Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Akademisi dan Peneliti
USK, Banda Aceh
——
SKRIPSI Merupakan karangan atau karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi sangatlah penting sebagai syarat lulus kuliah. Selain itu, menulis skripsi juga tidak gampang, dan tidak juga terlalu sulit, jika itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun, akan sangat lebih baik kalau mahasiswa mencari informasi lebih mendalam tentang skripsi guna mempersiapkan diri atau sekedar untuk lebih memahami skripsi.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas atau fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Antara lain : Mahasiswa sudah memenuhi sejumlah SKS, (sekitar 110 SKS), tidak boleh ada nilai D atau E, Indeks Prestasi Kumulatif Minimal, 2.00, dan seterusnya. (Ketentuan ini berlaku umum, namun mungkin juga akan terjadi perbedaan secara khusus antar lembaga, fakultas atau perguruan tinggi). Walaupun saat ini Mas Mentri Nadiem Makarim, telah mengeluarkan pernyataannya untuk membebaskan mahasiswa dari skripsi. Terlepas dari itu semua, menulis menurut saya, meneliti dan menulis tetap dibutukan bagi seorang mahasiswa.
Skripsi atau penelitian tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, mahasiswa harus mempertahankan skripsi yang dibuatnya di hadapan tim penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai skripsi bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja harus mengulang ujian skripsi (karena tidak atau belum layak untuk lulus). Untuk itu, penelitian harus dilakukan dengan serius dan sabar. Oleh karena itu, saya sering mengatakan pada mahasiswa bimbingan, orang pintar biasanya seringkali melakukan penelitian terburu-buru, akan tetapi orang yang merasa dirinya ‘bodoh’ selalu melakukan penelitian dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Maka yang disebut peneliti adalah orang yang teliti dan hati-hati. Bertanyalah pada dirimu masing-masing. Anda termasuk orang pintar ataukah orang yang merasa dirinya sebagai orang ‘bodoh’?
Dosen pembimbing skripsi berjumlah dua orang. Kedua pembimbing tersebut disebut dengan istilah Pembimbing I dan Pembimbing II. Biasanya, Pembimbing I memiliki peranan yang lebih dominan bila dibanding dengan Pembimbing II. Tapi acap kali dalam kenyataan para mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan pembimbing II, rata-rata hampir 4-6 bulan – berkisar antara 10-12 kali konsultasi (ini pengalaman yang terjadi selama saya pernah menjadi dosen dan rekapitulasi dari lembaran konsultasi mahasiswa). Akibat kondisi seperti ini membuat pembimbing I seringkali seperti “diteror” oleh mahasiswa ketika mulai proses bimbingan. Karena pada umumnya mahasiswa saat ketemu pembimbing I telah dikejar-kejar oleh waktu ujian, mau yudisium, wisuda dan bahkan mahasiswa ingin mengejar dengan waktu agar tidak perlu lagi untuk membayar SPP. Semua itu sah-sah saja dilakukan asalkan proses yang dijalani serius. Namun yang terjadi selama ini banyak oknum mahasiswa hanya ingin sukses dengan cara instan tanpa menunggu proses. Camkanlah…!!!
Tiap penguji pada ujian akhir skripsi, secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai mahasiswa tentang skripsi yang sudah dibuatnya. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 1 jam hingga 2 jam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaan hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit.
Untuk mahasiswa S1, skripsi diteliti dan disusun dalam bentuk laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Lain halnya dengan Tesis (S2) atau Disertasi (S3).
Proses dari skripsi, sebagai berikut:
A. Pengajuan Judul Skripsi (Kepada Dosen Wali)
B. Pengajuan Proposal Skripsi (Ketua Jurusan/Program Studi)
C. Seminar Proposal Skripsi (Persetujuan Dosen Wali-Difasilitasi oleh Ketua Prodi)
D. Penelitian Lapangan dan Menulis Laporan,
E. Ujian Akhir Skripsi (Sidang Ujian Sarjana).
Bisa saja skripsi sudah dikerjakan setengah jalan, tetapi dosen pembimbing meminta untuk mengganti topik atau judul. Juga tidak jarang dosen tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang mahasiswa merasa bahwa kesimpulan atau penelitiannya sudah benar, tetapi dosen merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak perlu merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu. Karena sukses itu selalu diawali dengan sikap sabar dan santun. Keangkuhan dan merasa diri pintar merupakan penyebab utama mahasiswa akan gagal studi. Menulis Skripsi jelas menghabiskan waktu, tenaga, dan dana yang cukup lumayan. Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi, dan lain sebagainya.
Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal dengan Dosen Wali atau Penasehat Akademik. Biasakanlah untuk konsultasi dengan Dosen Wali-mu tentang rencana penulisan skripsi. Tidak salah juga jika dirimu memohon agar dosen wali dapat memberikan pencerahan tentang topik-topik yang hangat untuk diteliti. Bukankah dosen wali juga ikut bertanggung jawab secara moral agar kamu cepat sukses studi?
Unsur kekinian perlu diperhatikan dalam penulisan skripsi. Topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik yang sudah lama (judul skripsi sejuta umat), penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya. Semakin banyak topik atau judul yang telah ditulis orag lain – tentang skripsimu akan semakin berpeluang kamu gagal dalam ujian. Karena dosen penguji akan selalu bertanya, apa kekurangan dan kelebihan studi orang lain bila dibandingkan dengan studi yang kamu lakukan. Atau apa pula keunggulan dari penelitian kamu sendiri?
Bab I (Pendahuluan) pada skripsi harus mendapat perhatian lebih. Di bagian ini, mahasiswa menuliskan isu (masalah), motivasi, tujuan, dan kontribusi penelitian. Jika bagian ini bisa dijelaskan secara runtut, baik, logis, dan kredibel, maka biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Nah, apakah Anda termasuk orang yang hanya asyik berpikir ‘mau menulis apa’ atau anda hanya sibuk mencari alasan menyalahkan orang lain untuk menutupi kelemahan dan kebodohanmu dalam menyelesaikan skripsi? Wallahu ‘aklam Bissawab…







