Kerugian satu kandang capai Rp360 juta. Demonstran tuntut kompensasi dan tanggung jawab PLN
MEDIALITERASI.ID | PALANGKA RAYA — Ratusan bangkai ayam dilempar ke halaman Kantor PLN UP3 Palangka Raya di Jalan Ahmad Yani pada 29 Juli 2026. Aksi itu menjadi puncak kekecewaan peternak setelah pemadaman listrik selama dua hari menyebabkan ribuan ayam broiler mati di dalam kandang sistem close house.
Peristiwa terjadi pada 28 hingga 29 Juli 2026. Menurut keterangan para peternak, sekitar 90 persen kandang modern di Palangka Raya mengalami pemadaman. Blower dan sistem ventilasi berhenti, oksigen di dalam kandang menipis, dan ayam yang seharusnya tinggal menunggu panen mati secara massal.
Kronologi dan Dampak
Peternak mengaku telah berupaya menyelamatkan ternak dengan menyalakan genset. Namun mesin itu tidak kuat beroperasi nonstop dan akhirnya ikut mati. Kondisi diperparah dengan kelangkaan BBM di SPBU sehingga genset cadangan sulit diisi.
“Dalam waktu singkat, ribuan ayam mati. Satu kandang kapasitas 40 ribu ekor bisa rugi sampai Rp360 juta,” kata salah seorang perwakilan peternak saat berorasi di kantor PLN.
Total kerugian secara keseluruhan belum dihitung, tetapi peternak menyebut ini bukan sekadar gagal panen. “Ini brankas yang meledak,” ujar mereka.
Hari Pertama Dialog, Hari Kedua Amarah
Pada hari pertama, 28 Juli, massa masih menggelar orasi dan menuntut dialog serta kompensasi. Suasana berjalan relatif tertib.
Memasuki hari kedua, kesabaran habis. Massa membawa satu unit pick-up berisi ratusan bangkai ayam dan melemparkannya ke gerbang, halaman, hingga trotoar kantor PLN. Aroma menyengat membuat aktivitas di sekitar kantor terganggu.
Para demonstran kecewa karena General Manager PLN UID Kalselteng saat itu berada di Banjarbaru. Yang menemui hanyalah pejabat di bawahnya. “Kami butuh keputusan, bukan hanya mendengar,” teriak salah satu orator.
Respons PLN dan Ancaman Aksi Lanjutan
Hingga 30 Juli 2026 pagi, GM PLN UID Kalselteng akhirnya merespons. Berdasarkan informasi dari perwakilan demonstran, GM berjanji hadir ke Kantor UP3 Palangka Raya pukul 09.00 WIB untuk bertemu langsung.
Sementara itu, kelompok yang menamakan diri Gerakan Palangka Raya Gelap sudah membuka pendaftaran untuk “Aksi Jilid III”. Mereka mengajak UMKM dan warga terdampak pemadaman lain untuk ikut bergabung.
Catatan Kritis
Pemadaman ini menyorot kerentanan usaha peternakan modern yang sangat bergantung pada pasokan listrik 24 jam. Sistem close house memang efisien, tetapi satu kali padam bisa melumpuhkan seluruh isi kandang.
Di sisi lain, kelangkaan BBM saat krisis membuat upaya mitigasi peternak menjadi sia-sia. Negara hadir bukan hanya lewat tiang listrik, tetapi juga lewat jaminan energi dan kompensasi ketika layanan dasar gagal.
Jika pertemuan 30 Juli tidak menghasilkan solusi konkret, bukan tidak mungkin aksi berikutnya akan lebih besar. Hari ini yang datang bangkai ayam. Besok, tuntutannya bisa berupa tanggung jawab penuh atas matinya usaha rakyat.
Untuk warga Palangka Raya, kalimat “listrik padam” kini bukan hanya berarti lampu gelap. Ia berarti harapan, pendapatan, dan ribuan nyawa ternak ikut padam bersamaan.(Red/Sam)
—
Artikel ini disusun berdasarkan keterangan demonstran, pantauan di lokasi, dan informasi dari perwakilan peternak Palangka Raya. Pihak PLN belum merilis pernyataan resmi tertulis hingga berita ini diturunkan.







