Home / OPINI

Sabtu, 28 Oktober 2023 - 03:18 WIB

KENAPA KITA SALING MENUDUH DAN MENGANCAM?

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor,
USK, Banda Aceh

[Refleksi Diri Dalam Menyambut Hari Sumpah Pemuda KE 95]

HAL yang dapat menjadikan amal shaleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong. Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah Swt. Seakan-akan dia lebih hebat dari Nabi dan lebih suci daripada Malaikat. Masyaallah.

Berbahayanya penyakit sombong ini adalah punya kemampuan menyelinap masuk dan merusak ke dalam jiwa setiap manusia dan kalangan ulama, ahli ibadah, da’i, mujahid, khatib, pendidik, penulis dan orang yang mempunyai kemampuan talenta (bakat) dan kesuksesan. Penyakit ini tahu betul jalan yang ditempuhnya untuk masuk ke dalam jiwa-jiwa tersebut. Dapat dikatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum merasa yakin bahwa jiwa yang dimasukinya itu telah merasa bangga akan kehebatan dirinya sendiri. Bangga karena telah menjadi mahasiswa dan pemuda sukses atau bangga karena telah mendapatkan gelar. Padahal itu semua hanya takdir Allah – yang kapan saja bisa diambil kembali.

Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda, kadang di antara kalangan orang ada yang bersifat sombong atau membanggakan dirinya sendiri. Itu terlihat dari berbagai hal seperti pamer dan merendahkan orang lain. Banyak orang yang senang publish dirinya yang ia anggap lebih dari orang lain agar orang lain tahu dia ini sudah begini dan begitu padahal ia tidak mengetahui itu adalah bagian dari ujub dan takabur.

Manusia lupa pada hakikat dirinya. Dia lupa bahwa dia diciptakan dari tanah, bahwa asal usulnya adalah dari air yang hina, dan bahwa dia keluar dari kelamin dua kali. Kali pertama ketika dia keluar dari tulang rusuk bapaknya dan kali kedua ketika ia keluar dari rahim ibunya. Dia lupa bahwa walaupun penampilannya menarik, pakaiannya bagus, dia tetap membawa kotoran di dalam perutnya. Dia lupa walaupun dia berbadan tinggi, dia tetap tidak bisa menembus bumi dan menggapai tingginya gunung. Ketika duri menusuknya, ia tetap berdarah. Lalat tetap mengganggunya, dan ular membuatnya takut. Muaranya adalah kematian. Sudahkah kita sadar itu semua? Renungkan lah …

Jika kita dibuka setelah beberapa hari sejak dimakamkan, niscaya keadaan kita sangat menakutkan keluarga dan orang-orang dekat kita. Sebagian orang lupa akan semua itu. Mereka membanggakan diri. Ujub menguasai mereka karena bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, dan pakaian yang bagus serta prestasi diri yang pernah diraihnya. Mereka berjalan di muka bumi dengan takabur, memalingkan pipinya dari manusia, menyeret pakaiannya di belakangnya, memandang manusia dengan pandangan penghinaan dan cibiran. Dia mengira dirinya orang terbaik, padahal sebenarnya mungkin dialah yang terburuk dalam penilaian Allah Azza Wajalla. Dia bisa diliputi oleh adzab Allah di dunia sebelum Akhirat karena kesombongannya itu. Na’uzubillahi Min Dhalik.

Baca Juga  Jeulame Pesta Demokrasi Mahal : Potensi Lahirnya Calon Koruptor

“Dianggap Musuh Tapi Engkau Saudara, Dianggap Kawan Tapi Engkau Lawan, Dianggap Benar Tapi Engkau Salah, Dianggap Tuli Tapi Engkau Bisa Mendengar, Dianggap Engkau Bodoh, Tapi Ternyata Engkau Mampu Membuat Keadaan Negeri Ini Semakin Kacau Balau Hingga Galau. Maafkanlah …, Jika Aku Salah …”

KATANYA, Kita ini sudah merdeka, namun kenapa masih saja ada penjajah berkeliaran di luar sana yang selalu mengancam hak-hak kaum lemah yang tak berdosa hingga mereka mulai berteriak gaduh akan nasib yang telah menimpa mereka. Katanya negeri kita sudah merdeka, namun kenapa penindasan-penindasan masih saja bertaburan di luar sana, masih saja berdiri bagaikan pahlawan yang selalu mewaspadai gerakan para musuhnya. Kenapa pahlawan dianggap pengkhianat, dan orang yg berbuat baik dituding mafia, sementara pecundang dianggap pahlawan? Yang berjuang tulus tanpa fulus, sering gagal, sementara yang mengandalkan “orang dalam” dan keangkuhan kekuasaan acap kali berjalan mulus asal banyak fulus? Mari kita merenung…

Lihatlah bendera yang selalu berkibar lantang dimana ia tak peduli diterpa panas dan hujan ia mengibari rasa satu kesatuan kepada negeri ini, namun kenapa engkau tak peduli dengan arti kibaran itu, apakah kita sudah menjadi orang yang tak mengenal apa itu arti merdeka?. Wallahu ‘Aklam.

Katanya kita ini sudah merdeka, namun entah kenapa kita saling berlomba untuk menjadikan suasana negeri kembali seperti sediakala dimana engkau acuhkan kebenaran, engkau tinggikan kesalahan lalu berteriak jika engkaulah yang paling benar dan bahkan Tuhan yang engkau anggap paling berkuasa atas semua seisi dunia ini seakan-akan tak pernah berarti apa-apa dalam hidupmu. Astargfirullahal ‘Adhiem.

Lihat saja tingkah lakumu, begitu pandai bersandiwara dalam kepura-puraan seakan-akan engkaulah pemeran utama yang mampu menutupi kekurangan atas peran yang lain. Tapi peranmu bukan untuk menghibur untuk memberi, namun dibalik hibur dan berilmu tertanam niat jahat yang ingin memilliki kuasa atas peran yang engkau jalani. Berkuasa hingga tak kuasa menahan emosi dan gejolak jiwa hingga melampuai batas kemanusian adil yang beradab yang terpampang di dada burung garuda itu.

Lihat saja engkau begitu pandai memakai gerak dan rupa seperti bunglon, dimana engkau bersahaja begitu ramah dan santun, namun dibalik senyummu dan tingkah laku baikmu, engkau menyimpan sebuah ambisi penjajah yang begitu erat tertanam dalam dirimu. Kenapa kita saling mengancam, kenapa kita saling menuduh hingga gaduh lalu memfitnah hanya untuk menjadikan dirimu seolah-olah kaulah yang paling berkuasa.

Kenapa kita saling mengadu, saling mengadu dalam keresahan hati rakyat yang semakin menjelma menjadi tak peduli lagi dengan pemimpinnya. Mereka begitu lelah dan lemah untuk bersuara bukan saja karena mereka tak mampu lagi untuk berkata, namun jauhnya janji yang pernah diucapkan terbongkar dalam dusta yang menyakitkan hatinya.

Kenapa engkau begitu sombong dengan kedudukan itu, kenapa kau begitu angkuh dengan jabatan itu hingga engkau menuai ancaman kilat dari para pengemudi negeri ini. Lalu munculah sang pembela yang katanya dari golongan benar, namun pada kenyataannya, mereka hanya berkedok palsu hingga mengakibatkan rasa satu dan kesatuan itu semakin pudar memudar terasa pergi jauh dari peredaran dalam suasana ramah negeri ini. Kita saling mencari siapa mereka dibalik ancaman itu, namun pada kenyataannya kita sendiri sudah lupa jika kita juga termasuk dalam golongan mereka yang tak mengenal dengan baik apa arti dari itu semua.

Baca Juga  Wahai Anak Bangsaku: Jangan Biarkan Hari Ini Mualem Meneteskan Air Mata

Kau ajak mereka berbondong-bondong mengikuti jejak nasehatmu dengan berdalih jika itu salah, jika itu harus dibenarkan dan jika itu harus dinaikan dan diturunkan, namun kau lupa jika kau telah memerangi saudaramu sendiri. Belum lagi jika kau berada dalam posisi yang kau inginkan, engkau seakan-akan tak segan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kau begitu berani mendustai sumpah atas nama Tuhanmu sejak hari itu kau dipercayai menangani negeri ini. Ketika itu semua telah berjalan, engkau tak bisa menahan diri lalu memeras saku bangsa yang dihasilkan dari keringat rakyatmu sendiri.

Tak kasihan kah engkau berlaku kepada bangsa dan negerimu sendiri, engkau mengaku bertanah air satu, berbendera satu dan berbahasa satu, berarti kau begitu paham dan memahami dengan makna yang dari sumpah itu yang tertulis itu jika kita semua yang berada dalam negeri ini adalah satu. Sudah cukup lelah negeri ini melihat tingkah lakumu yang selalu menjauh dari kata satu.

Kau begitu gemar menggemari diri dengan sikap ingin memecah belah yang telah dibangun begitu sulit oleh para pahlawan negeri ini. Mungkin mereka meneteskan air mata jika menyaksikan keadaan negeri kita saat ini, dimana mereka membangun negeri ini dengan jiwa dan raga mereka dengan memerdekakannya dengan susah payah lalu kini kau malah menjajah kembali negerimu sendiri tanpa titik

Sudahlah …, kita ini satu dan bersatu dalam ke beranekaragaman yang kuat, saling menghormati, bertoleransi, saling berjabat tangan dan selalu menyelesaikan segala permasalahan yang ada dengan musyawarah yang pernah dilakukan oleh pendahulu negeri ini. Semoga saja kita semua sadar dan menyadari dimulai dari sendiri jika keadaan negeri kita saat ini sedang dalam keadaan kurang baik, jadi jangan buat berita, masalah dan perihal lain untuk mengambil tindakan dan langkah yang hanya akan mempersulit keadaan.

Berhentilah menyebarkan isu-isu dan fitnah yang tak penting, tak bermakna yang hanya akan mengundang mala petaka menimpa kita semua. Kita ini bersaudara, maka selesaikan dengan baik penuh dengan persaudaraan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semuanya. Selamat Menyambut Hari Sumpah Pemuda 2023. Semoga Indonesia, khususnya bumi kita Aceh selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dari hal yang ingin menghancurkan negeri kita ini, Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Kota Sejarah Banda Aceh, 28 Oktober 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian