Ilustrasi pelaksanaan nobar yang diselenggarakan masyarakat. Foto: Istimewa
Medialiterasi.id | Banda Aceh – Demam Piala Dunia 2026 mulai menyihir pencinta sepak bola di Aceh. Euforia nobar meriah dengan tebak skor jadi pemandangan biasa. Namun Majelis Permusyawaratan Ulama MPU Aceh tegas mengingatkan: jaga keseruan tetap bersih dari taruhan, sekecil apa pun.
Ketua MPU Aceh Tgk Faisal Ali yang akrab disapa Lem Faisal menegaskan, esensi judi bukan pada besar-kecilnya nominal, tapi pada kesepakatan untung-rugi dari hasil yang belum pasti.
“Sekecil apa pun nilai taruhannya itu tetap judi. Hindari segala sesuatu yang bersifat taruhan dan judi,” kata Lem Faisal, Rabu 10 Juni 2026.
Ia meluruskan kebiasaan “iseng” seperti taruhan traktiran kopi atau makanan bagi pendukung tim kalah. Menurut pandangan syariat, kebiasaan itu tetap tidak dibenarkan.
“Pesta nonton bola Piala Dunia harus dijadikan sebagai hiburan dan sarana silaturahmi sesama penggemar sepak bola, bukan untuk mencari keuntungan tertentu,” ujarnya.
Jaga Ibadah dan Kenyamanan Tetangga
Selain soal taruhan, MPU Aceh juga mengingatkan agar euforia tidak melalaikan kewajiban. Pertandingan yang berlangsung larut malam hingga dini hari jangan sampai mengganggu pekerjaan, pendidikan, dan ibadah.
Lem Faisal mengajak masyarakat menyikapi turnamen empat tahunan ini dengan bijak dan dewasa. Dukung tim boleh riuh, tapi jangan sampai mengganggu ketenteraman warga sekitar saat nobar.
“Nonton bola tidak boleh sampai mengganggu kewajiban. Jangan terlalu ribut karena bisa mengganggu kenyamanan tetangga. Hindari narkoba, hindari caci maki dan bahasa jorok lainnya dalam nonton bola,” tegasnya.
Melalui momentum Piala Dunia 2026, MPU Aceh berharap masyarakat Aceh menunjukkan diri sebagai pencinta sepak bola cerdas: menikmati hiburan positif, mempererat silaturahmi, sambil tetap teguh menjaga nilai syariat dan ketertiban.
Ditulis berdasarkan berita http://AJNN.net, 10 Juni 2026, judul asli: “MPU Aceh Ingatkan Warga Jangan Jadikan Piala Dunia Ajang Taruhan”. (AYD)







