Home / EDUKASI / OPINI

Senin, 20 April 2026 - 22:19 WIB

Menjaga Bahasa, Menata Laku: Jalan Sederhana Menuju Pendidikan Karakter yang Hakiki


Oleh : Juni Ahyar Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

OPINI – Pendidikan karakter sering kali terdengar sebagai konsep besar, kompleks, dan penuh teori. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, akar dari pendidikan karakter justru berangkat dari hal yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang berbicara dan bagaimana ia berperilaku. Dari dua hal inilah, karakter seseorang dibentuk, diuji, dan pada akhirnya dikenali.

Pertama, karakter tercermin dari kemampuan menjaga lisan. Kata-kata bukan sekadar rangkaian bunyi, melainkan cerminan nilai dalam diri. Lidah yang tidak terjaga dapat melukai lebih dalam daripada tindakan fisik. Ucapan yang merendahkan, menyindir, atau menyakiti sering kali meninggalkan bekas yang tidak terlihat, tetapi membekas lama. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari kesadaran berbahasa: berbicara dengan santun, memilih kata dengan bijak, dan memahami dampak dari setiap ucapan.

Kedua, karakter juga tampak dalam perilaku. Sikap dan tindakan menjadi representasi nyata dari nilai yang diyakini seseorang. Menjaga perilaku berarti memastikan bahwa kehadiran kita tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Dalam konteks ini, karakter bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga tentang kepekaan sosial dan empati. Orang yang berkarakter baik adalah mereka yang mampu menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab.

Baca Juga  KETIKA "WAKIL RAKYAT DIAM DAN TULI", JANGAN PILIH LAGI PARPOLNYA

Dalam dunia pendidikan, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga mendidik. Mengajar berfokus pada aspek kognitif bagaimana siswa memahami ilmu pengetahuan, menguasai materi, dan berkembang secara akademik. Sementara itu, mendidik menyentuh ranah yang lebih dalam, yakni afektif dan psikologis. Di sinilah pendidikan karakter mengambil peran penting: membentuk kepribadian yang matang secara emosional dan seimbang secara mental.

Sayangnya, praktik pendidikan sering kali lebih menitikberatkan pada capaian akademik semata. Nilai tinggi dianggap sebagai indikator keberhasilan, sementara aspek sikap dan perilaku kerap terabaikan. Padahal, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kematangan emosional dan integritas pribadi.

Sekolah sejatinya bukan sekadar tempat datang pagi dan pulang siang atau sore. Sekolah adalah ruang pembentukan masa depan. Di dalamnya, siswa tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau sains, tetapi juga belajar tentang adab fondasi utama dari karakter. Adab kepada guru, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraan, dan berbicara dengan sopan. Adab kepada teman, seperti tidak mengejek, tidak membuli, dan tidak merendahkan. Serta adab kepada diri sendiri, berupa disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab.

Baca Juga  MENYEDIHKAN, KETIKA HASIL KORUPSI DIJADIKAN “MODAL” UNTUK MERAIH KEKUASAAN

Nilai-nilai inilah yang sering kali dianggap sepele, padahal justru menjadi penentu arah kehidupan seseorang. Apa yang ditanam hari ini akan dipanen di masa depan. Kerajinan dalam belajar akan berbuah ilmu dan keberhasilan. Kedisiplinan akan melahirkan kepercayaan dan kesuksesan. Sebaliknya, kebiasaan menunda, bermain tanpa batas, dan mengabaikan tanggung jawab hanya akan menghasilkan penyesalan.

Pendidikan karakter, dengan demikian, bukan sekadar program atau kurikulum tambahan. Ia adalah ruh dari seluruh proses pendidikan. Ketika bahasa dijaga dan perilaku ditata, di situlah karakter tumbuh. Dan ketika karakter telah terbentuk, di situlah masa depan yang berkualitas mulai dirintis.

Sudah saatnya kita kembali pada esensi: membangun manusia bukan hanya yang cerdas pikirannya, tetapi juga halus bahasanya dan mulia perilakunya. Sebab, dari lidah yang terjaga dan laku yang tertata, lahirlah generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga beradab.

Share :

Baca Juga

ACEH

“Penajoh Keuneubah Indatu” Ramaikan Idi, TP PKK Aceh Timur Ajak Gen Z Cintai Jajanan Tradisional

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

ACEH

Bupati Al-Farlaky Tegaskan Tak Anti Kritik, Asalkan Konstruktif dan Beri Solusi

BERITA

Integrasikan AI dan OBE, Dosen MPI UIA Bireuen Raih Predikat ‘Most Inspiring Lecturer’

BERITA

Dosen FKIP Unimal Raih Gelar Doktor di Malaysia, Teliti Masa Depan Bahasa Aceh di Tengah Masyarakat Multietnik

ACEH

Peringati Hari Anak 2026, Pemkab Aceh Timur Soroti Pentingnya Ketahanan Mental Anak

BERANDA

Makan Ini! Payudara Lebih Sehat & Terlindungi

ACEH

Bupati Al- Farlaky Pimpin Rapat Monev  Manajemen RSUD Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak