![]()
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Akademisi sekaligus Advokat.
OPINI – Setiap Jumat datang membawa pesan yang sama: tentang keberkahan, tentang jeda dari hiruk-pikuk dunia, dan tentang kesempatan memperbaiki diri. Namun, di tengah suasana yang mestinya khusyuk itu, sering kali kita justru dihadapkan pada kenyataan yang kontras banyak yang tampak baik, tetapi belum tentu benar-benar baik.
Jumat seolah menjadi panggung. Masjid penuh, pakaian rapi, ucapan santun mengalir. Semua terlihat sempurna di permukaan. Tapi di balik itu, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan: apakah semua ini lahir dari ketulusan, atau sekadar rutinitas yang dibungkus pencitraan?
Fenomena pura-pura baik bukan hal baru. Ia tumbuh pelan, sering tanpa disadari. Seseorang bisa begitu khusyuk di dalam masjid, tetapi kembali pada kebiasaan lama begitu keluar dari pintu. Lisan yang tadi dipenuhi zikir, tak lama kemudian berubah menjadi alat menyakiti. Tangan yang terangkat dalam doa, justru ringan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Di titik ini, Jumat kehilangan maknanya sebagai momentum perubahan.
Padahal, esensi Jumat bukan sekadar hadir secara fisik dalam ibadah, melainkan hadirnya kesadaran batin. Ia bukan hanya tentang duduk mendengarkan khutbah, tetapi tentang apakah pesan itu benar-benar menyentuh dan mengubah cara kita bersikap setelahnya. Jika tidak ada perubahan, maka yang terjadi hanyalah pengulangan ritual tanpa ruh.
Dalam konteks sosial, kepalsuan kebaikan ini juga berdampak luas. Ia melahirkan ketidakpercayaan. Ketika orang terlalu sering menyaksikan kebaikan yang hanya tampil di permukaan, maka kepercayaan terhadap nilai-nilai moral perlahan terkikis. Orang menjadi skeptis, bahkan terhadap kebaikan yang tulus. Ini berbahaya, karena masyarakat yang kehilangan kepercayaan adalah masyarakat yang rapuh.
Jumat seharusnya menjadi cermin. Ia mengajak setiap orang untuk bertanya pada dirinya sendiri: apakah selama ini kita hanya sibuk terlihat baik, atau benar-benar berusaha menjadi baik? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu nyaman.
Menjadi baik memang tidak mudah. Ia menuntut konsistensi, kejujuran, dan keberanian untuk mengakui kekurangan diri. Tidak ada panggung dalam kebaikan yang tulus. Ia sering kali sunyi, tidak terlihat, dan bahkan tidak mendapatkan pengakuan. Tapi justru di situlah nilainya.
Hari Jumat mengajarkan bahwa kualitas seseorang tidak diukur dari apa yang tampak sesaat, melainkan dari apa yang terus ia jaga dalam keseharian. Kebaikan sejati tidak berubah hanya karena hari berganti. Ia tetap ada, baik di hari Jumat maupun di hari-hari biasa.
Maka, jika Jumat ini masih kita jalani seperti biasa datang, duduk, lalu pulang tanpa perubahan barangkali yang perlu kita ubah bukan jadwal kita, melainkan cara kita memaknai. Karena pada akhirnya, Jumat bukan tentang seberapa baik kita terlihat di hadapan orang lain, tetapi seberapa jujur kita di hadapan diri sendiri dan Tuhan.
Lhokseumawe, Jumat 17 April 2026






