Foto: Replika kapal Flor de la mar di museum bahari kota Malaka
Tenggelam 1511 saat badai, bangkai kapal terbesar Eropa abad ke-16 itu masih jadi buruan pemburu harta karun hingga kini
Medialiterasi.id | Jakarta — Legenda kapal Portugis Flor de la Mar yang tenggelam membawa muatan emas hasil rampasan dari Malaka masih menarik perhatian dunia. Kapal itu karam di perairan Aceh pada 1511 setelah diterjang badai saat pelayaran menuju India.
Flor de la Mar dibangun di Lisboa, Portugis, sekitar 1502. Kapal berbobot 400 ton dengan panjang 36 meter itu dijuluki kapal terbesar di Eropa pada masanya. Kapasitasnya mencapai 500 pelaut dan 50 pucuk senjata. Nahkoda pelayaran perdananya ke India adalah Estevao da Gama, sepupu penjelajah Vasco da Gama.
Puncak sejarah kapal terjadi pada 1511. Setelah armada Portugis di bawah Alfonso de Albuquerque menaklukkan Kesultanan Malaka, Flor de la Mar ditugaskan mengangkut harta rampasan perang. Menurut buku Respons Islam terhadap Hegemoni Barat karya Amirul Hadi 2006, kapal memuat sekitar 60 ton emas. Amirul menyebutnya sebagai harta rampasan termahal yang diperoleh Portugis sejak tiba di India.
Dalam perjalanan dari Malaka ke India, kapal dikawal armada kecil untuk menghindari bajak laut. Namun di hari kedua pelayaran, rombongan memasuki jalur badai besar. Kondisi kelebihan muatan membuat kapal sulit dikendalikan.
Foto: Replika kapal Flor de la mar di museum bahari kota Malaka
“Kapal yang kelebihan muatan itu segera tenggelam ke dasar laut. Membawa serta seluruh awak kapal dan semua harta berharga yang dikandungnya,” tulis Peter O. Koch dalam To the Ends of the Earth: The Age of the European Explorers 2015.
Flor de la Mar dilaporkan menghantam terumbu karang di perairan Pedir, Aceh, dekat Pulau Sumatera. Semua awak termasuk pimpinan ekspedisi Alfonso de Albuquerque menyelamatkan diri. Muatan emas 60 ton ikut tenggelam.
Sifat emas yang tahan air membuat para ahli meyakini logam itu masih ada di dasar laut meski posisinya dipastikan bergeser dari titik awal karam. Hingga 2024, belum ada pemburu harta karun yang berhasil menemukan dan mengangkat bangkai serta muatannya secara definitif.
Kisah Flor de la Mar kini menjadi bagian sejarah maritim Nusantara. Replika kapalnya dipajang di Museum Bahari Kota Malaka sebagai pengingat era penjelajahan dan perdagangan rempah-rempah. (AYD)
Catatan: Kisah ini bersumber dari catatan sejarah dan literatur. Belum ada bukti arkeologis final terkait lokasi pasti bangkai Flor de la Mar.







