Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Politik – Akademisi USK, Aceh
Pada Awalnya, dan semula saya sangat tidak percaya, bahkan sangat membencinya terhadap pendapat yang mengatakan bahwa desain penyelenggaraan Pemilu-Pilpres 2024 ini, sengaja dirancang untuk ‘memperlemah’ NKRI. Dalam perjalanannya akhirnya saya mulai juga tergoda untuk cenderung bersetuju dengan pendapat yang sangat provokatif tersebut. Walaupun dalam hati kecil tetap bersikeras untuk menolak pendapat yang miring dan sangat merusak pikiran ini.
Pasalnya, masak ya para politisi dan pemimpin bangsa ini sengaja merancang sebuah agenda politik nasional (Pemilu-Pilpres) yang bertujuan merusak bangsa dan negaranya sendiri. Dalam kaitan ini saya masih dalam keyakinan bahwa hal yang super ajaib tidak bermutu ini tidaklah benar, dan saya juga masih menolaknya.
Setidaknya, mereka tidak mungkin secara sadar dan kompak merancang sebuah sistem politik (baca ; Pemilu-Pilpres) yang destruktif terhadap peradaban bangsa dan negaranya sendiri. Akan tetapi, ketika sistem Pemilu-Pilpres 2024 digelontorkan sebagai agenda politik nasional yang wajib dilaksanakan, dijalankan, dan diikuti oleh segenap komponen bangsa, gejalanya mulai terasakan. Banyak hal yang tak normal, berjalan tak normal, seperti biasa-biasa saja.
‘Mimpi buruk’ atau pendapat yang sangat provokatif dan tak bermutu tersebut, secara perlahan-lahan, tapi pasti seluruh gerak pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu-Pilpres kali ini, terasa kuat berjalan cenderung hampir saja membenarkan pendapat miring tersebut.
Hari demi hari yang dilalui oleh gerak pelaksanaan agenda Pemilu-Pilpres kali ini, telah melahirkan sejumlah gejala (sosial politik-kultur politik) yang sangat destruktif terhadap cita-cita mulia Indonesia merdeka. Seluruh bangunan nilai dan budaya bangsa yang berpandangan hidup Pancasila, satu persatu dirusak dan bahkan dihilangkan dengan cara-cara yang kurang beradab dan beretika.
Kesimpulan ini saya berani ambil berdasarkan realitas sosial dari seluruh gerak politik pelaksanaan agenda kampanye Pemilu-Pilpres (empirik) yang amburadul dalam konteks nilai dan tujuan membangun peradaban sebuah bangsa yang cerdas, berakal budi sehat, dan yang sesuai cita-cita para pendiri republik. Ajang debat dan kampanye pun dibumbui dengan nuansa yang tak humanis, bahkan terkesan sinis.
Dalam realitanya Pemilu-Pilpres Tahun 2024 diselenggarakan dengan semangat menggelorakan politik (hyper) liberal yang berdampak terkotak-kotak dan terbelahnya rakyat ke dalam tiga kubu yang saling berhadapan dan jauh dari semangat kebersamaan, ukhuwah (kekeluargaan) dan gotong royong yang seharusnya menjadi pijakan dasar budaya penyelenggaraan (politik) kehidupan berbangsa dan bernegara.
Insan politik di negeri ini telah terperangkap dan tergiring untuk menjadi ‘binatang’ politik, karena tak adanya ruang dan hamparan yang memungkinkan mereka dapat bermetamorfosis menjadi kumpulan negarawan yang berakal-budi sehat. Sehingga sadar akan tugas membangun peradaban yang sesuai dengan arahan pembukaan UUD’45 sebagai kehendak kebudayaan Indonesia sebagai bangsa.
Sangat memprihatinkan menyaksikan bagaimana rakyat terbelah menjadi tiga kelompok atau lebih yang saling mencibir, menyerang, dan saling membeci sambil terus mengentalkan garis pemisah antar dua kubu. Astargfirullahal Adhiem. Rakyat dijuruskan untuk menjadi rakyatnya Anies, Prabowo dan rakyatnya Ganjar, atau lebih mengerikan lagi sengaja dibuat pengelompokan: rakyat yang pro Islam dan rakyat yang anti Islam, sungguh celaka. Padahal semua kita ini diikat oleh sebuah ideologi bangsa yang sama, yaitu Pancasila. Dalam keadaaan yang carut marut budaya dan peradaban ini, ada yang mencoba meyakinkan saya, enggak apa-apa, ini hanya terjadi pada saat jalannya pemilu dan situasional saja. Sungguh saya super optimis pendapat ini.
Karena saya justru menangkap adanya gejala terjadinya pembelahan yang bersifat permanen dan hanya akan berakhir bila ada atau terjadi kontraksi politik besar yang mengakhiri pemisahan ini. Gejalanya sudah terlihat dari pernyataan kawan-kawan yang dulu sangat sinis dan selalu mencibir setiap ada pendapat yang muncul dan mengajak agar kita kembali ke cita-cita dan semangat UUD’45 (bukan UUD versi 2002). Tapi dahsyatnya, justru mereka yang belakangan ini santer meneriakkan agar kita segera kembali ke UUD ’45 secara murni dan konsekuen.
Sementara kelompok atau komunitas politik yang dulu sangat menepuk dada sebagai “barisan penjaga” UUD’45 yang asli, murni dan konsekuen, belakangan malah asyik menjadikan ‘Liberalisme kebablasan’ sebagai zona nyaman mereka dalam bersikap dan berpolitik. Tidak mengherankan bila muncul kelompok yang bukan Golput, tapi melakukan pilihan untuk tidak larut dalam eforia dukung mendukung paslon 01, 02 dan 03 dengan segala kefanatikan butanya, karena memilih untuk berdiri di garis merah-putih. Mereka hanya akan menggunakan hak pilihnya pada saat berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari H pencoblosan.
Sepanjang perjalanan menuju hari H lebih memilih untuk melakukan kerja membangun kesadaran rakyat untuk memaknai Pemilu-Pilpres kali ini bukan segala-galanya, tapi hanyalah merupakan agenda rutin lima tahun sekali yang tidak harus mengorbankan persatuan dan kesatuan rakyat sebagai kekuatan dasar Indonesia sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.
Di samping aktif memberi pemahaman dan cara melaksanakan sebaik-baiknya pilihan yang sangat ‘menyiksa’ rakyat dengan kewajiban memilih calon Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD tingkat Kabupaten-Kota, dan DPD RI, sekaligus dalam satu waktu bersamaan. Luar biasa … Semoga sikap ignoran dan buta akan bahaya Pemilu-Pilpres serentak yang sangat tidak bermutu, destruktif dan sangat merendahkan intelektualitas serta peradaban bangsa Indonesia dalam membangun demokrasi yang sehat dan mencerdaskan rakyat, berakhir sampai kali ini saja. Semoga dan Agar pasca hari coblosan, 14 Pebruari 2024, rakyat Indonesia kembali bersatu dan kembali hanya satu : Rakyat Indonesia dengan huruf “R” besar. Tidak ada lagi rakyatnya Anies, Prabowo dan rakyatnya Ganjar, yang pasca Pemilu-Pilpres tetap bertahan dalam tiga kubu yang terpisah dan saling memisahkan diri.
Imbauan dan Pesan Moral kepada Pak Anies, Pak Prabowo dan Pak Ganjar; tolong garis bawahi masalah rawan ini. Untuk itu, Selamat Anda berpelukan kembali, dan semoga dapat berjalan pilpres yang sehat dan mencerdaskan rakyat. Jangan pernah sakiti hati rakyat yang setia untuk membantu, mendukungmu dalam membangun negeri kita tercinta. In Sya Allah, Semoga …
(Kota Madani, 13 Pebruari 2024)







