Home / BERANDA / BERITA / HUKUM / NASIONAL / POLITIK

Selasa, 15 September 2026 - 11:57 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa Dicopot dari Menteri Keuangan, Ini 2 Kebijakan yang Picu Ketidaknyamanan Elit

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Presiden mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin, 14 September 2026. Pencopotan itu terjadi kurang dari 375 hari sejak Purbaya dilantik dan memicu spekulasi bahwa penyebabnya bukan kinerja ekonomi, melainkan gaya kepemimpinan fiskal yang dianggap terlalu agresif dan independen.

Purbaya dikenal sebagai teknokrat dengan latar belakang insinyur dan ekonom pasar. Sejak awal menjabat, ia mengambil sejumlah langkah yang menyimpang dari pakem birokrasi fiskal konvensional dan menyentuh kepentingan kelompok usaha besar.

Dua Kebijakan Pemicu

Sumber di internal pemerintah menyebut ada dua kebijakan utama Purbaya yang menjadi titik benturan dengan elit politik dan bisnis.

Pertama, realokasi dana APBN Rp200 triliun ke bank Himbara.

Kebijakan itu dieksekusi Purbaya sekitar Oktober 2025, sebulan setelah pelantikan. Dana tersebut diputar ke sektor perbankan milik negara dengan syarat ketat: penyalurannya dilarang untuk konglomerat.

Baca Juga  Bencana Berlapis: Korban Banjir Aceh Timur Jadi Korban Kembali Akibat Verifikasi yang Gagal

Purbaya mengarahkan likuiditas itu hanya untuk korporasi menengah di sektor industri dan perdagangan. Kebijakan ini diperpanjang pada Februari 2026 karena dinilai efektif meningkatkan peredaran uang di sektor riil.

Namun langkah itu memunculkan ketidaknyamanan di kalangan elit bisnis besar yang selama ini memiliki akses mudah ke pembiayaan murah dari negara.

Kedua, penolakan bailout proyek Kereta Cepat Whoosh.

Pada Agustus 2026, di tengah desakan agar APBN menanggung utang proyek tersebut, Purbaya bersikukuh menolak. Ia menegaskan penyelesaian harus dilakukan melalui skema Business-to-Business (B2B) dan APBN tidak boleh digunakan untuk menutup kerugian korporasi.

Sikap itu menempatkan Purbaya berseberangan langsung dengan kepentingan pendukung proyek mercusuar pemerintah.

Baca Juga  Terima Audiensi Para Buruh, Kapolri Apresiasi Upaya Menjaga Ruang Demokrasi

Gagal di Politik, Bukan di Ekonomi

Analis menilai pencopotan Purbaya adalah sinyal bahwa sistem politik nasional memiliki “alergi” terhadap gaya kepemimpinan fiskal yang blak-blakan dan tidak kompromistis.

“Purbaya tidak dicopot karena gagal menjaga indikator ekonomi. Ia dicopot karena gagal berpolitik. Ia mendobrak zona nyaman birokrasi dan kepentingan besar,” ujar seorang sumber yang memahami dinamika di kabinet.

Hingga berita ini diturunkan, Istana belum memberikan keterangan resmi terkait alasan spesifik pencopotan Purbaya. Pemerintah hanya menyatakan reshuffle dilakukan untuk “penyegaran dan percepatan program kerja”.

Dengan dicopotnya Purbaya, publik kini menunggu siapa figur yang akan menggantikan kursi Menteri Keuangan dan apakah arah kebijakan fiskal akan kembali ke pola yang lebih konservatif. (*)

Share :

Baca Juga

BERITA

Kepala Suku Wedaumamo Nabire Tanggapi Wacana Definisi Orang Asli Papua

ACEH

11 Bulan Bertahan di Tenda Darurat, 6 KK Korban Banjir Blang Peuria Aceh Utara Belum Dapat Huntap

BERITA

IKA UIN Sultanah Nahrasiyah Periode 2026–2030 Bentuk Jaringan Alumni hingga Luar Negeri

ACEH

Ketua TP-PKK Kabupaten Aceh Timur Borong Tiga Penghargaan Di Banda Aceh

ACEH

Waled Nuruzzahri Dukung Balai Rehabilitasi Narkoba di Jantho, Desak Pergub Qanun P4GN Segera Diterbitkan

BERITA

Tokoh Pemuda Meepago Minta Gubernur Papua Tengah Evaluasi SK Nomor 14 Tahun 2026 tentang OAP

BERITA

Purbaya Yudhi Sadewa Diberhentikan, Suahasil Nazara Kini Memimpin Kemenkeu

BERITA

Tepati Janji, Pon Yaya Serahkan 26 Pasang Sepatu untuk Tim Juara Kuta Makmur