oleh M Rizal Fadillah*
PRESIDEN itu pemimpin rakyat, bangsa dan negara. Ia harus tampil serius memikirkan dan bekerja untuk rakyat, bangsa dan negara yang dipimpinnya. Performance dirinya adalah gantungan kepercayaan rakyat. Presiden penyedih membuat rakyat sedih. Presiden lucu menyebabkan rakyat geleng-geleng kepala. Presiden yang ini apa pelawak atau pemain sandiwara ?
Presiden Jokowi adalah Presiden lari-lari. Lari dari satu investasi ke investasi lain yang tidak jadi. Lari dari satu Hutang ke Hutang luar negeri lain yang menjadi beban estafeta generasi. Lari dari menteri yang korupsi ke menteri lain yang dipilih berdasarkan kemauan hati atau sidik jari. Lari pula dari satu capres ke capres lain dengan cawe-cawe yang melabrak ideologi dan konstitusi.
Rindu di unjuk rasa tapi saat pengunjuk rasa aksi ia malah pergi. Presiden Jokowi memang pengacak-acak demokrasi. Ia sukses mengubah kekalahan rakyat menjadi kekuasaan kaum perampok harta ibu pertiwi. Pencipta dari sistem tirani, oligarki dan mobokrasi. Tiga model kekuasan khas pemimpin otoriter atau boneka dari penjajah dalam suatu negeri.
Menjelang usia tua kekuatan bukan membuat teladan dengan memberi kesempatan pada rakyat untuk memilih pemimpin terbaiknya sendiri tapi justru sibuk berlari-lari mengatur ini dan itu menyiapkan, mengkonsolisasikan, menekan, mengancam dan menghukum penghambat kehendaknya. Jokowi bukan king maker tapi king trouble.
Sejak keluar dari gorong-gorong Jokowi terus berlari mengejar mimpi dan mencoba untuk menjadi matahari. Akan tetapi alih-alih membuat prestasi justru yang terjadi adalah masalah ekonomi, korupsi, gagal investasi, melanggar hak asasi, banyak basa-basi serta memperkaya kroni. Anak istri pun ikut menikmati.
Kini kekuatan yang ia miliki hampir mati.Tentu Jokowi ingin punya pengganti yang mampu memproteksi. Melanjutkan dan mahir membawa lari dosa-dosa, memalsukan atau menutupi.
Lucunya kini ada capres yang ternyata hobi berlari-lari. Awalnya pilihan Jokowi tetapi saat ini sedang ditimbang lagi. Karena pilihannya itu sudah lepas dari kendali. Direbut Megawati.
Lari dari kewajiban yang masih melekat sebagai Gubernur. Keliling sana-sini meninggalkan rakyat di Propinsinya. Modal utama untuk citra diri adalah lari pagi. Dibarengi dengan selfi dan sambutan rakyat yang penuh penutupan. Di Jakarta lagi.
Mencoba menjadikan pencitraan sebagai kekuatan. Untungnya rakyat kini sudah tahu bahwa pencitraan adalah kata lain dari tipu-tipu. Pemimpin yang siap menipu dan konsisten selama perjalanan untuk selalu menipu. Tentu bukan karena ijazahnya palsu tetapi memang dalam memimpin ia tidak mampu.
Calon Presiden yang berangkat dari pencitraan tidak layak dipilih. Kegemaran melakukan lari-lari adalah pertanda ia tidak mampu berkampanye secara cerdas dengan bersandar pada, visi,gagasan dan kenegarawanan. Menari dan berlari itu bagus, tetapi jika hal itu merupakan manuver politik maka tentu saja menjengkelkan, menipu dan membodohi rakyat.
Bangsa Indonesia tidak ingin punya pemimpin ke depan yang banyak akting dengan berlari-lari.
Rugi dan menyesal nanti.
Presiden lalu sudah gemar berlari dari tanggung jawab, akankah bangsa ini akan punya Presiden lagi yang gemar berlari-lari demi kekuatan ?
Bukti awal ia sudah menjalankan tanggung jawab dalam memimpin Propinsinya sendiri. Lari kesana kesini ke berbagai pelosok negeri. Untuk kepentingan kampanye diri sendiri. Padahal dia masih mengajukan diri sebagai Gubernur.
Inilah tontonan penghianatan yang memuakkan.
Sebab itu sangat wajar, waspada dan cerdas apabila rakyat keras meneriakkan : Tolak Ganjar Pranowo !
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 29 Mei 2023






