Dalam Quora.com ditulis tentang sisi lain dari politik yaitu sebagai sebuah permainan kepentingan atau “game of interest”.
Lengkapnya :
“Politik sering disebut sebagai ‘permainan kepentingan’ karena melibatkan individu atau kelompok yang mengejar kepentingan mereka sendiri untuk mendapatkan kekuasaan, pengaruh, atau sumber daya. Orang-orang yang terlibat dalam politik, baik politisi, pelobi, atau pemilih adalah orang-orang yang terlibat dalam politik. sering kali dimotivasi oleh keinginan untuk memajukan keuntungan atau keuntungan mereka sendiri atau komunitas mereka”.
Sebenarnya ingin menambahkan di samping “untuk memajukan manfaat atau keuntungan mereka sendiri atau komunitas mereka” juga dengan “atau keluarga mereka”.
Kepentingan keluarga ternyata menjadi penting karena menjadi fenomena politik yang kini juga berkembang. Di dekat kita.
Bukan hanya dalam pengajuan calon anggota legislatif yang menampilkan nama-nama anak dari tokoh-tokoh politik, namun yang paling menyedot perhatian adalah anak atau keluarga Presiden. Ada Gibran dan Kaesang. Kedua masyarakat menilai sebagai dewan mengingat usia atau pengalaman politik minimal lalu “dikatrol abis” sang bapak untuk menjadi tokoh politik atau pejabat publik.
Hakekatnya adalah “bocil’s Political Game” dalam arti si bocil melakukan permainan politik untuk memperpanjang kekuasaan ayah dan keluarga atau si ayah memainkan si bocil untuk melindungi dirinya pasca lengser. Apapun yang dilakukan Jokowi dan bocil adalah kehancuran dan kenekatan, kedunguan dan ketakutan. Bayangan mengerikan ke depan ternyata diantisipasi dengan kepercayaan diri berbasis ilusi. Dinasti politik.
Jokowi sedang berusaha keras untuk bunuh diri. Permainan politik Bocil adalah permainan berbahaya. Jika ini menjadi pilihan maka itu tanda permainan Jokowi dalam politik memang mendekati “game over”. Hanya si picik dan penjilat yang masih terus berusaha menempel erat pada Jokowi. Sekelas pendukung berat Denny Siregar dan Gunawan Mohamad saja sudah mulai berontak.
Sebenarnya sejak awal membantu masyarakat sudah menilai bahwa Jokowi bukanlah orang yang pantas untuk duduk di Istana. Akan tetapi “permainan kepentingan” lingkaran di dalamnya membuat seolah-olah Jokowi itu kuat. Meskipun demikian kini di ujung hayat semakin tampak wajah asli dari kekumuhan kapabilitasnya tersebut.
Sebagai pedagang yang bertransaksi apapun Jokowi adalah pedagang ulung. Semua aset sudah terjual dan yang tersisa hanya anak-anaknya. Nampaknya Jokowi sudah pada tahap terpaksa menjual kedua bocil itu. Demi mempertahankan hidup dengan nafas yang terasa semakin sesak. Kini ia masih menunggu keputusan Mahkamah Keluarga yang masih menimbang kesiapan untuk mau atau tidak menjadi agen dari penjualan.
Bocil yang satu sedang menjalani putusan Mahkamah Keluarga, sementara Bocil menunggu yang lain sedang mendagangkan sang Bapak. Sebagai Ketum PSI baliho Kaesang bertebaran dimana-mana. Foto Jokowi ikut terpampang dengan slogan “PSI Partai Jokowi”, “PSI tegak lurus Jokowi” hingga “Jokow15me”. Bocil memang sedang berdagang.
Agak terbelalak mata membaca “Jokowisme”. Kok ada faham jokowi? Bagaimana prinsip atau ajaran Jokowi itu yang patut menjadi sebuah “isme” dan diteladani ? Ada ataukah mengada-ada ? Bagi sebagian masyarakat kritis ketika mendengar Jokowi yang terbayang adalah bohong, mencla-mencle, plonga-plongo, ngeles atau hutang dan berhala investasi. Kurang khidmah pada agama serta menghormati adat secara proforma. Semata pakaian.
Jika keburukan menjadi “isme” maka hal seperti itulah yang seharusnya dieliminasi bahkan ditumpas. Jadi Jokowisme adalah sesuatu yang buruk dan terlarang. Bukan hal mustahil ketika rumpun larangan “isme” semakin bertambah maka ke depan di samping Liberalisme dan Sekularisme juga ada Marxisme-Leninisme dan Jokowisme sebagai faham yang terlarang.
Permainan politik Bocil menjadi mainan politik dari kepentingan anak-anak, kekanak-kanakan, dan bapak yang mengasuh anak. Dasar dan motivasinya hanya demi keuntungan diri, kelompok, dan keluarganya sendiri.
“dimotivasi oleh keinginan untuk memajukan keuntungannya sendiri atau keuntungannya bagi dirinya atau komunitasnya atau keluarganya”.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan







