![]()
Oleh : Dr. Drs.T.M. Jamil TA, M.Si
Pencinta Sastra
MALAM sudah begitu larut. Derap langkah kaki anak manusia sudak tak lagi terdengar. Hanya embusan angin malam seakan-akan bersaut-sautan dengan bunyi binatang malam. Malam kian merambat sinar bulan purnama yang begitu indah menambah pesona malam.
Desiran angin malam yang membawa udara dingin masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang sengaja aku biarkan terbuka membuat aku sedikit kedinginan. Memang demikian udara di musim kemarau kalau siang udara begitu panas namun ketika malam tiba udara seakan berubah 180 derajat.
Jam di sebelah kamarku malam ini telah menunjukan pukul 23.15 Wib sudah begitu larut pikirku, namun sekejap pun aku belum memejamkan mata dan anehnya tanda-tanda mengantuk sama sekali. Kepenatan yang aku rasakan karena aktifitas keseharian ku tidak mempengaruhinya.
Pikiran dan otakku belum bisa di ajak untuk beristirahat. Pikiran ini masih terus melayang dan memikirkan peristiwa yang telah aku alami baru-baru ini. Tepatnya siang tadi, aku mengalami peristiwa penting dalam hidupku, aku telah bertunangan dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya. Dia-lah yang bakal menjadi calon pendamping hidupku.
Namanya Fahmi (Samaran) seorang dokter spesialis anak. Dia adalah anak dari teman Pakcik dan Makcik ku. Pertunangan ini terjadi karena hasil perjodohan. Ya, aku dijodohkan oleh Pakcik dan Makcik ku. Memang sekarang merekalah wali-ku sekaligus sebagai pengganti orang tuaku. Semenjak ayah-ibu ku meninggal karena kecelakaan 15 tahun yang lalu aku diurus dan dirawat oleh Pakcik ku karena beliaulah satu-satunya adik kandung dari ayahku.
Sebelum Pakcik aku menikah dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Aku sungguh beruntung memiliki Pakcik dan Makcik yang begitu amat sayang padaku. Kasih sayangnya padaku seperti kasih sayang seorang Ayah dan ibu kandungku sendiri.
Sebuah peristiwa yang tidak aku duga sebelumnya aku bakal dijodohkan dengan sosok lelaki yang tidak aku cintai dan tidak pernah aku kenal. Meskipun hubungan Pakcik dan Makcik ku dengan orang tua Fahmi begitu dekat. Sebelumnya mereka tidak pernah membicarakan hal ini padaku hingga di suatu sore satu minggu yang lalu selepas aku melaksanakan shalat Maghrib mereka memanggilku.
“Risa, sekarang kamu sudah besar, juga dewasa dan sudah saatnya kamu menikah, Pakcik dan Makcik ingin melihat Risa bersanding di pelaminan yang merupakan keinginan dan cita-cita Pakcik dan Makcik. Ucap Pakcik Husni mengawali pembicaraannya. “Namun Risa belum ada calon Pakcik dan Risa masih ingin mengamalkan ilmu Risa dengan mengabdi di Madrasah Tsanawiyah untuk mengabdi sebagai guru Cek. Risa masih ingin bekerja Cek.”
“Cek juga tahu itu, menikah bukan berarti Risa tak bisa bekerja, Risa masih bisa bekerja kok setelah menikah. Risa, Dan Pakcik minta maaf sebelumnya. Sebetulnya kami telah memilihkan calon pendamping hidup untuk Risa dan kami yakin dia adalah lelaki yang baik, dan cocok untuk Risa, dia pasti bisa memimpin Risa karena selain dia seorang dokter dia juga adalah alumnus pondok pesantren yang kami yakin dia seorang yang baik akhlak dan budi pekertinya.” In Sya Allah, baik dalam penilaianNya.
Sejujurnya, Saat itu ingin rasanya aku memprotes dan menolak perjodohan itu namun aku tak sanggup menyakiti hati dan perasaan mereka aku tak akan sanggup jika melihat mereka kecewa dan aku tidak punya alasan sama sekali untuk menolaknya apalagi dari karakter yang disebutkan Pak Cek dan Mak Cek ku merupakan karakter yang aku terapkan dalam mencari pendamping hidup. Namun, bagaimana dengan Arman sosok yang aku cintai yang kini bersemayam di dalam hatiku?
Meskipun aku sadar dia bukan siapa-siapaku, namun aku tak yakin kalau aku bisa menggantikan namanya dengan nama lelaki selain dirinya dalam hidup ini. Tapi diantara kegamangan itu, aku teringat kata-kata dari salah seorang dosenku yang sangat aku kagumi dan hormati. Beliau pernah berucap : “Jika kita tidak mendapatkan cinta, maka belajarlah untuk mencintai ketika cinta itu hadir menghampiri kita.” Subhanallah …
Ya Allah … Tiga bulan lagi menurut kesepakatan yang telah dijanjikan oleh kedua belah pihak aku akan menikah dengannya. Pergulatan batin inilah yang membuatku begitu sulit untuk memejamkan mataku malam ini. Hatiku begitu menolak akan kehadirannya yang begitu cepat. Aku tidak yakin apakah aku bisa bahagia dengannya atau bisakah aku membahagiakannya sedangkan benih-benih cinta untuknya belum pernah ada sama sekali.
Tak kuasa menahan jeritan hati, aku pun menangis sejadi-jadinya. Angin malam bulan dan bintang menjadi saksi kegalauan hatiku. Air mata ini mengalir begitu desar dan tak mampu aku tahan lagi. Dengan linangan air mata aku mencoba untuk menata kesadaranku kembali.
Aku mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Mungkin inilah yang telah Allah tuliskan jodoh untukku. Mungkin dialah jodoh yang telah Allah tetapkan untukku. Ke-tidak-keikhlasanku malah akan membuatku semakin menderita. Astaghfirullahal ‘Aziim, Ya Allah Ampunilah Aku …
Setelah sedikit tenang ku jamah buku diary ku tercoret nama Arman dari diary aku … sebuah nama yang melekat begitu erat di dalam hatiku selama ini dan menjadi penghias buku diary ku… dengan harapan dengan tercoretnya namanya di buku diary ku tercoret juga namanya di dalam hatiku. Meskipun tak semudah itu. Kini aku harus terima kenyataan yang ada karena yang terbaik menurutku belum tentu terbaik menurut Allah. Mungkin inilah kata-kata bijak dari dosenku tadi dan beliau juga dosen waliku yang teramat baik padaku saat aku masih kuliah. Beliau menjadi Seorang “Ayah” bagi semua mahasiswa dan teman-teman di kampusku. Karena beliau sangat baik dan dekat dengan mahasiswa, malah banyak oknum dosen-dosen lain yang tak senang, zalimd1 dan membencinya. Tapi Allah Maha Kuasa dan Maha Adil, siapapun yang membencinya, selalu berakhir derita dan bencana dialami oleh pembenci dan yang menzaliminya. Sehingga aku semakin kagum pada dosenku yang baik ini. Subhanallah. Begitulah ketika Allah Swt mencintai dan menjaga hamba-Nya yang sangat dicintai. Allahu Akbar.
Tanpa terasa, tanganku begitu lincah menari, menggoreskan tinta hati ke selembar kertas berharap setelah itu tak ada lagi kegalauan dan kegundahan, berharap ketidak ikhlasan ini berubah menjadi keridhaan dari-Nya. Aku pun selalu mohon doa dan restu dari dosenku yang baik.
Diary … Saat ini hanya keikhlasan yang hanya mampu membuatku lepas dari kegundahan hati. Mungkin saat ini aku tak mencintainya Karena di hatiku bukan namanya yang bertahta, Namun nama seseorang yang aku cinta meskipun aku tahu dia bukan siapa-siapa dan mungkin pula dia tak pernah mencintaiku…
Diary … Selama ini diri ini selalu bermimpi kalau dia kelak yang akan datang meminang ku. Namun… kenyataan berkata lain. Justru seorang lelaki yang belum aku kenal yang datang untuk meminang ku… Ingin hati ini menjerit. Ingin diri ini berontak. Namun untuk apa? Apa hanya untuk mengikuti ego-ku yang besar? Tidak, Tidak. Aku harus kuat dan bersyukur atas nikmatNya.
Diary … Tidak ada alasan untuk aku menolak perjodohan ini. Dia laki-laki yang baik yang masuk dalam kriteriaku, Mungkin dia-lah yang telah Allah pilihkan untukku, Yang akan menjadi kekasih halalku.
Diary … Akan aku hapus namanya dari dalam hatiku, Akan aku isi hatiku dengan namanya. Meskipun saat ini hati ku masih menolak. Namun seiring berjalannya waktu hati ini akan menerima kehadirannya.
Diary … Kini keputusan telah ku ambil. Dan pilihan telah ku tentukan. Aku akan selalu berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Karena pilihan yang telah Allah tentukan tidak akan pernah mengecewakan…
Aku Berusaha Untuk Mencintai sambil aku merenungi Firman Allah Swt ini : “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah : 216).
Yaa Allah Yaa Rabbi … Semoga perjodohan ini akan mendamaikan hatiku selamanya untuk menuju Surga Cinta bersamanya kelak. Dengan iringan do’a dan berharap restu dari dosenku yang teramat baik padaku selama ini, semoga perjodohan dan pernikahanku kelak, menjadi Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Aamiin..Amiin..Amiin… Yaa Rabbal ‘Alamiin.







