![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Scinces, USK, Banda Aceh.
PADA SETIAP tanggal 20 dan 21 Mei, kita selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Ulang Tahun Reformasi. Harapan yang diletakkan pada peringatan tersebut adalah munculnya kembali rasa nasionalisme seluruh anak bangsa yang dirasa semakin hari semakin pupus. Namun kadangkala generasi muda kita banyak yang lupa bahwa hari ini merupakan Hari Kebangkitan Nasional ke 115 dan Juga Hari Ulang Tahun Reformasi Ke 25. Dari tahun ke tahun Kebangkitan Nasional hanya diperingati secara seremonial saja. Itupun greget nasionalismenya mulai hilang, dan hanya terkesan hiburan semata. Tak dan kurang memiliki makna mendalam tentang arti kebangkitan itu sendiri. Slogan-slogan kebangkitan pun seakan menjadi nyanyian kosong yang kehilangan irama. Terbukti dengan semakin memburuknya krisis yang terjadi di negeri ini. Lalu, harapan munculnya kembali rasa nasionalisme itu kapan akan terjadi? Semoga Allah Swt memberikan kita kekuatan dan petunjukNya.
Dari sini jelas bahwa bangkitnya kesadaran nasionalisme sebuah bangsa tidak bisa dengan melalui perayaan peringatan se-gebyar apapun. Ia tidak bisa dibangkitkan dengan cara-cara instant semacam itu. Persoalannya, jika dengan cara-cara peringatan hari besar nasional seperti itu tidak bisa membangkitkan rasa nasionalisme warga bangsa ini, lalu dengan cara apa? Dari mana memulainya? Atau, memang di era milenial borderless ini tidak lagi dibutuhkan nasionalisme bagi sebuah bangsa? Astargfirullahal ‘Adhiem.
Sementara, beberapa kalangan berasumsi bahwa lunturnya nasionalisme dari sebagian besar bangsa kita adalah karena pengaruh globalisasi. Globalisasi tidak lebih dari sebuah mega proyek milik negara-negara super power. Negara-negara yang kuat dan kaya mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya bersaing dengan mereka di bidang teknologi maupun ekonomi.
Kekalahan dalam persaingan ini, menyebabkan negara-negara miskin, secara de facto terjajah oleh negara-negara kuat dan kaya tersebut. Dan pada akhirnya, negara negara miskin terkooptasi dari sisi budaya, politik, pandangan hidup, bahkan agama. Pertanyaannya adalah apakah memang globalisasi menjadikan nasionalisme kita harus tergerus hingga luluh lantak?
INGAT : Indonesia adalah bangsa besar. Bangsa yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang tak terkira. Negara yang terbentuk dari banyak suku bangsa dan budaya, yang menjadi ciri khas dan karakter bangsa. Haruskah kita menyerah pada propaganda globalisasi, sementara kita memiliki segalanya di negeri ini?
Sampai kapan anak bangsa ini menyadari kebesaran negaranya dan kekayaan negerinya, hingga memiliki kesadaran untuk mempertahankan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme seperti Budi Oetomo dan para penggerak Kebangkitan Nasional dahulu? Ataukah, semangat Kebangkitan Nasional ini hanya akan menjadi cerita masa lalu dan dongeng sebelum tidur anak-anak Indonesia dimasa depan?
Berikut analisis kami, dengan harapan para pembaca juga memiliki pendapat yang tentunya lebih baik. Salah satu pendapat pakar, menyatakan bahwa nasionalisme itu tumbuh dan berkembang karena perasaan senasib yang mendorong kelompok manusia bersatu dan berjuang membebaskan diri mereka dari tekanan atau belenggu kemerdekaan. Dengan lain perkataan nasionalisme itu merupakan tanggapan sekelompok manusia yang merasa senasib untuk mempersatukan diri, memperjuangkan cita-cita bersama sebagai pengikat sosial atau social integrative force.
