid hadir sebagai institusi sosial paling dekat, murah, dan dipercaya masyarakat.

Secara historis, masjid adalah pusat ibadah sekaligus pusat pelayanan publik. Model yang tumbuh di Masjid Sultan Malikussaleh sejalan dengan prinsip maslahah: menghadirkan manfaat sosial, bukan sekadar simbol religius. Di sini, iman tidak berhenti pada ritual, tetapi bergerak menghidupkan ekonomi, menjaga martabat, dan memperkuat silaturahmi.

Namun amanah yang dipikul masjid ini besar. Untuk menyempurnakan pembangunan ruang ibadah, pendidikan, dan fasilitas sosial, masih dibutuhkan dukungan dana umat. Setiap infak dan wakaf tidak hanya membangun bangunan fisik, tetapi juga menopang program pemberdayaan yang telah berjalan.

Baca Juga  Saatnya Sang Aktivis Reborn ke Kancah Politik

Pengelolaan dana dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab, melalui kepengurusan resmi masjid, dengan komitmen laporan berkala kepada jamaah dan publik. Transparansi ini penting agar kepercayaan tidak hanya dibangun oleh iman, tetapi juga oleh akuntabilitas.

Bagi para dermawan di mana pun berada, inilah kesempatan amal jariyah yang nyata: berkontribusi pada masjid bersejarah yang tidak hanya memakmurkan ibadah, tetapi juga menghidupkan ekonomi umat.

Masjid Sultan Malikussaleh mengajarkan kita bahwa sedekah adalah investasi peradaban. Dari masjid, kebaikan tumbuh. Dari kebaikan, masa depan dibangun.

Aceh Utara, 17 Januari 2026

Share :

Baca Juga

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026

HUKUM

Ketika Keadilan Dipertanyakan: Antara Hukum, Integritas, dan Harapan Publik

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas