Home / BERITA / OLAHRAGA

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:06 WIB

“King of the Wet” Pergi, Malaysia Kini Sandar Harapan pada Hakim Danish untuk Pecah Kemarau Moto3  

Khairul Idham Pawi, Pelumba Moto3 2017 asal Malaysia

Oleh: Azizul Farhan

MEDIALITERASI.ID | CATALUNYA – Malaysia kembali punya alasan untuk menatap grid Moto3 dengan harap. Muhammad Hakim Danish Ramli jadi nama tunggal yang membawa beban penantian sejak Khairul Idham Pawi menang dua kali pada 2016.

Di GP Catalunya 2026, pelumba asal Kampung Surau Panjang, Kuala Terengganu itu mengejutkan padok dengan menjadi terpantas dalam dua sesi latihan bebas. Catatan 1 menit 46.943 detik menempatkannya di depan pelumba tuan rumah Sepanyol yang sudah hafal litar Eropah.

Laporan media antarabangsa menyebut ini kali pertama dalam hampir satu dekad seorang pelumba Malaysia mengetuai sesi Moto3, dan Danish melakukannya dua kali dalam sehari.

Pada sesi kelayakan, Danish start dari petak ke-10. Ini kali ketiga musim ini dia masuk 10 besar kualifikasi, setelah GP Brazil dan GP Sepanyol. Di kelas Moto3 yang padat dan liar, posisi itu bukan jaminan. Satu selekoh bisa naik lima peringkat, satu kesilapan bisa jatuh jauh ke belakang.

Sebelum Catalunya, Danish mengumpul 18 mata dan berada di kelompok tengah kejuaraan. Hasil terbaiknya musim ini adalah finis ke-10 di GP Perancis, pencapaian tertingginya dalam musim penuh Moto3 2026.

Jalur karier Danish mirip generasi pelumba Malaysia sebelumnya: pocket bike, MiniGP, Asia Talent Cup, European Talent Cup, Red Bull MotoGP Rookies Cup, JuniorGP, lalu Moto3. Ia juara Asia Talent Cup 2022, pernah naik podium Red Bull Rookies Cup, dan pada 2025 jadi pelumba Malaysia pertama finis tiga besar keseluruhan di ajang itu.

Namun setiap kali nama Danish disebut, bayang Khairul Idham Pawi pasti muncul.

Baca Juga  Mahasiswa Garda Terdepan Penentu Nasib Bangsa

Sejak “SuperKIP” menang di Argentina dan Jerman 2016, belum ada pelumba Malaysia yang menang balapan Moto3. Bukan kerana tiada bakat. Kemenangan di Kejuaraan Dunia butuh paket lengkap: bakat, jentera, pasukan, cuaca, strategi, mental, dan sedikit tuah.

Khairul, anak Kampung Gajah, Perak lahir 20 September 1998, membuktikan itu bisa terjadi. Ia memulai dari Cub Prix, juara kategori Wira 2014, lalu juara Asia Dream Cup di tahun yang sama. Pada 2015 ia dikirim ke FIM CEV Moto3 Junior World Championship di Sepanyol dan finis keenam keseluruhan dengan tiga podium berturut-turut. Prestasi itu membawanya ke Moto3 bersama Honda Team Asia pada 2016.

3 April 2016 di Argentina, hujan mengubah segalanya. Khairul menang meyakinkan di litar basah dan jadi pelumba Malaysia pertama menang Grand Prix kelas Moto3. Ia juga jadi pelumba bukan Eropah termuda yang menang Grand Prix pada usia 17 tahun. Caranya merayakan tanpa champagne kerana Muslim membuatnya semakin dicintai peminat tanah air.

17 Julai 2016 di Sachsenring, sejarah berulang. Start dari petak 20, Khairul tembus ke depan dalam enam pusingan dan menang dengan jarak lebih 11 saat. MotoGP menjulukinya “king of the wet”. Ia tutup musim 2016 di posisi 19 dengan 62 mata.

Promosi ke Moto2 2017 bersama Idemitsu Honda Team Asia tak berjalan mulus. Karakter jentera Moto2 yang lebih berat dan ganas membuat Khairul bergelut. Ia finis 27 dengan 10 mata. Musim 2018 hanya dapat 1 mata.

2019 bersama Petronas Sprinta Racing sempat memberi harapan usai finis 13 di Argentina. Tapi kecelakaan di latihan bebas Jerez meremukkan tangan kanannya. Sebahagian jari kelingking harus diamputasi. Ia coba kembali di Brno, tapi belum pulih sepenuhnya. Musim 2019 praktis hancur.

Baca Juga  Gunung Bawah Laut Meletus, Tsunami Terjang Tonga

2020 Khairul turun kembali ke Moto3, namun gagal mengutip mata. Petronas Sprinta Racing berpisah dengannya di akhir musim. Desember 2020, pada usia 22 tahun, ia umumkan persaraan. Datuk Razlan Razali saat itu menyebut keputusan itu sudah terbaca dari sikap Khairul pasca GP Portugal.

Pensiun tak mengakhiri kisah Khairul. Ia kembali ke litar domestik bersama TKKR Racing di Kejuaraan Superbike Malaysia dan meraih podium serta kemenangan. Kini pada 2026, namanya kembali ke panggung besar. Honda menurunkannya di Suzuka 8 Hours bersama Nakarin Atiratphuvapat dan Md. Adenanta Putra untuk Honda Asia-Dream Racing with Astemo pada 5 Julai 2026.

Malaysia pernah punya Shahrol Yuzy, Zulfahmi Khairuddin, Hafizh Syahrin yang tembus MotoGP, Adam Norrodin, dan Syarifuddin Azman. Tapi untuk kemenangan Moto3, Khairul masih berdiri sendirian sebagai tanda aras.

Kini Hakim Danish mencoba membuka bab baharu. Jalur pembinaannya lebih tersusun, dari MiniGP hingga Moto3. Hasil di Catalunya jadi bukti ia punya kecepatan. Tapi di Moto3, kecepatan saja tidak cukup. Butuh konsistensi, strategi, dan sedikit tuah di waktu tepat.

Bila lagi Malaysia menang Moto3? Jawabannya mungkin bukan esok, bukan di Catalunya, bukan musim ini. Tapi untuk pertama kali dalam waktu lama, ada alasan untuk menunggu.

Kerana dulu, seorang budak dari Kampung Gajah pernah membuktikan pelumba Malaysia bisa menang di pentas dunia. Kini, seorang budak dari Kuala Terengganu sedang berusaha memastikan kisah itu tidak berhenti pada Khairul Idham Pawi sahaja. (AYD)

Share :

Baca Juga

BERITA

Pidato “Dolar untuk Elite” Dinilai Tutupi Kerentanan Ekonomi Pemerintah

BERANDA

Kerja Sama Baitul Mal-EWIC Malaysia, Lahirkan Tenaga Ahli Pariwisata Aceh Bertaraf Internasional

BERITA

Brimob Polda Metro Jaya Sterilisasi Venue Konser One Ok Rock di Senayan

BERITA

Kapolri Pimpin Pelantikan dan Sertijab Sejumlah PJU Mabes Polri dan Kapolda

BERITA

63 Pesilat Misbahul Ulum Taklukkan Long March 12 Kilometer

BERITA

Presiden Prabowo Apresiasi Peran Polri dalam Ketahanan Pangan saat Panen Raya di Tuban

BERITA

Todung Mulya Lubis Kritik Tuntutan 18 Tahun Penjara terhadap Nadiem

BERITA

Rocky Gerung Hadiri Sidang Nadiem Makarim, Soroti Logika Hukum dalam Kasus Chromebook