Hari ini 21 Mei Juga Kita Memperingati Hari Reformasi. Sudah 25 tahun Waktu berjalan, sepertinya cita-cita dan harapan para pemuda dan aktivis itu semakin jauh dan tak pernah jadi kenyataan.
Menurut saya, ini sebuah “kekeliruan besar” dari para mahasiswa dan aktivis, karena setelah sukses meruntuhkan Orba dan terjadi reformasi, mereka serahkan sepenuhnya kpd pengelola negara, seperti mereka memberikan selembar “cek kosong” yang dengan bebasnya penguasa ini untuk mengisinya. Dan yang lebih fatal lagi, tak jelas batas waktu yg diberikan untk penguasa dalam mereformis bangsa ini. Jadi ini sangat berbahaya. Sudah saatnya para aktivis menuntut dan minta berhenti kepada yang diberikan amanah itu, jika bangsa ini ingin lebih baik. Saya kira itu yang hrs dilakukan para tokoh bangsa dan aktivis saat ini…. Jangan biarkan bangsa ini semakin terpuruk. Sebuah kewajiban bagi pemuda, mahasiswa dan para aktivis untuk “turun tangan” dan jangan “lepas tangan”….
Perasaan senasib itu bisa dirasakan oleh sekelompok sosial yang homogen, tetapi kebanyakan beragam karena mobilitas penduduk sejak awal kehadirannya di muka bumi. Karena itu sulit mencari suatu bangsa yang warganya homogen satu sukubangsa yang mendukung satu kebudayaan dalam arti luas.
Bangsa Indonesia merupakan contoh betapa ia tumbuh dan bersatu melahirkan satu nation di kepulauan Nusantara. Kebetulan kepulauan Nusantara pernah dijajah Hindia Belanda yang menguras kekayaan alam dan menindas penduduknya. Penjajahan itu merupakan blessing in disguise bagi penduduk Nusantara yang merasakan kejamnya penjajah sehingga membangkitkan semangat perlawanan mereka yang sama sama tertindas. Semangat kebangsaan itulah yang kemudian dipupuk dan melahirkan satu nation Indonesia yang kuat.
Untuk merawat semangat kebangsaan itu para pemimpin bangsa harus senantiasa menciptakan “musuh” bersama atau sekurang-kurangnya “tantangan” bersama, seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan serta keterpurukan ekonomi. Dengan ketajaman visinya Bung Karno mengobarkan semangat kebangsaan dengan menciptakan berbagai tantangan seperti kekuasaan “nekolim” menggantikan atau meneruskan penjajahan Belanda. Semangat kebangsaan untuk melawan segala bentuk penindasan itu telah menjalar ke Asia dan Afrika sebagaimana tercermin dalam Konferensi Asia Afrika.
Selama 25 tahun sejak kemerdekaan perjuangan Bung Karno tercurah untuk membangun dan memperkuat semangat kebangsaan dan terkenal perjuangannya itu sebagai “Integrative Revolution”.
Di-zaman Orde Baru Pak Harto memformulasikan tantangan bersama, yaitu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan yang masyarakat yang buruk sebagai sarana untuk mengikat dan memperkuat semangat kebangsaan. Karena itu, kalau dahulu Bung Karno merawat kebangsaan dengan revolusi integrative, maka Pak Harto dengan pembangunan nasional.
Keduanya sebenarnya sama maksud dan tujuan, karena pembangunan itu pada hakekatnya usaha terencana untuk membebaskan rakyat dari berbagai tekanan dan kendala dalam mewujdkan kesejahteraan umum. Bung Karno, sesuai dengan kondisi pada masanya, menekankan pada upaya pembebasan dari belenggu penjajahan lama dan baru atau neokolonialism, sedang Pak Harto berusaha membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan agar mereka dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa yang merdeka dari segala bentuk penindasan.
Di era reformasi, para pemimpin bangsa harus memformulasikan tantangan baru untuk merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Sayangnya, setelah menikmati hasil pembangunan yang meningkatkan kesejahteraan rakyat itu kurang disadari oleh para pemimpin bangsa, yaitu meningkatnya berbagai kebutuhan hidup dalam ragam, besaran dan mutunya. Mereka acapkali sibuk dan lalai. Entahlah …
Salah satu kebutuhan hidup yang tidak nampak peningkatannya adalah persamaan hak dan kebebasan alam demokrasi yang notabene menimbulkan kebutuhan alan nilai nilai budaya yang mendukungnya serta pranata sosial baru yang dapat berfungsi sebagai pedoman dalam menegakan tatanan sosial ketertiban hidup bersama.
Banyak pemimpin yang baru muncul menikmati kebebasan individu dan suasana demokrasi bersikap dan bertindak tanpa menghiraukan unggah-ungguh dan sopan santun atau beretika. Seolah-olah mereka hidup di hutan belantara tanpa tatanan sosial. Sikap menang-menangan dan mengandalkan banyaknya pengikut spontan maupun bayaran dengan cara-cara pembodohan atau tidak mendidik.
Kita sekarang ngeri menonton sirkus politik demokrasi dengan hukum rimba penuh euforia. Para pemimpin lupa mengembangkan tantangan bersama untuk mengikat dan menyatukan arah perjuangan nasional demi hari depan bangsa yang maju. Saling sikat dan sikut dengan slogan usang tidak perduli apakah slogan slogan perjuangan itu sudah diatasi atau perlu diteruskan. Sepertinya kita kita sudah dalam kondisi loyo … Hhhmm…
Momen merayakan Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi harus kita lakukan untuk mengenang perjuangan para pahlawan, pemuda dan para aktivis saat itu. Tapi perayaan tersebut bukan sekadar seremoni belaka. Hari Kebangkitan Nasional harus dimaknai secara serius oleh kita semua. Esensi semangat kebangkitan nasional dan Reformasi harus terefleksikan dalam tutur kata, perilaku dan tindakan kita. Kita harus bangkit dari keterpurukan karena telah menafikan nilai-nilai luhur Pancasila. Indonesia harus bangkit dari ketidakjujuran, ketamakan atau keserakahan yang menggerus integritas para elite dan aktor di legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Semangat hari kebangkitan harus tetap dikobarkan di tengah menurunnya idealisme dan nasionalisme yang terasakan akhir-akhir ini. Karena itu kesadaran berbangsa dan bernegara harus ditingkatkan secara berkesinambungan melalui berbagai hal. Komitmen para pemimpin sangat diperlukan untuk menunjukkan keberpihakannya pada esensi atau makna hakiki Hari Kebangkitan Nasional. Esensinya jelas bukan hanya pada besarnya jumlah pembangunan fisik semata (meskipun ini perlu), tapi lebih dari itu adalah pembangunan SDM, warga negara secara substantif.
Masalahnya bagaimana membangun nilai-nilai yang menjadi karakter bangsa secara berkesinambungan. Bagaimana membangun nilai-nilai kemanusiaan(kesadaran berbangsa dan bernegara), kemajemukan dan kebersamaan yang hakiki diantara warga. Bagaimana menciptakan dan menumbuhkembangkan rasa damai yang sarat dengan kebersamaan untuk mewujudkan daya saing dan kesejahteraan rakyat.
Untuk newujudkan hal tersebut tak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur yang sifatnya fisik saja. Tapi perlu pembenahan moral dan mental bangsa. Kasus korupsi, OTT para kepala daerah, politisi, birokrat, oknum penegak hukum menunjukkan betapa rusak dan rendahnya moral dan mental para oknum penyelenggara negara. Mereka telah menggunakan APBN sebagai bancaan pribadi atau kelompoknya.
