Home / OPINI

Jumat, 17 Februari 2023 - 02:57 WIB

Betapa Berharganya Seorang Anak di Hati Ibu

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial

Bismillahirrahmanirrahim,
“Yaa Allah … Yaa Tuhanku, Berikanlah Aku Keberanian dan Hikmat, dalam Mengambil Keputusan, Agar Aku tak Salah Dalam Melangkah Untuk Menjalani Hidup Ini Sebagai Hamba-Mu Yang Taat dan Istiqamah Dalam Iman. Aamiin, Yaa Rabbal ‘Alamin”.

Dalam kesempatan ini, Izinkan Saya dan Keluarga Mengucapkan Selamat Berbahagia Untukmu Para Pengantin Baru yang telah/akan menikah dan/atau akan/sedang meresmikan pernikahannya hari ini. Sekaligus juga kami mohon maaf karena tidak semua undangan bisa kami penuhi dan hadiri secara fisik karena dengan berbagai sebab dan alasan. Akan tetapi, saya selalu berusaha untuk bisa berbagi kebahagiaan dan merasakan indahnya kebersamaan untuk meraih cinta yang sesungguhnya.

Misalnya, isteri atau anak saya tercinta yang berusaha untuk dapat memenuhi undangan dan penghormatan itu. Dengan cara seperti ini, mudah-mudahan diharapkan jalinan ukhwah, persahabatan dan persaudaraan di antara kita tetap terjaga dan lestari dalam Ridha-Nya. Meski saya pribadi, secara fisik tak bisa memenuhi semua undangan itu, tapi yakinlah salam dan do’a kebahagiaan dari kami selalu menghiasi dan menyertainya. Barakallahu Fiekum Wa Ahlikum.

Beriring dengan dengan itu, tulisan ini sengaja saya hadirkan pada akhir pekan untuk mengingatkan pengantin baru, siapapun dia, yang menikah ataupun meresmikan pernikahannya pada hari yang mulia ini, agar mereka selalu menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya, terutama untuk seorang Ibu yang telah melahirkan, menyusui, mendidik, membimbing dan membesarkannya. Allahu Akbar … Walillahil hamd …

Selamat Menempuh Hidup Baru Untukmu Pengantin Baru. Semoga Berbahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Amin3x, Yaa Rabbal ‘Alamin.

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan untuk buah cintanya. Seberapa jauhpun jalan yang harus ditempuh, seberat apapun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang akan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan yaitu dengan sebuah kata ; “positif”. Masya Allah… Allahu Akbar.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di dalam perutnya.

Seringkali ia bertanya; menangiskah dia? Tertawakah dia? Sedih atau bahagiakah dia di dalam sana? Bahkan, ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkan nya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir dan hadir ke dunia ini. Masya Allah.

Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Pada Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Baca Juga  PANJI GUMILANG HAMPIR TUMBANG

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satupun thema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali soal kelucuan anak-anaknya.

Si kecil baru saja berucap “Ma …” segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon. Saat baru pertama berdiri, dia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdo’a, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.

“Demi anak dan Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga selalu memintanya dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, dan setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.

Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang.

Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak yang dicintai. Si ibu tidak pernah berpikir dan membayangkan tentang bagaimana sikap si anak untuknya nanti. Hatinya begitu tulus dan mulia untuk mencintai anak-anaknya.

Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis : 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya, baru tertulis kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli.

Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar. Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.

Meskipun kadangkala suaminya sering menyakiti dan melukai hatinya. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.

Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.

Baca Juga  Bendera Bajak Laut dan Suara Anak Muda: Jangan Biarkan Negara Gagal Paham

Rasa ngantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik.

Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya pun, ia terus pun mendongeng agar si kecil bisa tertidur.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah atau ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, “sudah makan belum?” tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah.

Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus. Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis?

Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin.

Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku sayang?” Wallahu ‘aklam.

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya akan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian wahai anak-anakku tercinta”.

Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.

Wahai para pengantin, ucapkanlah : Wahai ibuku Yang Mulia, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya.

Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu : cinta. Sebuah kata yang sulit aku dapatkan dari orang lain. Sekolah yang hanya punya satu guru : pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama : yang dicintai. Subhanallah Walhamdulilah Wala Ilaha Illallah, Allahu Akbar. Semoga Bermanfaat! (Salam Takzim Penuh Cinta@TM)

Banda Aceh, 17 Februari 2023.

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik

KESEHATAN

JKA dan Feodalisme Politik Modern : Ketika Pengawasan Publik Dianggap Gangguan Kekuasaan

HUKUM

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

EDUKASI

Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi

OPINI

Paradoks Fisikal dan Persistensi Kemiskinan: Kritik Struktural atas Tata Kelola Dana Otonomi Khusus Aceh

OPINI

Ketika Kekhususan Menjadi Topeng Kekuasaan : Erosi Makna dan Krisis Akal Sehat Kepemimpinan Aceh