Home / EDUKASI / OPINI

Senin, 11 Mei 2026 - 00:01 WIB

Sekolah Mengejar Nilai, Siswa Kehilangan Nalar

“Ketika Pendidikan Lebih Sibuk Mengejar Angka daripada Membangun Cara Berpikir” 

Oleh: Juni Ahyar
Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

Kualitas pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan setelah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Namun di tengah rendahnya capaian tersebut, sekolah justru semakin sibuk mengejar nilai dan target ujian, sementara kemampuan berpikir kritis siswa masih belum berkembang secara optimal.

Berdasarkan laporan OECD, skor membaca siswa Indonesia pada PISA 2022 berada di angka 359 poin, turun dibandingkan 371 poin pada 2018. Sementara skor matematika berada di angka 366 poin dan sains 383 poin. Seluruh capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD.

PISA sendiri tidak sekadar mengukur kemampuan menghafal materi pelajaran, melainkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Namun dalam praktik pendidikan di Indonesia, proses belajar masih sering diarahkan pada kemampuan menjawab soal dibanding membangun daya pikir.

Fenomena tersebut terlihat hingga tingkat perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu membaca teks akademik, tetapi kesulitan menyusun argumentasi, membandingkan gagasan, maupun menarik kesimpulan berbasis data. Dalam banyak diskusi kelas, mahasiswa lebih sering mengulang isi bacaan dibanding mengembangkan pemikiran baru.

Kondisi ini menunjukkan persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya rendahnya kemampuan membaca, tetapi juga lemahnya budaya berpikir kritis. Pendidikan masih cenderung menempatkan siswa sebagai penghafal informasi, bukan pengolah pengetahuan.

Ironisnya, ketika hasil belajar dianggap rendah, solusi yang muncul justru sering berupa penambahan tekanan akademik. Sekolah memperbanyak latihan soal, memperketat target nilai, serta mendorong budaya belajar yang berorientasi pada ujian. Akibatnya, siswa terbiasa mengejar angka tanpa benar-benar memahami substansi pembelajaran.

Baca Juga  KPK Beri Perhatian Khusus Demi Berantas Korupsi di Sektor Pendidikan

Praktik teaching to the test masih cukup kuat di berbagai sekolah. Guru didorong memastikan siswa mampu menjawab pola soal tertentu karena keberhasilan pendidikan kerap diukur melalui angka statistik. Dalam situasi seperti ini, ruang diskusi, argumentasi, dan kreativitas menjadi semakin sempit.

Padahal pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah memperkenalkan Asesmen Nasional untuk menggeser orientasi pendidikan dari sekadar nilai ujian menuju kualitas pembelajaran. Kebijakan tersebut dinilai positif karena mulai menekankan literasi, numerasi, dan karakter. Namun dalam praktiknya, banyak sekolah masih memandang keberhasilan pendidikan hanya dari capaian angka.

Di sisi lain, persoalan pendidikan memang tidak sepenuhnya berada pada sekolah. Rendahnya budaya membaca masyarakat, penggunaan gawai yang berlebihan, minimnya lingkungan literasi di rumah, hingga kesenjangan fasilitas pendidikan turut memengaruhi kualitas pembelajaran siswa.

Data OECD juga menunjukkan masih adanya persoalan kualitas dan distribusi tenaga pendidik. Pada PISA 2022, sebanyak 18 persen siswa Indonesia berada di sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar, sementara 13 persen lainnya berada di sekolah dengan kualitas tenaga pengajar yang dinilai belum memadai.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi pendidikan tidak seharusnya berhenti pada siswa sebagai objek akhir pendidikan. Sistem pembelajaran, kualitas pelatihan guru, kepemimpinan sekolah, pemerataan fasilitas, hingga konsistensi kebijakan pendidikan harus menjadi perhatian utama.

Contoh sederhana terlihat pada budaya membaca di sekolah. Banyak sekolah telah memiliki perpustakaan, tetapi belum berhasil membangun ekosistem literasi yang hidup. Membaca masih sering berhenti sebagai aktivitas formal, bukan kebiasaan intelektual yang mendorong siswa berpikir reflektif dan kritis.

Baca Juga  JOKOWI MEMANG SUDAH TIDAK BISA DIPERCAYA

Guru juga menghadapi tantangan tersendiri. Beban administrasi yang besar membuat banyak pendidik kesulitan mengembangkan metode pembelajaran kreatif. Akibatnya, proses belajar kembali pada pola hafalan dan latihan soal yang dianggap paling praktis.

Negara-negara dengan kualitas pendidikan tinggi umumnya tidak hanya berfokus pada hasil ujian, tetapi juga membangun budaya belajar yang sehat. Finland misalnya, lebih menekankan kualitas pembelajaran, penguatan kapasitas guru, dan kepercayaan terhadap sekolah. Sementara Singapore dan South Korea menunjukkan bahwa disiplin belajar harus diimbangi investasi serius terhadap kualitas guru dan sistem pendidikan.

Indonesia memang tidak dapat menyalin sistem negara lain secara langsung karena perbedaan sosial, budaya, dan geografis. Namun ada pelajaran penting yang dapat dipetik, yakni pendidikan yang baik lahir dari sistem yang konsisten, budaya belajar yang sehat, serta evaluasi yang menyentuh akar persoalan.

Karena itu, perbaikan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan menambah ujian atau memperbesar tekanan akademik kepada siswa. Yang lebih mendesak adalah memperkuat pelatihan guru secara berkelanjutan, membangun budaya literasi yang hidup, memperluas pemerataan fasilitas pendidikan, serta menjaga konsistensi kebijakan pendidikan jangka panjang.

Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan generasi yang mampu menjawab soal, tetapi juga generasi yang mampu memahami persoalan, membaca realitas, dan mengambil keputusan secara rasional. Sebab masa depan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya jawaban yang dihafal, melainkan oleh kemampuan berpikir yang dibangun melalui sistem pendidikan yang sehat.

Minggu, 11 Mei 2026

Share :

Baca Juga

EKBIS

UIN Ar-Raniry Butuh Nahkoda, Bukan Sekadar Penjaga Mesin

OPINI

Menunggu 13 Tahun untuk Panggilan Langit

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

EDUKASI

Museum Tsunami Aceh Gelar Pameran Kebencanaan Spesial Iduladha 1447 H

BERITA

Misbahul Ulum Lepas 176 Wisudawan, Dua Raih Predikat Hafiz 30 Juz

EDUKASI

Hari Pendidikan Nasional 2026: Ketika Pendidikan Mengejar Simbol, Bukan Substansi

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual