Oleh :
T.M. Jamil
Pengamat Sosial, USK, Banda Aceh
SAAT INI Usiaku telah melawati Kepala Lima. Semoga dengan usiaku yang semakin dewasa dapat terus meningkatkan ibadah dan amal kebaikan-kebaikanku yang lain kepada-MU Ya Allah. Langkah yang panjang memang dalam menempuh putaran roda waktu. Terimakasih, Ya Allah atas semua yang telah Engkau berikan untukku, keluarga dan Saudara-saudaraku yang baik hatinya hari ini, besok dan selamanya. Amin, Ya Rabbal Alamin.
Di Atas Hamparan Munajat
Tertegun Hati Terdiam Bahasa
Entah Apa Yang Terpikirkan
Tak Tahu Untuk Meminta
Tak Mengerti Bahasa Untuk Bicara
Semakin Jauh Melangkah
Semakin Jauh Pula Tersesat?
Saat Sadar Terpaku Dan Terhenti Arah
Namun, Tak Tahu Kemana Harus Melangkah
Telah Letih Dan Habis Daya
Tak Mungkin Kembali Dan Mengganti Masa
Butir-Butir Kerinduan Membelah Raut
Yang Semakin Surut
Butiran-Butiran Penyesalan Yang Semakin Kuat
Menusuk Perlahan Dengan Tajam
Mengorek Keangkuhan Yang Kelam
Terhanyut Hati Dalam Kerinduan
Pecah Sudah Bahasa Hati
Menyeruak Melewati Pekat Yang Menghalang
Bahasa Hati Berkata Ingin Pulang
Hingga Tak Ingin Mengulang Kembali Masa-Masa Silam
Yang Penuh Noda, Dosa dan Kehinaan
Ya Allah, Bimbinglah Aku ke JalanMU yang Benar
Jalan Yang Memudahkan Aku Masuk ke SurgaMU kelak.
MASIH Ingatkah aku, dahulu aku hanya jerit dalam tangisan. Mampukah aku merasakan lafadz adzan ayah yang berdendang indah di telinga mungilku. Bisakah aku merasakan tetes air mata ibu yang dengan susah payah melahirkan aku.
Satu-satunya yang masih bisa aku rasakan sampai saat ini adalah dekap hangat dan kebahagiaan serta do’a pengharapan dari kedua orang tuaku saat aku pertama kali menyapa dunia. Semoga do’a dan harapan itu bisa aku wujudkan untuk membahagiakan hatinya. Terima kasih Wahai Ayah, Terima kasih Ibu…!
Tak terasa jauh sudah langkah yang telah aku tempuh. Meninggalkan jejak demi jejak dalam setiap langkah hidupku, entah itu baik atau buruk. Melewati kisah demi kisah yang berhembus kemudian berlalu tersapu hujan. Paling tidak aku sudah bisa merasakan betapa kerasnya hidup ini.
Merasakan arti sebuah perjuangan, jatuh tersungkur dalam kegagalan dan juga sukses sudah sangat sering akau rasakan. Setida-tidaknya, semua perjalanan tersebut telah menguatkan aku yang dulu semua orang menganggapku anak yang lemah.
HIDUP INI INDAH …
Yang tinggal di gunung, merindukan pantai. Yang tinggal di pantai, merindukan gunung. Dimusim kemarau, merindukan hujan. Dimusim hujan, merindukan kemarau.
Yang berambut hitam, mengagumi yang pirang. Yang berambut pirang, mengagumi yang hitam. Diam di rumah merindukan bepergian. Setelah bepergian merindukan rumah.
Waktu tenang, mencari keramaian. Waktu ramai, mencari ketenangan. Punya anak satu, mendambakan banyak anak. Punya banyak anak, mendambakan satu anak saja. Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tak indah lagi.
Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang dimiliki tanpa rasa syukur? “Semoga kita menjadi yang senantiasa bersyukur dengan berkah yang sudah kita miliki.”
Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan dunia kecil. Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif. Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua. Syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa yang ikhlas.
Mengajarkan proses menjadi manusia yang seutuhnya. Menjadi manusia yang mencoba untuk menerima apa yang Allah sudah takdirkan untuk aku jalani dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Aku hanya perlu menjalani dengan serius, tulus tanpa perlu untuk mengeluh. Itulah pemberian Allah Swt yang terindah untukku dalam hidup ini. Tidak banyak orang yang bisa merasakan seperti yang aku rasakan saat ini.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, aku telah sukses dalam studi, kerja, karir dan juga sangat bahagia bersama isteri dan anak-anakku tercinta dan orang-orang yang Aku sayangi. Kami selalu berusaha untuk bisa menjalani hidup dalam rukun dan kedamaian atas bimbingan dan petunjuk-Nya. Berusaha untuk selalu dalam cinta dan kebersamaan, mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Waktu terus berputar dan tidak akan pernah mau berhenti walaupun kita memintanya untuk sejenak saja melepas lelah. Sekarang kita kembali pada titik yang sama. Titik di mana aku dilahirkan… Semuanya masih sama, yang berbeda hanyalah aku dan keadaan sekelilingku. Tak ada perayaan untuk menyambut Tahun Baru atau pesta di saat aku berulang tahun – karena aku memang tidak pernah menyukai cara-cara seperti itu.
Aku hanya butuh waktu sejenak untuk merenung tentang semua yang telah terjadi dalam kehidupanku. Baik itu di saat aku dihargai, dihormati, dan dimuliakan maupun di saat aku dicaci, dizahalimi, difitnah dan dihina oleh orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Jika memang pernah terjadi, Insya Allah – Semua itu dengan ikhlas aku terima, dengan rasa syukur padaMU Tuhan. Aku sangat Yakin, Engkau Ya Allah, sangat mencintaiku, meskipun kadangkala ada juga makhlukMU yang membenci dan menghinaku.
Tapi aku selalu menjadi orang yang terbaik bagi mereka. Karena aku yakin, Kasih sayangMU jauh lebih berarti daripada kasih sayang makhluk untukku yang acapkali mereka tak pernah ikhlas. Kadang-kadang mereka mencintaiku ketika aku masih mampu memberikan sesuatu untuk mereka. Di saat aku gagal untuk menyenangkan mereka, yang aku terima adalah kebencian dan bahkan hinaan.
Namun semua itu, dengan ucapan Alhamdulilllah, aku terima dengan hati yang tulus dan wajah penuh keceriaan. Itu semua bisa aku lakukan karena atas bimbinganMU Ya Allah… Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikanku hati yang baik dan tulus untuk menjalani hidup ini.
Aku percaya, jika Engkau Yaa Allah telah mencintaiku, tidak ada seorangpun makhlukMU di bumi ini untuk dapat menghalangi perjalanan dan perjuanganku. Memandang kembali jejak langkah yang pernah aku lukiskan itu amat penting bagiku. Dan sekarang aku berdiam diri pada suatu titik, berdiri menatap dunia, dan memandang luasnya alam semesta atas Ciptaan Mu.
Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa dunia semakin menua, begitu juga dengan usiaku. Semoga pertambahan tahun dan usiaku hanya akan menjadi penambah amal kebaikan dan ingin selalu bermanfaat untuk orang lain. Amiin, Ya Rabbal ‘Alamin. (Akhir Desember 2023)







