Home / OPINI

Kamis, 3 Agustus 2023 - 15:08 WIB

KETIKA DO’A SEORANG GURU DIIJABAH OLEH ALLAH SWT

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh

NAMPAKNYA SUDAH SANGAT sering bagi saya untuk terlibat dalam berbagai proses seleksi dan penerimaan dosen atau “pendidik” di sebuah universitas mulai tahun 1990-an, baik di lembaga atau kampus sendiri maupun di kampus lain di sumatera. Setiap kali saya termasuk dalam tim yang melakukan wawancara kepada calon dosen, salah satu pertanyaan yang selalu saya ajukan adalah : Mengapa Anda Memilih Menjadi Dosen atau Pendidik? Itulah Pertanyaan favorit saya.

Beragam jawaban saya dapatkan. Mulai dari yang sangat filosofis sampai dengan yang terkesan asal-asalan dan baru dipikirkan ketika mendapatkan pertanyaan yang saya sampaikan. Beberapa jawaban filosofis yang saya sangat senang mendengarnya adalah keinginan untuk berbagi ilmu dan mendapatkan tempat untuk terus belajar sebagai hamba Allah Swt.

Ada banyak alasan mengapa orang yang dengan sadar ingin berbagi ilmu. Pertama, ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Berbeda dengan harta yang setiap kali kita ambil dan berikan kepada orang lain, secara lahiriah akan berkurang. Bahkan dengan berbagi ilmu di kampus, ilmu kita dapat bertambah dengan sangat signifikan. Ada dua alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, karena sebelum mengajar, sebagai dosen, kita harus belajar, mengembangkan pengetahuan; dan kedua, tidak jarang mahasiswa jauh lebih pintar daripada yang kita duga, dan melalui diskusi di kelas, dosen pun dapat belajar sangat banyak dari mahasiswa. Hal Ini bisa terjadi jika dosen berjiwa demokratis dan tidak angkuh. Kecuali kalau dosen tersebut yang sok pintar, padahal kalau dia sendiri diuji bisa gagal juga. Buktinya, masih banyak terdengar dosen yang tidak lulus “sertifikasi dosen” atau test lain ketika mereka mengikuti test atau ujian.

Kedua, berbagi ilmu adalah investasi masa depan : investasi akhirat. Bukankah, menurut ajaran agama, salah satu amal yang terus mengalirkan pahala ketika pelakunya sudah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat akan terus mempunyai dampak kepada pribadi yang mempunyai ilmu dan lingkungan sekitarnya. Dampak positif inilah yang membuat berbagi ilmu adalah sebuah amal jariyah, amal yang mengalir pahalanya.

Ketiga, sebuah kebahagiaan yang tiada tara ketika mengetahui mantan mahasiswa kita menjadi orang sukses atau memahami sesuatu dan kita mempunyai andil di dalamnya. Pada Suatu Waktu – Seorang mantan mahasiswa saya pernah menulis pesan dalam dinding Facebook-nya, “Tanpa Bapak, saya sama sekali tidak pernah mengerti bagaimana cara meneliti dan menulis yang baik. Bapak-lah yang membuat saya paham akan arti dan inti dari sebuah penelitian sebagai perwujudan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Sebuah komentar dari mantan mahasiswa hampir sepuluh tahun yang lalu dalam blog saya : “Ingat sekali, waktu itu Bapak mengadakan kuis Metodelogi Penelitian dan siapa yang dapat nilai sempurna dikasih uang. Masya Allah, Bapak Dosen yang saya kagumi, meski banyak dosen yang syirik sama Bapak. Saya tahu persis, siapa saja mereka yang tak bermoral itu. Mereka adalah oknum dosen yang tak siap untuk menjadi pendidik yang baik….”

Baca Juga  Gubernur Tak Muncul Saat Demo, Mahasiswa Diadu ke Pejabat Tanpa Kuasa Putus

Hhhhmmm… Saya tak ingat lagi, dan Bahkan saya sendiri pun sudah lupa kalau pada beberapa tahun yang lalu saya pernah mengajar Metodelogi Penelitian, dan lupa juga saya pernah menyemangati mahasiswa dengan memberikan uang untuk makan siang di kampus. Sangat mungkin apa yang kita ajarkan adalah sesuatu yang biasa atau sudah seharusnya kita lakukan sebagai pendidik. Tetapi, bagi mahasiswa seringkali menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun demikian, pada prinsipnya hal tersebut bukanlah tujuan mengajar dan bukan pula prinsip dalam hidup saya. Ungkapan langsung mantan mahasiswa adalah hanya efek samping dari sebuah kerja keras dan ketulusan dalam berbakti untuk anak negeri dan bangsa ini.

Guru sekolah dasar (MIN) saya dulu pernah bertanya kepada saya ketika saya hampir lulus pada tahun 1975. Sebuah pertanyaan yang sangat mungkin tidak bisa jawab pada saat berusia 12 tahun. Pada saat itu, Pak Yusra (Yusuf Rasyid – Almarhum), nama guru saya tersebut mengatakan kepada saya, “Kamu Ampon (panggilan guru untukku), harus menjadi doktor!”. Ungkapan yang pada saat itu saya belum tahu benar apa artinya. Ternyata do’a guru saya di masa lalu – Alhamdulillah kini telah menjadi kenyataan. Subhanallah. Mungkin itulah hakikat dari sikap dan takzim kita kepada guru. Sehingga ucapannya yang tulus dapat menjadi do’a yang makbul dan diijabahkan oleh Allah Swt. Allahu Akbar…

Kemudian sebuah pertanyaan lain diajukan guru MIN saya dalam kesempatan berbeda : apa beda guru MIN dan dosen? Beliau menjawab sendiri. Kalau seseorang sudah meraih sukses, seringkali yang dihubungi pertama kali adalah dosennya, dan jarang sekali guru MIN-nya. Padahal kita tahu, dari guru SD atau MIN-lah kita belajar “calistung” pertama kali : membaca, menulis, dan berhitung. Alhamdulillah, ketika artikel ini ditulis, takdir Allah membawa saya ke dalam proses mewujudkan do’a dari Pak Yusra untuk menjadi seorang Doktor.

Baca Juga  PERPPU PT NOL PERSEN KEPUTUSAN STRATEGIS JOKOWI

Semua filosofi di atas bersifat internal. Filosofi eksternal yang mendasari seseorang memilih menjadi pengajar juga sangat beragam. Pertama, menjadi pengajar telah membuka pintu untuk berkontribusi terhadap proses pencerdasan anak bangsa. Idealisme ini nampaknya bisa jadi mulai tertelan zaman. Sebagai warga negara yang baik, tentu amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang telah dirumuskan dengan sangat baik dengan visi jauh ke depan para pendiri bangsa perlu disimak ulang. Dengan manjadi pengajar, kita telah menjadikan diri kita terlibat dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, sebagai dampaknya, dengan menjadi pengajar, kita pun telah berandil dalam membentuk manusia yang lebih merdeka, manusia yang terbebaskan. Untuk inilah Nabi Muhammad SAW diutus, sebagai sang pembebas, the liberator (Engineer, 1990). Nabi Muhammad SAW telah diutus untuk membebaskan manusia dari paham atau ideologi yang membelenggunya untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaannya. Nilai-nilai kemanusiaan telah tergadaikan kepada “Tuhan” yang tidak berhak untuk mendapatkannya.

Mungkin Anda akan mengaitkan ini dengan ide besar yang dibawa oleh Paulo Freire (1985), cendekiawan Brazil yang mengembangkan teori pedagogik kritis. Baginya, pendidikan harusnya membebaskan. Bukunya yang berjudul Pedagogy of the Oppressed telah memberikan warna baru dalam dunia pendidikan. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Pendidikan untuk Kaum Tertindas. Kondisi masyarakat pada saat itu dianggap tidak adil, dan Freire membagi masyarakat ke dalam dua kelompok yang saling berhadapan: kaum penindas (the oppressor) dan kaum tertindas (the oppressed).

Para pembaca mungkin juga mengaitkan folosofi eksternal dengan pendidikan yang membebaskan dengan ide-ide besar Ivan Illich (1972). Illich memberikan kritik yang sangat tajam untuk lembaga sekolah yang gagal dalam proses pendidikan, karena anak didik (termasuk mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi) tidak menjadi terbebaskan. Salah satu konsep penting yang ditawarkan sebagai solusi adalah pembentukan learning web, jejaring pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memacu motivasi menjadi self-learner dan menjadikan pengajar sebagai motivator dan guide. Dalam konteks kekinian, ide besar Illich dapat diterjemahkan dengan membuka pintu seluas-luasnya ke/dan untuk mengakses materi pembelajaran di luar kurikulum yang sangat dibatasi kredit semester dan waktu pertemuan. Teknologi informasi sangat membantu dalam hal ini. Anda mungkin ingin menambahkan filosofi atau alasan eksternal lain menjadi seorang pengajar. Semoga Tulisan Singkat ini Bermanfaat. Lain kali dengan tema-tema lain akan saya sambung lagi, Insya Allah. Do’akan saja, semoga saya selalu sehat dan berpikiran cerdas. Aamiin, Ya Rabbal Alamiin…

Share :

Baca Juga

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

OPINI

Merdeka dari Krisis Soft Skills: Menyiapkan SDM Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

OPINI

Perdamaian Harus Menjadi Energi Positif: Mendorong Aceh Menuju Kesejahteraan, Kemandirian, dan Kedaulatan Ekonomi

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026