MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE –Islamic Relief Indonesia menyerahkan 22 unit rumah layak huni dan aman gempa kepada keluarga dhuafa di Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu, 3 Januari 2026. Program ini dijalankan bekerja sama dengan Baitul Mal Kota Lhokseumawe sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan di wilayah rawan bencana.
Rumah-rumah tersebut tersebar di sejumlah gampong, antara lain Blang Crum, Jeulikat, Cot Girek Kandang, Paloh Punti, hingga Uteun Bayi. Sebagian besar penerima manfaat merupakan keluarga dengan kondisi sosial rentan, seperti lansia, ibu tunggal, serta penyintas banjir yang sebelumnya tinggal di rumah tidak layak huni.
Area Koordinator Islamic Relief Aceh, Yusrizal Puteh, mengatakan pembangunan rumah dilakukan setelah tim melakukan seleksi langsung ke lapangan. “Kami menilai kondisi rumah dan ekonomi keluarga. Jika dinilai layak, barulah kami meminta dokumen administrasi seperti KTP, KK, dan surat tanah,” ujar Yusrizal.
Menurut dia, sebelum program ini berjalan, sebagian besar penerima tinggal di rumah berdinding tripleks, beratap rumbia, berlantai tanah, serta rentan bocor dan terendam banjir. Kondisi tersebut dinilai membahayakan, terutama saat cuaca ekstrem dan gempa.
Setiap unit rumah dibangun dengan standar struktur tahan gempa, menggunakan besi berdiameter 12 milimeter, pondasi sedalam 50 sentimeter, serta material yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). “Kami bahkan menggunakan spesifikasi di atas standar minimum SNI,” kata Yusrizal.
Total anggaran pembangunan program ini mencapai sekitar Rp4,5 miliar, termasuk pengadaan perabot rumah tangga. Dana tersebut bersumber dari zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun Islamic Relief dari masyarakat Muslim global, serta kontribusi Baitul Mal Kota Lhokseumawe sebesar Rp25 juta per unit rumah. Islamic Relief menanggung sekitar Rp65 juta per rumah.
Yusrizal mengakui proses pembangunan menghadapi kendala akibat banjir dan longsor yang melanda Aceh dalam beberapa bulan terakhir. Keterbatasan material serta kenaikan harga bahan bangunan sempat memperlambat progres. Meski begitu, ia menargetkan enam unit rumah yang belum rampung dapat diselesaikan dalam dua pekan ke depan.
Pemerintah Kota Lhokseumawe, kata Yusrizal, memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut tanpa intervensi teknis. “Pemerintah kota sangat kooperatif, terutama dalam koordinasi di tingkat gampong,” ujarnya.
Islamic Relief juga memastikan pengawasan dilakukan secara berlapis, mulai dari fasilitator teknik di lapangan hingga audit internal dari pengawas pusat. Selain pembangunan fisik, penerima rumah dibekali edukasi agar hunian dapat dirawat dan digunakan secara berkelanjutan.
Pada 2026, Islamic Relief berencana melanjutkan program serupa dengan membangun sedikitnya 20 unit rumah tambahan, disertai program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga penerima manfaat. (Anna M)







