MEDIALITERASI.ID | ACEH TAMIANG – Dua bulan lebih setelah banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, sejumlah warga terdampak di Desa Kota Lintang, Kecamatan Kuala Simpang, mengeluhkan lambatnya proses pemulihan. Hingga kini, Minggu (1/2/2026) banyak rumah warga belum layak huni, lumpur sisa banjir belum dibersihkan, serta bantuan yang diterima dinilai belum mencukupi kebutuhan dasar.
Warga menyebut mereka masih diminta membersihkan rumah secara mandiri, meskipun lumpur telah mengeras dengan ketebalan mencapai lebih dari satu meter di dalam rumah dan menutup akses jalan lingkungan. Kondisi tersebut diperparah dengan hilangnya sumber mata pencaharian warga akibat banjir, dengan ketinggian air saat kejadian dilaporkan mencapai sekitar enam meter.
Fatimah, warga Desa Landuh Dusun Cendrawasih, mengatakan keterbatasan ekonomi membuat warga kesulitan melakukan perbaikan rumah.
“Kami diminta membersihkan rumah sendiri, sementara untuk mendapatkan uang sangat sulit karena tempat usaha sudah hanyut dibawa banjir,” ujarnya Fatimah kepada Tim Aliansi Pers Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Keluhan serupa disampaikan Armia, warga desa yang sama. Sementara itu, Koko, warga Desa Landuh Dusun Merak, mengaku selama lebih dari dua bulan pascabanjir hanya menerima bantuan beras dalam jumlah terbatas.
“Kami berharap rumah kami bisa segera diperbaiki di lokasi semula dan dana korban banjir dapat segera disalurkan. Banyak warga masih trauma,” katanya.
Warga lainnya, Hendri dan Abdul Muis, menyatakan tidak membutuhkan hunian sementara (huntara) yang dibangun di lokasi lain.
“Kami tidak membutuhkan huntara. Yang kami butuhkan adalah perbaikan rumah di tempat kami tinggal,” ujar mereka.
Yunita, warga Dusun Garuda, berharap pemerintah segera membersihkan lumpur di jalan depan rumah serta menyediakan tim pembersihan rumah agar warga dapat kembali menempati rumah masing-masing. Hal senada disampaikan Nurbaini, warga Dusun Rajawali, yang menyebut lumpur di dalam rumahnya telah mengeras dengan ketebalan lebih dari satu meter.
Sejumlah warga juga menyatakan bahwa selama ini bantuan lebih banyak datang dari relawan. Adapun bantuan dari pemerintah yang diterima umumnya berupa beras dan mi instan dengan jumlah terbatas.
Dikonfirmasi terpisah, Datok Desa Kota Lintang, Fadil, membenarkan bahwa masih banyak warganya belum mampu membersihkan rumah secara mandiri akibat tebalnya lumpur pascabanjir.
“Kami juga mengalami kesulitan membersihkan jalan lingkungan karena membutuhkan alat berat,” kata Fadil.
Menurutnya, kebutuhan mendesak saat ini meliputi ketersediaan ekskavator kecil dan mobil dump truck untuk mengangkut lumpur, serta pembangunan sumur bor guna memenuhi kebutuhan air bersih warga.
“Jika jalan lingkungan dapat dibersihkan, warga yang rumahnya tidak rusak parah bisa kembali menempati rumahnya dan mulai beraktivitas, sehingga pemulihan ekonomi dapat berjalan secara bertahap,” ujarnya.
Fadil juga berharap adanya tambahan bantuan bahan pangan, terutama menjelang bulan Ramadan, mengingat persediaan kebutuhan pokok warga semakin menipis.
Terkait keluhan warga mengenai minimnya bantuan dan lambatnya pemulihan pascabanjir, redaksi telah berupaya mengonfirmasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Namun hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi terkait progres penanganan, distribusi bantuan, maupun rencana pengerahan alat berat ke wilayah terdampak. (Aliansi Pers)







