MEDIALITERASI.ID | PANDEGLANG – Sebanyak 20 mantan narapidana terorisme (napiter) di Banten mengikuti pelatihan teknisi air conditioner (AC) di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Banten, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, Kamis (30/4/2026). Program ini bertujuan mendukung reintegrasi sosial dan kemandirian ekonomi para peserta.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya deradikalisasi setelah para peserta menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Para peserta diketahui merupakan eks anggota Jamaah Islamiyah yang kini berkomitmen meninggalkan paham lama.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Densus 88 Antiteror Polri dan didukung PT Astra International sebagai implementasi pencegahan tindak pidana terorisme sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018.
Dept Head Strategic Business Intelligent PT Astra International, Jaka Fernando, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk kerja sama berkelanjutan dengan Densus 88.
“Ini merupakan kali keenam pelatihan teknisi AC yang kami selenggarakan bersama Densus 88 untuk eks napiter dan jaringan teror di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan teknisi AC dipilih karena tingginya kebutuhan layanan perawatan pendingin udara, baik di rumah tangga maupun perkantoran.
Dalam pelatihan ini, 19 peserta berasal dari kalangan eks napiter, dengan keterlibatan unsur Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di wilayah Banten. Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat proses reintegrasi sosial melalui interaksi lintas kelompok.
Selain pembekalan keterampilan, peserta juga dibekali peralatan servis AC agar dapat langsung bekerja setelah pelatihan selesai. Program ini ditujukan untuk mendorong kemandirian ekonomi dan mencegah keterlibatan kembali dalam jaringan lama.
Pelatihan turut melibatkan alumni yang telah berhasil, seperti Kusnadi asal Serang dan Kartono dari Bogor, yang kini menjadi asisten pelatih. Secara keseluruhan, program ini telah memasuki angkatan ke-6.
Sementara itu, Densus 88 mengedepankan strategi soft approach dalam penanggulangan terorisme melalui pendekatan kemanusiaan, dialog, dan pendampingan berkelanjutan bagi individu yang terpapar paham radikalisme.
Pendekatan tersebut dinilai efektif, terlihat dari capaian zero attack dalam tiga tahun terakhir serta penurunan angka penangkapan kasus terorisme. Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
Melalui kolaborasi berkelanjutan, berbagai pihak berharap upaya penanggulangan terorisme di Indonesia semakin optimal dan mampu menciptakan kondisi yang aman dari ancaman terorisme. (HR)







