![]()
Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Akademisi – USK – Banda Aceh
Beberapa hari yang lalu, setelah Shalat Insya, untuk menghilangkan rasa jenuh sehabis beraktivitas sepekan – saya ingin menikmati segelas kopi hangat bersama teman-teman yang sudah lama kami tak pernah bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Saat saya sedang ngopi bareng dan berdiskusi “tanpa topik yang jelas” malam itu (Ya mulai dari Kasus Nilai Tukar Dolar semakin menguat, Sedangkan Nilai Tukar Rupiah anjlok, Tingkat kemiskinan semakin meningkat, Pemimpin kita lebih sering berwisata dan tinggalkan tugas daripada harus melayani publik, Pejabat yang hanya pintar menyalahkan bawahan ketika programnya gagal, Angka Kemiskinan semakin meningkat, Ambisi pemimpin yang sedang berkuasa, ingin memperpanjang kekuasaannya, padahal jabatannya sudah mau berakhir, tapi belum ada perubahan yang signifikan seperti yang dijanjikan saat ingin berkuasa dulu, akhirnya, sampai-sampai kami juga berdiskusi tentang Calon Pemimpin Indonesia dan Aceh Masa Depan, dan macam-macam dech… pada sebuah “Warkop di Ulka”, tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang mantan mahasiswa yang katanya sudah lulus ujian sarjana dan akan mengikuti “Wisuda” Pekan ini. Saya lagi galau Pak TM …! Kami bersalaman, dan saya ucapkan ‘Selamat atas selesainya studi’. Kemudian saya merespon kegalauannya. Lho, kok galau, bukankah seharusnya kamu bahagia, bangga dan optimis karena studimu telah selesai? Kata saya, saat itu.
Memang benar Pak, tapi saya bingung, tidak tahu kemana setelah ini. Yang lebih membingungkan saya Pak, IDO (Ikatan Dinas dari Orang Tua), yang tiap bulan saya terima selama ini – sudah terhenti total. Hhmmmm … saya hanya terdiam dan berpikir sejenak, apa yang harus saya sampaikan kepadanya. Lalu saya agak sedikit bergaya bagaikan seorang motivator ulung, mencoba memberikan beberapa nasehat dan motivasi. Berikut ini nasehat yang saya sampaikan untuk dia pada malam itu. Semoga saja Bermanfaat juga bagi orang lain yang kebetulan “bernasib” sama dengannya saat ini.
Menurut hemat saya, seharusnya, Lulus kuliah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mahasiswa, termasuk juga bagi “Putra.” Karena dengan lulus berarti mahasiswa telah terbebas dari belenggu skripsi, tugas, terlebih lagi merdeka tidak lagi bertemu dosen killer atau dosen yang kamu benci. Namun anehnya, beberapa mahasiswa malah tersiksa karena kelulusannya. Tersiksa karena setelah lulus nanti ia akan bekerja dimana? Pertanyaan inilah yang menjadi sumber kegalauan mahasiswa yang baru lulus.
Seperti halnya mantan mahasiswa saya tadi, sebut saja namanya : ‘Putra’ (Samaran). Kelulusan baginya menjadi kebahagiaan, sekaligus juga kekhawatiran. Sebagai alumni lulusan S1, sebuah Jurusan Favorit di Universitas ternama di Kota ini, saat ketemu saya dia berkata, Pak TM, saya kebingungan dalam memprediksi nasib saya di ke depannya. Bahkan, bukannya malah berbahagia saat menghadiri yudisium, dan wisuda nanti awal bulan Pebruari, saya malah terbelenggu rasa cemas yang sangat mendalam. Namun ketika saya ingat beberapa nasehat Bapak saat kuliah dulu, dapat membuat hati saya agak sedikit tenang kembali. Matanya menerawang, dia mencoba mengingat-ingat kembali nasehat saya dulu saat masih kuliah. LALU dia melanjutkan bicaranya. “Kegalauan anak muda bukanlah pertanda buruk. Malah sebaliknya, pemuda yang cemas dan galau terhadap masa depannya adalah pemuda yang akan sukses di masa depan. Begitulah, kata Bapak waktu itu. Kecemasan seorang pemuda atau pemudi merupakan pertanda bahwa pemuda/pemudi tersebut sangat serius untuk menyukseskan dirinya, dan sangat khawatir jika dirinya tidak sukses di masa depan. Namun, “kekhawatiran tersebut alangkah baiknya diiringi dengan upaya maksimal untuk mengembangkan diri menjadi seorang yang sukses. Begitulah kira-kira nasehat Bapak saat saya mengikuti sebuah mata kuliah kesukaan saya yang bapak asuh saat itu”.
Kemudian, giliran saya yang bicara, dan “Putra” diam. Jadi, berbahagialah kamu sekalian yang sedang resah dan galau akan masa depan. Karena perasaan resah dan galau tersebut normal. Akan sangat tidak normal, jika seorang malah dan bermalas-malasan setelah lulus kuliah, karena hal tersebut menandakan jiwa pemalas dan masa depan akan suram. Namun meskipun seorang tengah merasakan keresahan dan galau tidak diimbangi dengan usaha, maka percuma saja. Itu sama halnya dengan menyusahkan diri dengan perasaan resah namun tak mau keluar dari keresahan itu sendiri. Berikut pesan dan saran saya, kepada mantan mahasiswa waktu dia curhat tentang keresahan dan kegalauannya. Setelah lulus, terdapat banyak pilihan yang bisa dilakukan, antara lain :
Pertama, Melanjutkan Studi Lagi. Melanjutkan studi mungkin adalah pilihan baik, namun jangan sampai alasan ini dijadikan ‘momok’ dan alasan bahwa sebenarnya dirimu masih takut untuk masuk ke dunia kerja. Khusus bagi alumni FKIP saya sarankan untuk segera mengikuti Program Profesi Guru (PPG). Apalagi program ini sudah dibuka di Kampus Universitas Syiah Kuala dan kampus lainnya di Aceh. Persiapkanlah dirimu sebaik mungkin. Alasan melanjutkan studi sebaiknya kalian lakukan jika sudah punya rencana matang mengenai gelar S2 yang akan kalian gunakan untuk apa? Jangan-jangan karena alasan yang salah, gelar S2 kalian nanti malah terbuang sia-sia. Tapi, sebenarnya tidak ada yang sia-sia dalam upaya pengembangan diri. Maka sebaiknya, pertimbangkan dengan sebaik-baiknya sebelum melangkah.
Saat ini terlalu banyak sumber beasiswa yang bisa kalian perebutkan. Ada beasiswa dari BPSDM (Pemda Aceh), beasiswa LPDP (Pemerintah Pusat), beasiswa dari lembaga Internasional seperti Aminef, Fullbright, DAAD, dan lain-lain sebagainya. Sebaiknya, untuk melanjutkan studi S2, jangan pernah lagi menyusahkan orang tua. Mereka sudah terlalu susah di masa lalu. Kini biarkan mereka dan orangtuamu menikmati kebahagiaan karena anaknya telah menyelesaikan studi tingkat sarjana. Takzim dan bersyukurlah kepadanya, serta mohon do’a restu agar kamu lebih sukses lagi di masa depan. (Kemudian, saya pesankan, jika dia berminat untuk melanjutkan studi S2, kapan-kapan, jika ada waktu silakan jumpai saya di manapun, mungkin saya bisa membantu, sekurang-kurangnya memberikan Surat Rekomendasi dan beberapa informasi penting lain).
Kedua, Istirahat (Menikmati ‘Gelar Sarjana’ Sekejap). Tidak sedikit dari mantan mahasiswa bimbingan saya yang memilih untuk istirahat terlebih dahulu setelah lulus kuliah. Karena nikmat dan enaknya, istirahat mereka hampir sama dengan hibernasi (kesalahan mengambil keputusan), bahkan lebih parah dari hibernasi, menganggur berbulan-bulan hingga tahunan. Istirahat itu sah-sah saja, namun usahakan jangan terlalu lama beristirahat, dan terlalu asyik beristirahat. Karena istirahat yang terlalu lama akan membuat tubuh dan semangat anda memudar. Terutama semangat mencari kerja atau semangat melanjutkan studi, jika kalian tak semangat, maka dapat dipastikan perempuan manapun akan malas menjalin hubungan denganmu. Istirahatlah sejenak jika itu diperlukan, segarkan kembali otakmu dari belenggu skripsi terdahulu dan traumatis terhadap dosen killer yang selalu menghantui mimpimu saat kuliah dulu. Namun saya ingatkan lagi, jangan terlalu lama, maksimal 6 bulanlah…! Setelah itu, berpacu lagi …karena di depanmu masih banyak batu kerikil yang menghadang untuk mewujudkan impian.
Ketiga, Segera Menikah (Tapi, Sangat Tidak Dianjurkan). Ini dia, hal-hal yang sangat ditunggu-tunggu. Melanjutkan kehidupan dengan memasuki pintu pernikahan adalah hal terindah. Menikah itu bagus, berpahala, menjauhkan diri dari perbuatan zina. Namun, jangan sampai kalian menikah tanpa memiliki pijakan atau modal dasar untuk membangun sebuah mahligai keluarga. Pijakan ini berarti pekerjaan, kesiapan mental, dan lain sebagainya. Tidak sedikit pernikahan dini dan tanpa persiapan matang – yang berujung perceraian, atau tidak mampu bertahan lama, karena selalu dihiasi pertengkaran dan keributan yang tak pernah reda.
Lain halnya dengan teman-temanmu yang orang tuanya memiliki harta melimpah dan terjamin kesejahteraannya. Kalian bisa saja bergantung kepada orang tua yang hartanya tak akan pernah habis dimakan, sekalipun digunakan oleh tujuh keturunan. Namun, ingatlah bahwa orang tua yang baik ialah jika kelak dapat mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya. Hidup mandiri dan hasil kerja keras sendiri jauh lebih bermartabat dan mulia dalam pandangan Allah Swt. Bukankah itu yang kita dambakan dalam hidup ini?
Rezeki memang tidak akan kemana, rezeki memang di tangan Tuhan, dan sayapun setuju kalau rezeki nantinya akan melimpah, jika kita memiliki istri dan anak, karena Tuhan pasti memberikan jalan kemudahan rezeki bagi hamba-Nya yang serius dan bersungguh-sungguh. Saya amat sangat setuju dan saya percaya itu, tapi hal itu berlaku jika sang suami memang punya niat dan kesungguhan mencari kerja dan menafkahi keluarganya dengan penuh rasa tanggung jawab. Jangan lantas kalian sebagai suami hanya mau bermalas-malasan dan menunggu uang jatuh dari langit. Perlu diingat bahwa rezeki memang tak kemana, oleh karena itulah tugas kita adalah untuk menjemput rezeki tersebut yang telah ditebarkan di muka bumi ini oleh Allah Swt.
Keempat, Mencari Kerja (Mungkin Ini, Pilihan Terbaik). Nah, ini dia yang paling banyak dilakukan, dan menurut saya hal inilah yang perlu kalian lakukan. Setelah lulus kuliah ada baiknya jika kalian merasakan pengalaman bekerja terlebih dahulu, sambil berniat untuk membuktikan potensi diri. Banyak para fresh graduate (lulusan baru) yang merasa gugup, galau, dan takut saat memasuki dunia kerja, karena belum siap dan banyak tantangan. Ingatlah, tantangan itulah yang membuat kita semakin cerdas dan dewasa. Kalian harus Percaya, bekerja itu hampir sama dengan saat kalian mengikuti organisasi di bangku sekolah, namun lebih berat tanggung jawabnya. Dengan bekerja, kalian dapat meningkatkan rasa percaya diri, apalagi jika teman-teman kita dulu ketika kuliah masih belum mendapat pekerjaan, sedangkan kita sudah dapat pekerjaaan. Dengan bekerja, kalian sudah meringankan beban orang tua, beban Negara, dan beban bagi diri sendiri tentunya.
Ingatlah bahwa bekerja itu (meskipun gajinya sedikit) masih lebih baik, terhormat daripada tidak bekerja dan menganggur. Jangan kalian merasa gengsi jika menjalani suatu pekerjaan, karena gengsi akan menjauhkan kalian dari rezeki dan Ridha Allah. Jika kalian tidak menyukai sebuah pekerjaan, tidak suka dengan alasan memang pekerjaan itu tak mampu kalian kerjakan. Pekerjaan bukanlah prestise, tapi pekerjaan adalah ibadah.
Saya berani jamin, jika anda masuk bekerja karena dilandasi rasa gengsi, kalian tak akan pernah maju dari tempat kalian berpijak. Yang perlu diingat ialah jangan mencari pekerjaan yang menghasilkan rezeki haram. Karena itu akan menghancurkan masa depanmu yang indah. Itulah tadi beberapa hal yang bisa saya sarankan kepada mantan mahasiswa saya atau alumni sekalian. Semua hal itu saya tulis dan sarankan ini adalah berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika dulu tamat kuliah. Saat itu banyak tempat saya pernah bekerja, sebelum dan pada akhirnya saya menjadi seorang dosen.
Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi para alumni yang lagi galau dalam kebahagiaan. Dan saya mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penyampaian nasehat ini. Betapapun baiknya sebuah nasehat dan saran, jika kita hanya mendengar dan membaca saja, tapi kita tidak pernah melaksanakan dalam kehidupan nyata, maka semua itu akan sia-sia dan tak bermakna. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita senantiasa diberikan kelancaran, keselamatan, kesuksesan, dan selalu dalam lindungan-Nya. Amiin, Ya Rabbal ‘Alamiin.
Banda Aceh, 11 Pebruari 2023






