![]()
Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Ilmuwan Politik, USK, Banda Aceh.
Membuat kesalahan itu sangatlah manusiawi. Ketika manusia tanpa pernah melakukan kesalahan, menurut saya, justru itu sangat menakutkan. Patut dipertanyakan apakah ia manusia atau malaikat? Karena, hanya seorang Nabi yang diberi kelebihan oleh Allah Swt agar bisa hidup jauh dari berbagai kealpaan dan kesalahan. Karenanya, membuat kesalahan, bukan hal yang perlu dianggap sebagai dosa abadi tanpa bisa dimaafkan. Tapi, akan menjadi sebuah kebodohan, jika kesalahan tersebut dilakukan dua kali atau bahkan berulangkali.
Dan akan menjadi kesesatan jika kemudian kesalahan yang dilakukan justru ditimpakan kepada orang lain. Hal seperti ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari; baik di rumah, di kantor atau tempat kerja, maupun di lingkungan masyarakat. Seorang karyawan ketika ditegur oleh atasannya cenderung mencari-cari alasan untuk dapat menghindar dari kesalahan yang ia lakukan.
Caranya dengan mencari-cari penyebab dari kesalahan tersebut, baik dengan menunjuk orang lain, sesuatu yang lain, atau mengkambing-hitamkan kondisi tertertu sebagai penyebabnya. Perbuatan buruk ini adalah sebuah perilaku yang menunjukkan kesalahan logika (logical fallacy); dimana seseorang akan menyerang pribadi seseorang lainnya atau sesuatu yang tidak ada hubungannya ketika tengah menghadapi berbagai masalah. Dan etika seseorang melakukan logical fallacy dengan menimpakan kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain atau pada kondisi tertentu, maka dia telah melakukan argumentum ad hominem.
Celakanya, argumentum ad hominem justru kerap dilakukan oleh para politisi dan pejabat, akhir-akhir ini. Hampir setiap kali terjadi masalah penting di level nasional, terutama masalah ekonomi, yang memerlukan solusi, malah dijawab dengan pernyataan yang tidak substansial, bahkan dibumbui dengan adegan lelucon, saling tuding dan menggunakan gaya bela diri. Bukan mengambil langkah positif mencari solusi, tapi lebih cenderung menjadikan semua masalah untuk diperdebatkan dan saling bersikeras mempertajam perbedaan.
Seakan-akan terkesan dialah manusia yang paling benar dan orang lain selalu berada di pihak yang salah dan pantas untuk disalahkan. Astargfirullahal ‘Adhiem. Lihatlah, Ketika rakyat berteriak tentang mahalnya daging ayam, minyak goreng, telur dan cabe yang terjadi beberapa waktu yang lalu, para menteri dan pejabat publik justru sibuk berdebat, meributkan penyebabnya, saling menyalahkan, tanpa berusaha untuk mencari solusi agar masalah-masalah itu dapat teratasi dengan baik.
Menyalahkan petani, menyalahkan pedagang hingga menyalahkan cuaca yang disebutnya menurunkan tingkat produktivitas petani padi dan para peternak ayam. Sungguh Aneh … Argumen yang tampak logical fallacy, saat para pemegang kebijakan tersebut mengatakan bahwa salah satu penyebab kenaikan harga telur dan ayam dikarenakan para peternak cuti panjang dalam masa libur panjang Lebaran 2023. Bahkan, kenaikan harga telur juga dikaitkan dengan berlangsungnya Kegiatan Puasa Ramadhan. Hhhmmm… Entah apa yang ada dalam pikiran pejabat kita. Wallahu ‘Aklam.
Bisa dibayangkan bagaimana kasihannya Pak Jokowi, Presiden kita yang telah begitu bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik kepada rakyat dan bangsa ini, justeru dikepung oleh perilaku dan sikap para pembantunya yang mutu celotehannya sangat memprihatinkan, terkesan sebagai “penjilat” dan sangat tak berbobot, menyedihkan dan bahkan kadangkala sungguh memalukan. Banyak sekali logical fallacy para pejabat publik yang membuat bangsa ini selalu ‘gaduh’ tak karuan dan membingungkan kita sebagai masyarakat biasa.
Dari mulai menyebut cacing dalam ikan sarden kalengan adalah sumber protein, rakyat diminta untuk konsumsi keong sawah sebagai pengganti daging sapi yang mahal, hingga rakyat diminta dan disuruh diet saat harga beras naik. Semua logical fallacy tersebut dibawa dalam perdebatan di ruang-ruang perdebatan publik. Dari mulai kampus hingga ke warung-warung kopi.
Masyarakat saling ‘serang’ dan saling merendahkan. ‘cebong’ dan ‘kampret’ saling bully. Saking seringnya hal itu terjadi, rasanya tidak perlu lagi dikemukakan contoh peristiwanya. Walhasil, Persatuan dalam kebhinnekaan serta semangat gotong royong yang menjadi dasar dari bangunan bangsa kita, menjadi luluh lantak berantakan. Astargfirullahal Adhiem.
Perdebatan di ruang-ruang publik dalam suasana argumentum ad hominem tak terhindarkan, shoot the messenger not the message. Logical fallacy memang menjebak perdebatan (yang seharusnya) konstruktif menjadi destruktif dan retorik. Benar tidaknya suatu konklusi tidak didasarkan pada kaidah-kaidah logika. Sebuah kesalahan logika karena pemilihan premis yang tidak tepat, sehingga membuat premis dari proposisi yang salah dan proses kesimpulan premis yang caranya tidak tepat. Yang pasti, sehingga logical fallacy menghasilkan sebuah kesimpulan yang sesat dan menyesatkan karena tidak disusun dengan logika yang benar. Secara sederhana, argumentum ad hominem muncul saat ada keinginan untuk menang dan tak pernah mau untuk dikritik atau disarankan.
Saat dimana seseorang tidak bisa menerima kesalahan dirinya sendiri, sehingga mencari-cari “kambing hitam”. Termasuk menyalahkan rakyat dan kondisi alam ketika terjadi keterpurukan bangsa akibat kesalahan tata kelola pemerintahan oleh sejumlah pejabat negara di negeri ini yang diberi kepercayaan sebagai pembantu Bapak Presiden. Padahal jika yang dicari adalah ‘kotak hitam’ betapa bijaknya bangsa ini.
Bukankah dengan kita menemukan “kotak hitam”, semua masalah yang terekam bisa terbaca tanpa ada dusta diantara kita? Sebetulnya, saya pribadi, sebagai salah seorang Rakyat di negeri ini sangat merindukan Bapak Jokowi, Presiden Pilihan Rakyat, memarahi para pembantunya Yang Berpikir dan bersikap aneh-aneh itu. Hhhmmm … Akan Tetapi, Bukan marah-marah … Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita dan membimbing kita ke jalan yang benar. Aamin, Yaa Rabbal Alamin.
Bumi Sultan Iskandar Muda, 9 Mei 2023







