MEDIALTERASI.ID | ACEH UTARA — Sebanyak enam kepala keluarga (KK) korban banjir bandang di Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, bertahan hidup di tenda darurat selama 11 bulan terakhir. Tenda dibangun seadanya dari kayu sisa banjir, terpal sebagai dinding, dan seng bekas untuk atap.
Jika cuaca terik, suhu di dalam tenda terasa menyengat. Namun hingga Senin (14/9/2026), belum ada rumah yang disediakan negara untuk menampung mereka.
Banjir yang menghantam desa tersebut terjadi pada 26 November 2025 lalu dan menyapu rumah warga.
Bangun Tenda Mandiri, Berharap Rumah Selesai 3 Bulan
Salah seorang penyintas, Ramadhan, mengatakan tenda yang mereka tempati dibangun secara mandiri agar tetap bisa tinggal di lahan sendiri.
Mengutip Kompas.com “Tenda ini dibangun mandiri. Dibuat seadanya agar bisa ditempati. Awalnya kita berpikir rumah akan selesai tiga bulan. Namun sudah 11 bulan pun belum ada tanda-tanda rumah,” ujar Ramadhan kepada, Senin (14/9/2026).
Ia mengaku warga nyaris tak bisa lagi mengeluh. Bantuan logistik sudah tidak ada, sehingga mereka harus bangkit dengan kemampuan sendiri.
“Bantuan juga sudah tidak ada. Jadi, ya mandiri sajalah. Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu sangat menyebalkan,” katanya.
Tolak Huntara Kecil, Harap Huntap Segera Dibangun
Ramadhan menyebut, warga tidak menerima hunian sementara (Huntara) yang dinilai terlalu kecil untuk keluarga dengan banyak anggota. Sebagai gantinya, mereka menerima uang sewa rumah.
“Lebih baik bertahan begini, di rumah sendiri. Besarnya kita tempel-tempel saja. Kalau di hunian sementara kecil sekali. Kita anak ramai, tidak muat,” ujarnya.
Ia menambahkan, bantuan lain seperti jatah hidup (Jadup), uang stimulan isi rumah, dan pemulihan ekonomi juga belum diterima.
“Semuanya dari uang sendiri. Kami harap bisa dipercepat bantuan rumah,” kata Ramadhan.
Menurutnya, sebanyak 13 unit rumah telah diajukan untuk dibangun kembali, namun hingga kini belum ada kejelasan kapan realisasi pembangunan dimulai.
Desakan untuk Pemerintah Kabupaten
Penyintas banjir lainnya, Subhan, mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk mempercepat pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi seluruh korban banjir.
“Jangan dibiarkan kami terlalu lama tidak mendapatkan rumah. Kalau bangun rumah sendiri layaknya sebelum banjir, kami tidak mampu. Tidak punya uang dalam waktu dekat untuk membangun rumah,” ujar Subhan.
Subhan berharap pemerintah fokus menyelesaikan pembangunan rumah korban banjir yang hingga kini masih terkatung-katung tanpa kepastian. (*)







