Cerpen Karya: Juni Ahyar
Aku duduk di bangku paling belakang kelas. Di tempat yang tak pernah dirindukan siapa pun. Tak ada namaku dalam daftar yang mereka panggil saat menyusun rencana piknik atau membentuk kelompok tugas. Bahkan ketika guru menyebut namaku, mereka hanya saling pandang, sejenak bingung, seolah bertanya dalam hati: “Siapa dia?”
Aku ada, tapi sering terasa tidak hadir. Seperti udara: dibutuhkan, tapi tak pernah disadari.
Bukan karena aku tak mau bicara. Tapi karena setiap kali aku ingin bersuara, dunia terlalu sibuk dengan tawa dan percakapan yang tak menyisakan ruang untukku. Suaraku tenggelam, bahkan sebelum sempat dilepaskan.
Pernah suatu hari, saat hujan mengguyur kota dan pelajaran dibatalkan, aku membawa papan ular tangga. Kuharap hujan bisa mencairkan sekat-sekat yang memisahkan ku dari mereka.
Aku bertanya pelan,
“Mau main bareng?”
Mereka tersenyum tipis, lalu pergi.
Papan itu tetap di meja, tak tersentuh. Dan aku kembali sendiri.
Sejak hari itu aku berhenti mencoba. Bukan karena takut ditolak, tapi karena aku sadar: sunyi tak pernah menyakitiku seperti harapan yang dipatahkan.
Aku mulai menerima keberadaan ku yang tak terlihat. Aku adalah pengisi ruang, bukan pusatnya. Aku memilih diam, bukan karena tak punya suara, tetapi karena dunia tak pernah siap mendengarkannya.
Aku pernah menjadi sunyi itu.
Yang duduk sendirian di mushalla bukan karena saleh, tapi karena tak tahu harus ke mana.
Yang menyesap teh di kantin sambil membaca buku yang tak benar-benar ku baca.
Yang mengulang halaman yang sama hanya untuk terlihat sibuk.
Yang berharap seseorang, siapa pun, akan berkata:
“Hei, kamu mau duduk di sini?”
Tapi tak pernah ada yang berkata begitu.
Sampai suatu hari, datanglah Junita. Dia tak datang dengan tawa lebar atau sapaan berisik. Ia duduk saja di sebelahku, seperti seseorang yang telah lama mengenal diam. Ia tidak mengusik, tidak menghakimi. Hanya ada kehadiran yang tenang, seperti hujan kecil yang jatuh di sore hari.
“Kamu selalu di sini saat istirahat?” tanyanya, lirih.
Aku menoleh pelan. Tak yakin harus menjawab. Tapi Junita tersenyum. Senyum yang tak memaksa.
“Tempat paling sepi itu bukan sudut kelas,” katanya.
“Tapi hati yang tak pernah diajak bicara.”
Dan kalimat itu menamparku dengan lembut.
Junita datang tak membawa solusi, tapi ia membawa penerimaan. Ia tidak mencoba mengubahku, ia hanya duduk, mendengarkan, bahkan saat aku belum mengeluarkan sepatah kata pun. Ia membaca puisiku yang ku tulis diam-diam di belakang buku tulis.
Ia berkata:
“Kata-katamu punya jiwa. Punya luka yang bicara.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi rasanya, kata-kata itu membongkar tembok yang lama ku tegakkan.
Aku mulai menulis lagi. Tapi bukan tentang sunyi. Kali ini, tentang harapan. Tentang sebuah kalimat yang ku tulis di halaman belakang buku tulis:
“Ternyata dunia masih peduli.”
Junita adalah satu orang yang cukup untuk membuatku percaya. Bahwa meski dunia terlalu bising untuk mendengar ku, masih ada satu ruang sunyi yang bisa dipeluk hangat.
Junita tak banyak bicara, tapi setiap ucapannya bermakna. Ia tidak memberi solusi, tapi ia hadir.
Tapi dunia tak pernah benar-benar tetap. Seperti musim, ia berubah.
Seminggu yang lalu, Junita pindah sekolah.
Hari terakhirnya, ia memberiku buku catatan kosong. Sampulnya biru tua. Di pojok kanan atas, tertulis:
“Lanjutkan. Dunia butuh cara pandang mu.”
Aku tak menangis di hadapannya. Tapi malamnya, aku membaca ulang semua tulisan kami. Semua puisi, semua dialog diam yang pernah ada. Junita mungkin telah pergi, tapi ia tak pernah benar-benar hilang.
Kini aku duduk sendiri lagi. Di bangku yang sama, di sudut yang sama. Tapi aku bukan lagi aku yang dulu. Bukan lagi bayangan yang pasrah diam.
Aku menulis, dan tulisan-tulisan itu mulai bicara. Kepada dunia, kepada diriku sendiri. Karena aku tahu, aku pernah ditemani. Aku tahu, diam bisa saling bicara. Aku tahu, keheningan bisa menjadi pelukan jika diberikan oleh orang yang tepat.
Dan aku tahu:
Sunyi bisa sembuh.
Cukup dengan seseorang yang hadir.







