Home / OPINI

Senin, 29 Mei 2023 - 07:08 WIB

KETIKA INVESTASI DAPAT “MEMUTUSKAN HUBUNGAN KEKASIH”

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Scientist, USK, Banda Aceh

PARA pedagang kakilima dan pedagang kecil yang hanya berpendidikan SD sekalipun, dia paham betul bahwa investasi bisa menjadi mesin pembunuh tak kenal ampun. Ini tentu saja berdasarkan kenyataan bahwa demikian banyak rekan seprofesi tergusur dari lapak mereka karena ada tuan besar mau berinvestasi. Kalau di perkotaan investasi yang disukai antara lain perhotelan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan atau super mall. Setelah tergusur, bila tak ingin menganggur, adalah mencari lapak baru yang aman meski penjualan merosot atau nekat main kucing-kucingan dengan Satpol PP. Orang-orang nekat seperti ini tentu selalu dihantui penyitaan bahkan penghacuran barang dagangan mereka oleh para petugas penertiban kota.

Agar tampak lebih manusiawi, ada juga kepala daerah yang membangun kawasan khusus untuk pedagang kakilima. Ini telah mengingatkan mengingatkan saya pada perlakuan pemerintah Amerika Sarikat terhadap orang Indian. Setelah mereka dikalahkan dalam perang, kaum pribumi Amerika ini dipaksa tinggal di tempat penampungan khusus. Pemerintah Amerika tak perduli bahwa di tempat barunya mereka bakal menderita secara turun-temurun atau bisa hidup lebih baik.

Para mahasiswa junior administrasi bisnis yang sering kuliah dengan saya, tentu juga paham betul bahwa, selain bisa menjadi predator, investasi juga bersifat kanibal. Mereka tentu memperoleh pelajaran dari saya dan juga dari para dosen bahwa di dunia bisnis, perusahaan dengan kemampuan investasi lebih unggul biasa mencaplok para pesaingnya melalui merger dan akuisisi. Lalu, demi efisiensi dan peningkatan daya saing, langkah yang acapkali dilakukan adalah “PHK” (Pemutusan Hubungan Kerja atau Memutuskan Hubungan “Kekasih”) sesaat atau selamanya.

Baca Juga  Ketika Alumni Perguruan Tinggi Dalam Kegalauan

Ada lagi yang lebih runyam. Yaitu membeli perusahaan ‘pengganggu’ untuk dibunuh begitu saja demi penguasaan pasar. Para insinyur perangkat lunak maupun keras tentu juga paham bahwa investasi makin sulit dipisahkan dari PHK massal. Ini karena investasi kian akrab dengan otomatisasi dan robotisasi. Ketergantungan pada manusia pun terus dan semakin melemah. Situasi ini membuat para pemilik modal makin kaya karena penurunan biaya produksi, distribusi dan administrasi.

Situasi ini mirip dengan revolusi industri di Inggris pada tahun 1760, di mana penemuan mesin uap telah menyebabkan penumpukan modal secara besar-besaran ke tangan penguasa mesin produksi. Dan itulah Bedanya dengan zaman sekarang, teknologi informasi berperan strategis dalam penumpukan kekayaan di tangan para pemilik modal yang unggul dalam berinvestasi dan berinovasi di bidang otomatisasi dan robotisasi.

Baca Juga  Meydi Juniarto : Anies Bisa Lampaui Mahathir dan Lee Kuan Yew

Kenyataan ini juga mempermudah mereka menindas para pekerjanya yang posisinya dipereteli oleh mesin. Presiden RI pertama, Bapak Ir. Sukarno, sesungguhnya sudah lama mengkhawatirkan perkembangan yang merunyamkan para pekerja ini. Inilah mengapa dia pernah berulang kali mengingatkan perlunya memerangi “exploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia oleh manusia).” Kaum neo kolonialis, menurut Soekarno, tak ragu mengirimkan serdadu untuk memperluas koloninya. Cukup dengan menebar modal untuk diinvestasikan dalam bentuk mesin-mesin modern sebagai sarana eksploitasi terhadap kekayaan alam negara-ngara target.

Kalau hidup lagi, Sukarno mungkin sangat marah dan shock menyaksikan kenyataan bahwa mesin-mesin investasi yang ditanamkan oleh para penguasa modal di zaman ini juga bisa dikendalikan dari kamar mereka. Seperti pesawat-pesawat drone pembunuh milik angkatan udara Amerika di Afghanistan yang dikendalikan oleh para pilot dari ruang kerja masing-masing nun jauh di Pentagon.

Semua ini menggambarkan bahwa kita boleh saja percaya atau tidak, bahwa investasi dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja. Tapi harus waspada pada bahaya laten investasi, yang justru bisa membunuh lapangan kerja dan masa depan anak negeri atau bangsa ini. Woww …. Untuk itu, Berhati-hatilah wahai pemimpin dan bangsaku tercinta … !!!

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian