MEDIALITERASI.ID | ACEH UTARA – Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, kembali melayani aktivitas perdagangan internasional dengan mengekspor komoditas biomassa berupa Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang sawit seberat 9.500 metrik ton ke Jepang. Ekspor ini menegaskan peran pelabuhan tersebut dalam mendukung pengiriman komoditas energi terbarukan ke pasar global.
Pengiriman PKS tersebut dimotori oleh PT Kharisma Inti Mitra Indonesia dan dioperasikan oleh Pelindo Regional 1 Lhokseumawe selaku pengelola terminal. Proses pemuatan berlangsung selama dua kali dua puluh empat jam (2×24 jam), dimulai pada 13 Januari dan rampung pada 14 Januari 2025 dini hari, dengan melibatkan tenaga kerja lokal di kawasan pelabuhan.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Lhokseumawe yang diwakili Danpos KPLP Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Zulhamdi, mengatakan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama dalam pelayanan kapal asing.
“Kami memastikan standar keamanan diterapkan secara maksimal agar kapal-kapal internasional merasa aman dan nyaman selama beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukueh. Pengamanan dilakukan secara terintegrasi sejak kapal sandar hingga kembali berlayar,” ujar Zulhamdi.
Sementara itu, General Manager Pelindo Regional 1 Lhokseumawe, Aulia Rahman, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga kualitas layanan dan efisiensi operasional guna memberikan kepastian kepada pengguna jasa pelabuhan.
“Kelancaran proses pemuatan dan ketepatan waktu menjadi prioritas utama kami agar eksportir mendapatkan kepastian operasional,” kata Aulia Rahman.
Hal senada disampaikan Deputy Branch Manager Operasi dan Teknik Pelindo Regional 1 Lhokseumawe, Taufik Rahmat Nasution. Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas kepelabuhanan diawasi secara intensif untuk memastikan standar pelayanan terpenuhi.
“Seluruh proses operasional kami kendalikan secara ketat dan dikelola secara kolaboratif agar layanan berjalan optimal serta komoditas unggulan Aceh dapat terserap pasar internasional,” ujarnya.
Kegiatan ekspor PKS ini berlangsung di tengah berbagai tantangan nasional, termasuk dampak bencana yang memengaruhi aktivitas ekonomi di sejumlah daerah. Meski demikian, ekspor tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas perdagangan global dari Aceh tetap berjalan.
Dengan dukungan infrastruktur pelabuhan, kolaborasi lintas instansi, serta keterlibatan tenaga kerja lokal, Pelabuhan Umum Krueng Geukueh terus memperkuat posisinya sebagai simpul logistik regional yang menghubungkan Aceh dengan pasar internasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (Muntaz)







