MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Kerusuhan yang kembali terjadi di laga-laga final FIFA memunculkan pertanyaan besar. Mengapa olahraga yang menyehatkan pemain justru kerap memicu keributan di tribun penonton?
Kalimat almarhum Bapak Pramuka, “Sepak bola baik untuk pemain, buruk untuk penonton”, kembali viral usai final Piala Dunia terakhir. Kalimat itu dinilai menggambarkan kontras psikologis antara pemain di lapangan dan penonton di tribun.
Para ahli menyebut fenomena ini sebagai “katarsis tertahan”. Pemain punya saluran untuk meluapkan emosi, sementara penonton tidak.
4 Perbedaan Psikologis Pemain vs Penonton
1. Saluran Emosi
Pemain melampiaskan marah, kecewa, dan adrenalin lewat lari, tekel, dan gol selama 90 menit. Usai laga, tubuh kelelahan dan emosi mereda.
Penonton sebaliknya. Emosi naik karena mendukung tim, tapi badan diam di kursi. Adrenalin menumpuk tanpa saluran. Saat tim kalah, luapannya bisa berupa teriakan, lemparan, hingga kerusuhan.
2. Kontrol dan Aturan
Di lapangan ada wasit, peluit, dan aturan main yang jelas. Kekalahan diterima sebagai bagian dari pertandingan yang “fair”.
Penonton tidak punya kontrol itu. Bagi sebagian suporter, kekalahan tim sama dengan kekalahan harga diri. “Argentina = saya”. Tidak ada peluit akhir untuk emosi.
3. Identitas dan Energi
Pemain bermain untuk tim. Penonton membawa identitas pribadi, kelompok, bahkan bangsa ke dalam pertandingan.
Ditambah energi berlebih dari nonton sambil minum, ditambah alkohol dan kepadatan stadion, kombinasi itu rawan menjadi pemicu amuk massa.
4. Dampak Kekalahan di Final
Kasus Argentina disebut menjadi contoh ekstrem. Bagi sebagian besar masyarakat Argentina, sepak bola adalah identitas nasional. Kekalahan di final dengan drama VAR atau penalti gagal dirasakan sebagai “penghinaan kolektif”, bukan sekadar skor 1-2.
4 Pihak Diminta Bertanggung Jawab Cegah Rusuh
Agar sepak bola tetap menjadi hiburan, ahli dan pegiat suporter mengusulkan langkah bersama dari 4 pihak:
1. FIFA dan Panitia Pelaksana
– Transparansi VAR: Menayangkan audio komunikasi wasit secara langsung agar keputusan jelas dan mengurangi spekulasi.
– Desain Stadion Aman: Kursi bernomor, pemisahan kelompok suporter garis keras, larangan botol kaca.
– Hukuman Individual: Menggunakan CCTV dan face recognition untuk menindak pelaku, bukan sanksi kolektif ke satu negara.
– Jeda Emosi: Menayangkan video fair play saat tensi tribun memuncak.
2. Pemerintah dan Kepolisian
– Pendekatan Humanis: Polisi sebagai pengayom, bukan musuh. Model Jerman yang polisi main bola bersama suporter terbukti menurunkan angka kerusuhan.
– Pengaturan Alkohol: Pembatasan penjualan alkohol di dalam stadion.
– Ruang Pelampiasan: Menyediakan area khusus untuk menyalurkan kekecewaan secara aman.
3. Media dan Federasi
– Stop Narasi Perang: Menghindari headline “balas dendam” atau “hancurkan musuh” yang memicu permusuhan.
– Edukasi: Kampanye sportivitas langsung dari pemain.
– Sanksi Tegas: Banned seumur hidup bagi pelaku rasisme dan pelempar flare.
4. Penonton
– Memisahkan Identitas: Mendukung tim bukan berarti menyatukan harga diri dengan hasil pertandingan.
– Menyadari Nonton adalah Hiburan: Menyalurkan kekecewaan lewat cara sehat seperti olahraga atau diskusi.
Inti pesannya sederhana: bermain itu menyehatkan, menonton butuh kedewasaan. Sepak bola akan tetap indah jika semua pihak, dari FIFA hingga penonton, memahami bahwa 90 menit di lapangan tidak boleh merusak 90 tahun persaudaraan di luar lapangan.(Red/Sam)