Momen Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi saat ini harus menyentuh nurani dan empati suprastruktur politik maupun infrastruktur politik. Semua elemen bangsa harus turut serta merasakan pentingnya bangkit dari keterpurukan dan bergegas melakukan perbaikan-perbaikan signifikan untuk memajukan negeri. Inilah saatnya bangsa Indonesia bersatu padu, menjunjukkan soliditasnya untuk maju bersama melawan kemiskinan dan pengangguran. Bangsa yang bersepakat untuk menghapuskan indeks kesengsaraan rakyat dan mengubahnya menjadi indeks kebahagiaan yang konkrit. Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi merupakan tiang pancang mengeliminasi sifat-sifat buruk manusia Indonesia terkait masalah mental.
Sikap-sikap seperti malas, resisten terhadap perubahan, mindset yang mengalami disorientasi, tidak disiplin dan kurang serius atau enggan menjadi inovator, kurang percaya diri dan jelousy. Hari Kebangkitan Nasional adalah sarana untuk memperkuat fondasi bernegara dan berbangsa. Praktik demokrasi yang berlangsung sejak 1998 seharusnya mampu mengeliminasi dan atau mengurangi praktik KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Sejauh ini pemerintahan yang demokratis (good governance) belum seluruhnya terbangun.
Secara umum, pemimpin dan atau penguasa di semua jenjang pemerintahan belum mengambil peran penting untuk mendorong kemajuan. Sebaliknya, mereka yang melanggar hukum, etika dan moral justru malah enggan mengundurkan diri dari jabatannya meskipun rakyat memintanya mundur. Karena itu sudah saatnya menyosialisasikan dan mendorong agar pejabat negara/publik yang melanggar hukum merasa malu dan dengan suka rela mundur. Nilai-nilai budaya baru ini perlu menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan hari Kebangkitan Nasional kali ini.
Setelah 77 tahun merdeka dan 25 tahun era reformasi, inilah titik kulminasi bagi bangsa Indonesia untuk bangkit memperbaiki mental dan menghadirkan mentalitas baru yang mununjukkan empati tinggi dalam mewujudkan Indonesia baru yang sarat dengan nuansa nilai-nilai positif: beretika, bermoral, berkeadaban, santun dan berkontribusi konkrit via karya-karya nyata untuk kemajuan negeri.
Mengenang Kebangkitan Nasional adalah upaya menelusuri catatan sejarah penting tentang identitas karakter bangsa ini, yaitu bersatu dalam suka dan duka. Rasa persatuan yang mendalam bukan tanpa bukti nyata. Berabad-abad rakyat Indonesia dijajah oleh bangsa Barat, yang telah menyadarkan diri bahwa sikap nasionalisme sangat penting. Perbedaan yang melekat pada diri ditanggalkan dan dicari persamaan sebagai pengikat : sama-sama satu Bangsa, Bahasa dan Tanah air, Indonesia.
Sikap nasionalisme ini sebenarnya karakter terindah yang dipunyai bangsa ini. Sehingga diabadikan dengan sebuah kalimat indah: Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dalam perjalanan sejarah slogan tersebut sebenarnya masih belum diterima secara kaffah oleh sebagian elit politik. Peristiwa Piagam Jakarta adalah peristiwa yang mempertontonkan makna nasionalisme setengah hati. Sikap egois kelompok islam formalistik ingin mendominasi kepentingan politiknya. Tapi ini ditentang oleh kelompok minoritas dari Indonesia Timur.
Akhirnya terjadi penyelesaian politik dengan dirubah sila pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari fakta sejarah ini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa kebangkitan nasional bangsa ini belum sepenuhnya menyatu dalam jiwa bangsa ini.
Hal ini terbukti saat ini, simbol-simbol agama, etnis, suku dan budaya menguat dan membahayakan nasionalisme. Gerakan mengatasnamakan jihad dan sikap arogansi kelompok ekstrim terhadap politisasi agama semakin hari semakin menguat. Dan diperparah lagi, dengan tampil para elite politik yang lebih berfikir pada kepentingan politik kekuasaan daripada politik kebangsaan.
