Home / OPINI

Minggu, 16 Juli 2023 - 03:46 WIB

SEMALAM AKU BERSAMA “NAMIRA”

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor,
Social Scientiest
Akademisi USK, Banda Aceh.

Masya Allah, Allahu Akbar … Dari Kejauhan Nampak Sudah Menara Dengan Warna Emas Di Kubahnya. Tepat Di Bawahnya Tertuliskan Kalimat Allah yang menyejukkan hati bagi siapapun yang melihatnya. Setelah Masuk Halaman Ternyata Bayangan Tidak Sama Dengan Beberapa Postingan Di Media Online selama ini. Karena Ini dalam nyata Lebih Megah.

Ketika saya coba Usut dan cermati Ternyata Masjid Ini Telah Di Pindah Ke belakang Dan Lebih Luas Serta sangat Megah. Itulah kesan pertama yang saya rasakan ketika mengunjungi pertama kali ke mesjid ini beberapa tahun yang lalu. Subhanallah … Itulah kata-kata yang meluncur dari mulut ini.

Sampai Detik Ini, Saya pribadi Masih Heran, Kok Bisa Kabupaten Lamongan Punya Masjid Seperti dan semegah Ini. Lokasinya Juga Bukan Di Tengah Kota. Malah Sudah Di pinggiran Sekali. Berada Di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Itulah kuasa Allah jika kita berniat dan berhati mulia tak ada yang mustahil bagi Allah. Bisik hati saya waktu itu …

Namira Memang Sebuah Masjid Yang Sangat Berbeda Dengan Mesjid-mesjid yang pernah saya kunjungi : Mesjid Namira, Jamaahnya Selalu Membludak. Kalau Shalat Subuh Jamaahnya Bisa mencapai Sampai Seribu Orang. Paling Sedikit jamaahnya, 500 Orang Dari Banyak Penjuru Desa Datang Mengunjunginya. Itulah Namira, Nama Sebuah Mesjid di Sebuah Desa dan Perkampungan Penduduk Negeri Ini di Bagian Timur Negeri Kita Tercinta.

Baca Juga  KETIKA UNIVERSITAS MENGALAMI EROSI ; TERKESAN SEBAGAI “LEMBAGA PELATIHAN” TENAGA KERJA

Takmir Mesjid Namira :
“Masjid Kalau Punya Saldo Tidak Nol,
Berarti Masjid Gagal Menjalankan Fungsinya”

Ketika Habis Shalat Itu, Untuk Para Jamaah Selalu Diberi Sarapan Gratis : Saat Bulan Puasa Menyediakan Makanan Gratis Sampai 2000 Pack Untuk Buka Puasa Dan Sahur Siapa Saja Boleh Datang. Masjid Ini Juga Jadi Lokasi “Kongkow” Anak-Anak Muda atau Millenial.

Kalau Janjian Ketemu Mereka Akan Memilih Ke Namira Lalu Mendiskusikan Kegiatannya Di Sana. Anak Anak Kecil Pun Disediakan Tempat Bermain Yang Aman Untuk Memberikan Ingatan Masa Kecil Kita Bahwa Masjid Adalah Tempat Yang Asyik Untuk Bernostalgia.

Prinsipnya Sangat Dahsyat : Uang Sedekah dari Jamaah Harus Kembali Ke Jamaah Secepatnya. Kami para Takmir sangat Malu, Kalau Uang Jamaah Menumpuk Di Kotak Infaq, atau di tabungan perbankan dan tak habis. Kalau Bisa Saldo Infak Itu Nol Rupiah.

Yang Artinya, Para Takmir Masjidnya sangat Kreatif Karena itu Berarti Bahwa Mesjid itu Selalu Punya Program Kerja Untuk Jamaah. Masjid Kalau Punya Saldo Tidak Nol, Berarti Masjid telah Gagal Untuk Menjalankan Fungsinya sebagai ‘Rumah Allah’ dan Lembaga Sosial.

Jika Takmirnya Miskin Kreativitas, Maka Sungguh Menyedihkan : Karena Jamaah Tak Dapat Manfaat Apa pun Dari Keberadaan Takmir. Jamaah Juga Belum Dapat Pahala, Karena Uang Sedekahnya Belum Mengalir ke ummat, Masih Mandek dan tersimpan Di Kotak Infaq. Begitulah Cara Mereka Berpikir. Luar Biasa, Masya Allah.

Saya Sendiri Sebagai Salah Seorang Putra Pulau Sumatera Dan Lama Studi Lanjut Di Pulau Jawa – Saya Jadi Tertegun dan Kagum Dengan Konsep Pengelolaan Masjid Ini. Buka 24 Jam Untuk Musafir, Boleh Rehat Dan Tiduran Di Teras. Saya pernah istirahat semalam bersamanya…

Baca Juga  Bendera Aceh dan Merah Putih : Simbol Identitas, Bukan Pemisah

Sedangkan Bagi Yang Mau Iktikaf Disediakan Kawasan Tenda Untuk Menginap atau Tidur, Jika Bulan Puasa Makanan Sahur Juga Melimpah, Free Wifi Sepanjang Hari, Daya Tampung Parkir Mencapai Kira-Kira 400 Buah Mobil, Dan Tiap Minggu Selalu Mendatangkan Penceramah Baru Dari Berbagai Kota Di Negeri Ini.

Masih Banyak Kelebihan-Kelebihan Lainnya Yang Sulit Untuk Saya tuliskan dengan kata-kata. Tapi Inilah Cikal Bakal Masjid Madani Itu. Saking Banyaknya Acara Yang Bermutu, Para Donatur Yang Datang Entah Darimana saja mereka, Semakin Membanjir. Lagi-Lagi Takmir-Nya Harus Berpikir Keras Bagaimana Menghabiskan Uang Sedekah dari Jamaah yang banyak Itu. Makin Habis uang dari kasnya, Makin Datang Donatur Yang Lebih Besar lagi. Subhanallah …

“Kami Hanya Ingin Agar Sedekah Dari Jamaah Segera Berubah Jadi Pahala. Justru Kalau Uangnya diam Saja Kami Sebagai Takmir Merasa Berdosa. Sedekah Mereka Terlambat Jadi Pahala Karena Belum Ada Kegiatan Yang Diwujudkan Dari Uang Yang Kita Terima”. Begitulah pengakuan salah seorang Takmir, ketika saya berbincang-bincang dengannya.

Makanya Motto Kami Adalah : Usahakan Saldo Bisa Nol. Begitulah Kata Salah Seorang Takmir Yang lain, Ketika Saya Pernah Singgah dan Bermalam Di Mesjid itu Beberapa Tahun Yang Lalu. Semoga Kisah Inspiratif Ini dapat Bermanfaat Untuk Kita Semua. Insya Allah, Aamin Yaa Rabbal Alamin.

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian