Home / EDUKASI / FEATURE

Sabtu, 6 Desember 2025 - 20:43 WIB

Ketika Jalan Terputus, Pengabdian Tak Pernah Padam

Feature –  Pagi itu, langit Bener Meriah menggantung rendah seperti ingin jatuh ke bumi. Sejak 25 November 2025, hujan tidak pernah betul-betul berhenti. Air turun deras dari bukit, membawa lumpur, bebatuan, dan batang pohon. Dalam beberapa jam saja, jalan-jalan utama terendam, jembatan-jembatan ambruk, dan puluhan desa terputus aksesnya. Pemadaman listrik menyelimuti daerah itu, sementara hilangnya sinyal internet membuat warga terjebak dalam gelap informasi.

Di tengah kekacauan itu, satu hal tetap berdiri tegak: pelayanan keagamaan di Kantor Urusan Agama (KUA) Bukit. Dan di baliknya, ada seorang lelaki bernama Wildan El Fadhil, Plt Kepala KUA Bukit, yang memilih untuk tidak berhenti melayani meski bencana terus menelan wilayah itu sedikit demi sedikit.

Tulisan ini merekam perjalanan Wildan, seorang penghulu yang tetap mengayuh sepeda motor di tengah hujan, longsor, dan jalan amblas demi memastikan empat akad nikah tetap terlaksana. Ia menjadi potret kecil dari keteguhan manusia Aceh di tengah salah satu bencana terburuk yang menimpa Bener Meriah dan sekitarnya.

Pada hari pertama bencana, Wildan mengira banjir itu akan seperti banjir-banjir sebelumnya. Namun ketika tanah mulai turun dari lereng bukit dan kabar desa terisolasi berdatangan dari mulut ke mulut, ia paham sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.

“Ini pertama kali saya melihat jalan patah seperti kertas,” ujarnya mengenang peristiwa itu.

Memasuki hari kedua, kondisi berubah drastis. Jalan amblas memutus penghubung antar kabupaten, tiang listrik rebah berserakan, dan akses utama dari Bireuen serta Aceh Utara terhenti total. Data BPBD menunjukkan puluhan desa di Bener Meriah terisolasi, sementara ribuan warga terdampak langsung oleh longsor dan banjir.

Tanpa sinyal dan tanpa listrik, warga hidup dalam ketidakpastian. Informasi hanya datang dari suara-suara yang berkeliling kampung.

Baca Juga  Uji Nurani Negara atas Bencana Sumatra

Ketika memasuki hari ketiga, sembako mulai menghilang dari warung-warung kecil. Wildan dan lima rekannya akhirnya berkumpul di rumah seorang teman agar bisa berbagi persediaan dan saling menjaga informasi. BBM sudah tidak tersedia; genset pun tak lagi bisa dinyalakan.

Namun, di tengah keterbatasan, Bener Meriah menunjukkan wajah terbaiknya. Warga membangun jembatan darurat dari kayu dan papan agar kendaraan roda dua dapat lewat. Para pengendara sering berhenti sekadar mengangkut pejalan kaki yang ingin pulang kampung melalui jalur Gunung Salak. Bahkan beberapa pengusaha menyediakan akses internet Starlink secara gratis di tenda-tenda darurat.

“Kalau bukan karena internet gratis itu, kami tidak tahu kabar keluarga,” kata Wildan.

Solidaritas tumbuh di tempat yang paling gelap.

Bencana tak menghapus tugas pelayanan publik, terutama pelayanan keagamaan. Wildan sadar, sebagai Plt Kepala KUA, ia harus tetap hadir meski medan berubah menjadi berbahaya.

“Ini sudah tugas kita. Apa pun risikonya, masyarakat harus tetap terlayani,” ucapnya Sabtu (6/12/2025).

Dalam masa bencana 26 November hingga 5 Desember, KUA Bukit tetap melaksanakan empat akad nikah. Tidak ada satu pun yang dibatalkan.

Pagi itu, hujan masih turun deras. Wildan harus menghadiri dua akad nikah di Desa Karang Rejo. Ia mengenakan jas hujan tipis, menyalakan motor, dan melakukan perjalanan yang biasanya ditempuh dengan mudah, namun kini menjadi perjalanan penuh risiko.

Di beberapa titik, jalan telah ambles. Longsor kecil masih turun dari bukit. Wildan harus menghindari batu-batu yang bergelinding, sementara ban motornya beberapa kali tergelincir di tanah berlumpur.

“Saya harus sangat hati-hati. Jalan itu bisa ambruk kapan saja,” katanya.

Saat tiba, tuan rumah langsung mengeringkan bajunya di dekat tungku nasi. Pelaminan yang dipesan tak pernah sampai karena akses putus. Namun warga bergotong royong mempersiapkan acara seadanya di tengah hujan.

Baca Juga  5 Prinsip Dasar Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

“Masyarakat di sini luar biasa,” ujar Wildan. “Sekalipun cuaca buruk, tidak ada yang tinggal diam.”

Menjelang akad, kepanikan mulai terasa. Pengantin pria tak kunjung tiba. Jembatan penghubung ditutup air sungai yang meluap, dan jalur alternatif rusak berat. Komunikasi tak mungkin dilakukan.

Keluarga menahan cemas. Para tetua desa sibuk berkeliling mencari kabar. Wildan hanya bisa menunggu sambil membacakan doa dalam hati.

Akhirnya, sekitar pukul 14.30 WIB, rombongan pengantin tiba. Pakaian mereka penuh lumpur. Mereka berjalan kaki dari titik terakhir kendaraan bisa lewat, melintasi genangan air sungai, dan menghindari longsoran kecil yang beberapa kali nyaris menutup jalur.

Tangis haru pecah ketika akad nikah terlaksana. Di tengah bencana, kebahagiaan menemukan jalan untuk hadir.

“Bencana ini ujian berat. Tapi hari ini membuktikan bahwa Allah selalu memberi jalan,” ucap Wildan dengan mata berkaca-kaca.

Hingga Sabtu, 6 Desember 2025, Bener Meriah masih terisolasi. Bantuan hanya bisa dikirim lewat jalur udara. Wildan kembali ke kantor melewati jalan yang makin rusak dan penuh bebatuan. Lelah, tetapi puas karena satu tugas lagi telah ia tunaikan.

“Saya hanya berharap akses segera pulih, agar semuanya kembali normal,” katanya pelan.

Bencana itu merusak banyak hal, jalan, jembatan, rumah, fasilitas umum. Namun ada satu hal yang tidak bisa diruntuhkan oleh banjir dan longsor: solidaritas masyarakat Aceh.

Dalam ke terputus asaan, mereka saling menguatkan. Dalam keterbatasan, mereka saling memberi. Dan di tengah kondisi paling sulit, pelayanan publik tetap dijaga agar tidak padam.

Di saat alam memutuskan jalan-jalan besar, manusia justru menemukan cara untuk menyambung harapan, satu langkah, satu tumpangan, satu akad nikah, dan satu kebaikan pada satu waktu. (EQ)

Share :

Baca Juga

BERITA

Prof Agussabti Usung Transformasi USK Jadi Kampus Sosio-Technopreneur Berdaya Saing Global

EDUKASI

Senyum Tipis Redaksi: Ketika Kuasa Hukum Lupa Membaca di Tengah Skandal Oknum DPRD

ACEH

Jamadon SH MH Raih IAIN Langsa Award 2025: ‘Penghargaan Ini Tanggung Jawab untuk Terus Berkontribusi’

BERITA

Sekolah Kepenulisan Nusainsider.com, Ruang Mahasiswa Mengolah Pikiran Jadi Karya

BERITA

JSI Sumenep Ingatkan Petugas Belakang Kampus UINSA: Tertibkan PKL Tanpa Lukai Kemanusiaan

BERITA

1.300 Pohon Ditanam di TPA Batuan: Kolaborasi SKK Migas – Medco Energi dan Pemkab Sumenep

BERITA

Mulai 1 Desember, SiRUP Gunakan Domain Baru Klinik PBJ BPBJ Aceh Beri Penjelasan

EDUKASI

Universitas Battuta Ikuti PIMNAS 2025 di Universitas Hasanuddin Makassar