Situasi seperti ini sebenarnya bangsa ini sedang diuji kedewasaan dalam memandang kenikmatan yang agung sebagai bangsa yang merdeka. Jika bangsa ini masih komitmen terhadap kesepakatan awal terhadap nasionalisme, maka konflik saat ini sebagai pendewasaan menuju Indonesia yang hebat di kancah global. Tapi jika ini mencerminkan kemerosotan nilai-nilai nasionalisme, maka bangsa ini berarti dihadapkan pada kemunduran politik dan kembali lagi seperti masa seperti pada masa sebelum kemerdekaan. Dan Indonesia saat ini bisa jadi tinggal kenangan. Semua ini tergantung komitmen dan kedewasaan berpolitik bangsa dan para elite politik dalam memandang bangsa dan negara ini.
SAAT BANGSA SEMAKIN RAPUH. Ada kondisi yang memprihatinkan terkait dengan semangat nasionalisme bangsa Indonesia saat ini. Maraknya gerakan internasionalisme dalam bentuk liberalisme-kapitalisme di satu sisi dan fundamentalisme-puritanisme agama di sisi lain telah menggerus kesadaran nasionalisme warga bangsa Indonesia.
Akibat faham internsionalisme yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi, hari ini kita melihat terjadinya transformasi kesadaran dari citizenship menjadi nitizenship. Kewargaan yang dibatasi oleh identitas kenegaraan (geografis dan politis) menjadi kewargaan lintas negara dan lintas geografis.
Ada anomali sosial yang terjadi hari ini. Dulu tekanan bangsa lain menciptakan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan sehingga tumbuh harga diri sebagai bangsa. Bangsa Nusantara yang beragam mampu menggali dan menyatukan potensi sosial dan kultural yang ada untuk menghadapi tekanan dari luar. Kini tekanan dari bangsa lain justru mengancam kebersamaan dan persatuan. Ikrar sebagai bangsa dicampakkan, martabat bangsa diabaikan.
Dengan kata lain orang-orang dulu memiliki kesadaran kreatif menggali potensi diri untuk membangun kekuatan dari dalam melawan kekuatan luar. Orang sekarang justru hanyut dan larut dalam gerakan transnasional dengan mencampakkan potensi diri sebagai bangsa. Mereka bangga menjadi pemulung ide dan pengais sampah peradaban bangsa lain sambil mencaci maki peradaban bangsa sendiri.
Sikap ini muncul karena minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa sendiri dan miskinnya kesadaran terhadap tradisi dan budaya sendiri. Sejarah adalah referensi hidup bagi setiap bangsa. Suatu generasi yang tidak memiliki pemahaman terhadap sejarahnya sendiri seperti buih di atas gelombang lautan. Mudah diombang ambingkan keadaan dan dibohongi bangsa lain. Mereka menelan mentah-mentah setiap informasi dan pemikiran yang diberikan, tanpa reserve dan sikap kritis karena mereka tidak memiliki pemahaman sejarah yang bisa dijadikan referensi hidup untuk mengkritisi setiap informasi dan pemikiran yang diterima dari bangsa lain.
Tradisi adalah jangkar yang membuat suatu bangsa memiliki karakter yang kokoh dan kuat sehingga tidak mudah hanyut dalam pusaran arus gelombang bangsa lain. Setiap bangsa yang tidak memiliki tradisi atau tidak faham terhadap budaya masyarakatnya akan mudah hanyut dalam arus kebudayaan bangsa lain. Jika sudah demikian maka bangsa tersebut akan keropos karena tidak memiliki kekuatan secara kultural dan sumber inspirasi dalam menghadapi gempuran budaya.
Inilah yang menyebabkan bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Eropa, Amerika, Jepang, China tetap kokoh dan tegak spirit kebangsaannya sekalipun berada dalam pusaran arus modernisme dan globalisasi. Mereka tetap bangga dan menjaga martabat bangsanya meski telah menjadi bagian dari warga bangsa dunia maya (Nitizen). Ini karena mereka memiliki pamehaman yang baik terhadap sejarahnya sendiri dan tradisi yang mereka miliki.
Karena vitalnya peran dan posisi sejarah dan tradisi suatu bangsa inilah maka strategi utama untuk bisa menguasai bangsa tersebut adalah dengan menghancurkan tradisi dan sejarahnya agar bangsa tersebut kehilangan jejak dan akar-akar sosialnya. Jika sudah demikian bangsa tersebut akan mudah dikuasai atau dihancurkan. Inilah yang sedang terjadi di negeri ini, hingga semangat kebangsaan bangsa ini rapuh dan luluh.
Di tengah kepungan arus ideologi dunia dan pusaran arus budaya global yang telah menggerogoti semangat kebangsaan sehingga melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka perlu adanya penguatan pemahaman sejarah dan akar-akar tradisi bangsa Indonesia. Hal ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri yang bisa membuat bangsa ini terjebak dalam sikap narsis.
Pemahaman sejarah dimaksudkan untuk dapat menggali nilai dalam setiap penggalan sejarah bangsa untuk dijadikan referensi hidup agar bisa bersikap kritis terhadap keadaan dan pemikiran dari bangsa lain. Sedangkan pemahaman tradisi dimaksudkan sebagai jangkar untuk membentuk karakter diri sekaligus sebagai sumber kreatifitas membangun budaya alternatif di era global. Dengan cara ini rasa bangga sebagai bangsa akan tumbuh sehingga martabat bangsa akan dapat dikembalikan.
KETIKA MAKNA BERUBAH. Bergesernya makna Hari Kebangkitan Nasional saat ini sangat terasa dengan adanya beberapa peristiwa yang begitu menyakitkan seperti terorisme. Hujat menghujat, menghina dan lain-lain apalagi di tahun politik seperti saat ini. Di mana etika moral budaya kita sedikit demi sedikit mengalami degradasi.
Hal ini disebabkan oleh perilaku beberapa anak bangsa yang tidak memaknai betapa pentingnya Kebangkitan Nasional ini yang kita rayakan setiap tanggal 20 Mei ini. Yaitu, untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme bangsa ini yang selama ini sudah sangat memprihatinkan. Kita bisa lihat beberapa tokoh yang melakukan provokasi-provokasi dengan membuat statemen yang mengarah kepada perpecahan di antara kita.
Hari Kebangkitan Nasional dan Era Reformasi ini yang seharusnya dimaknai sebagai hari bangkitnya rasa nasiinalisme anak bangsa ini, ternyata hanya menjadi sebuah jargon dan seremonial belaka. Sehingga tugas berat dari seluruh komponen bangsa ini dan tokoh-tokoh nasional kita sudah harus membangkitkan kembali makna dari Kebangkitan Nasional ini, jika tidak ingin bangsa ini mengalami kemunduran di segala hal.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional dan Era Reformasi inilah momen yang sangat tepat untuk merekatkan kembali perbedaan-perbedaan pandangan yang semakin tajam. Saling menghujat, saling menghina, saling memojokan sudah sepatutnya dihentikan. Karena pada dasarnya hari Kebangkitan Nasional yang digagas oleh pendiri-pendiri negara ini bertujuan untuk membangkitkan rasa nasionalisme bangsa ini, untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat.
Sehingga Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Ulang Tahun Reformasi ini tidak hanya menjadi sebuah jargon saja, tapi lebih dapat dimaknai sebagai hari bersejarah bagi bangsa ini yang mempunyai nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme.
Bumi Serambi Mekkah, 21 Mei 2023.







