Home / BERITA

Senin, 11 Agustus 2025 - 20:15 WIB

JAM-Pidum Setujui 4 Perkara Diselesaikan Lewat Restoratif Justice, Salah Satunya di Biak Numfor

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana menyetujui penyelesaian empat perkara pidana melalui mekanisme Restoratif Justice (RJ) atau keadilan restoratif. Keputusan ini diambil dalam ekspose virtual pada Senin, 11 Agustus 2025, dan melibatkan kejaksaan dari Papua hingga Bangka Belitung.

Restoratif Justice adalah penyelesaian perkara pidana di luar pengadilan melalui perdamaian antara pelaku dan korban, dengan tujuan memulihkan hubungan dan mengedepankan manfaat sosial dibanding sekadar menghukum.

Salah satu perkara yang disetujui adalah kasus Perbuatan Tidak Menyenangkan di Biak Numfor, Papua, dengan tersangka Robert Lorens Nap, S.IP. Dalam kondisi mabuk, Robert sempat terlibat adu mulut dan memukul pintu kantor bank, membuat korban ketakutan. Kasus ini berakhir damai pada 5 Agustus 2025 setelah tersangka meminta maaf, korban memaafkan, dan keduanya sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ke pengadilan.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Riset, Fakultas FIKTI UMMAH Jalin Kerjasama dengan Faculty of Bussiness and Science Management KUIPs Malaysia

Selain kasus di Biak Numfor, tiga perkara lain yang disetujui untuk RJ adalah:

1. Jamaris bin Alm. Zainudin (Kejari Aceh Barat Daya) – Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

2. Revi Yulia, S.Kel. alias Kak Tari binti Alm. Anas B (Kejari Aceh Selatan) – Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

3. Hendri Yaputra alias Afen anak dari Awon (Kejari Pangkalpinang) – Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Alasan RJ diberikan antara lain: Perdamaian dilakukan secara sukarela melalui musyawarah mufakat. Tersangka meminta maaf dan korban memaafkan. Para tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana dan belum pernah dihukum. Ancaman pidana tidak lebih dari 5 tahun penjara. Tersangka berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Pertimbangan sosiologis dan respons positif masyarakat.

Baca Juga  Seorang Mahasiswi yang Diduga Sebagai Pengedar Sabu di Bekuk Satresnarkoba

JAM-Pidum meminta para Kepala Kejaksaan Negeri menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) sesuai Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor 01/E/EJP/02/2022.

“Penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif adalah wujud nyata kepastian hukum yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Prof. Asep Nana Mulyana.

Dengan persetujuan ini, Kejaksaan kembali menegaskan komitmennya untuk mengedepankan penyelesaian perkara yang humanis, berkeadilan, dan membawa kemaslahatan sosial. (M Ranto)

Share :

Baca Juga

HUKUM

Polisi Bongkar Laboratorium Rahasia Sabu 1,2 Ton di Pidie, Terkait Jaringan Internasional Tiongkok-Myanmar

BUDAYA

Paradoks Orang Pintar: Banyak yang Merasa Tahu, Tapi Tak Peka Merasakan

BERITA

Pulihkan Kondusivitas Sekolah, Henny Mahera Siregar Ditunjuk sebagai Plh. Kepala SMAN 1 Simpang Ulim

KRIMINAL

Kapolri: Vape Pintu Masuk Narkotika Cair, Cairannya Tak Bisa Dibedakan BNN & Polri!

BERITA

Kick Off Graha Hijau Hitam Tandai Milad Ke-60 KAHMI Sulsel

ACEH

Gerebek Rumah di Meulaboh, Polisi Amankan 4 Orang Dugaan Promosi Jarimah Zina

ACEH

Ini Pesan Bupati Aceh Timur untuk Mahasiswa: Jaga Kekompakan dan Rawat Asrama IKAPA
Masuk Jaringan Global, UIA Paya Lipah Hadiri WCCE 2026 Kemenekraf RI

BERITA

Hadiri WCCE 2026, Rektor UIA Dorong Penguatan Sektor Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah