Home / OPINI

Minggu, 12 Februari 2023 - 16:54 WIB

Radio di Masa Perang dan Perdamaian

Refleksi Memperingati Hari Radio Sedunia 2023

 

PERANG sebagai antonim dari perdamaian, menandakan konflik bersenjata antar negara atau kelompok dalam suatu negara. Namun juga bisa diterjemahkan menjadi konflik narasi dalam media.

Narasi dapat meningkatkan ketegangan atau menjaga kondisi perdamaian dalam konteks tertentu. Misalnya mempertimbangkan pelaksanaan pemilu yang panas atau sejuk, penolakan atau penerimaan pengungsi, bangkit atau meredam semangat nasionalisme, dan masih banyak lainnya.

Baik dalam melaporkan dan menginformasikan kepada masyarakat umum, stasiun radio mampu membentuk opini publik dan membingkai narasi yang bisa memengaruhi situasi domestik maupun internasional. Hingga akhirnya dijadikan sebagai salah satu pijakan dasar mengambil keputusan.

Itulah alasan mengapa dukungan terhadap radio independen harus dilihat sebagai bagian integral dari perdamaian dan stabilitas. Dalam peringatan Hari Radio Sedunia 2023 pada 13 Februari ini, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (Unesco), mengambil tema “Radio dan Perdamaian”.

Baca Juga  Grace Pojokkan Prabowo

Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terciptanya radio independen menjadi salah satu pilar pencegahan konflik dan pembangunan perdamaian.

Radio berperan penting dan menjadi salah satu pilar pemeliharaan serta transisi menuju perdamaian. Itu adalah bagian dari fungsi penetapan agenda dan penyediaan layanan penting yang mengedepankan isu-isu yang menarik perhatian.

“Radio menawarkan metodologi alternatif pencegahan konflik dengan mengklarifikasi frustrasi atau benturan kepentingan. Radio juga berperan membersihkan kesalahpahaman, mengidentifikasi masalah ketidakpercayaan, membantu melawan kebencian, dan lain-lain,” begitulah salah satu cuplikan dalam artikel khusus yang dibuat Unesco dalam menyambut Hari Radio Sedunia 2023.

Selanjutnya, “Radio Penjaga Perdamaian PBB” Sebagai bagian dari upaya global untuk mendukung pembangunan perdamaian, PBB telah membangun jaringan radio di daerah-daerah berbagai negara yang mengalami konflik.

Kehadiran radio dalam menjaga perdamaian untuk memastikan penduduk memiliki akses informasi yang kredibel dan tepercaya.

Baca Juga  RAMBUT PUTIH DAN KULIT KERUT

Stasiun-stasiun radio itu beroperasi melalui kerja sama dengan radio setempat. Misalnya di Sudan Selatan disiarkan di Radio Miraya. Kemudian Radio Okapi di Republik Demokratik Kongo, lalui Guira FM di Republik Afrika Tengah, hingga Radio Mikado di Mali.

Stasiun radio serupa juga ada dalam operasi perdamaian sebelumnya. Misalnya di beberapa bagian Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
PBB melihat radio adalah metode komunikasi vital dengan komunitas berskala besar dan beragam. Terutama di lokasi ketika penetrasi internet buruk dan populasinya terus bergeser karena konflik.

Contohnya di Sudan Selatan saat survei persepsi menunjukkan 83 persen orang mendapatkan berita dari radio. Sementara hanya empat persen yang mengakses informasi secara daring.

Repost : EK | Sumber UNESCO | Photo : Net | Editor : Endang

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026

HUKUM

Ketika Keadilan Dipertanyakan: Antara Hukum, Integritas, dan Harapan Publik

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas

OPINI

Jejak Budaya Lhokseumawe dari Masa ke Masa