Home / SASTRA

Selasa, 7 Maret 2023 - 15:52 WIB

WAHAI PARA SUAMI, SETINGGI APAPUN JABATANMU DI KANTOR, ISTERIMU BUKANLAH PEMBANTU

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial –USK – Banda Aceh

TULISAN INI muncul hanya untuk mengingatkan diri sendiri dan para suami lain baik yang telah lama menikah atau yang baru saja menikah atau meresmikan pernikahannya hari ini. Dengan diiringi do’a tulus, Semoga Tulisan ini bermanfaat dengan izin Allah untuk kita semua.

Komitmen adalah kata penting yang harus ada dalam awal setiap pernikahan agar memiliki langkah ke depan yang baik. Saling mengerti dan memahami antara tugas, hak dan kewajiban suami serta istri, merupakan contoh supaya tidak terjadi masalah-masalah yang sulit dan berlarut-larut dalam sebuah rumah tangga yang telah dijalani.

Anda mungkin tidak tahu, ketika pagi buta baru menyapa dengan begitu lembutnya, istri yang Anda cintai dan sayangi sudah terbangun dari tidur dan mimpi indahnya. Ia mempersiapkan semua keperluan Anda sebelum beranjak kerja, kemudian membangunkan Anda dengan sentuhan lembut sepenuh cintanya.

Menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan sarapan agar tenagamu terisi penuh, dan pakaian yang telah dicuci bersih, disetrika rapi, dan disemproti minyak wangi agar Anda bisa tampil berwibawa dan percaya diri. Iya, istri Anda melakukan itu sejak hari pertama pernikahan, sejak pertama kali Anda mulai mengikat janji, hingga kini. Silakan hitung, sudah berapa lama masanya? Berapa banyak yang harus ia korbankan untuk melakukan hal itu? Rasanya terlalu sulit untuk menghitungnya.

Setelah Anda pergi, yang sebelumnya dilepas dari dekapan tangan penuh dengan do’a yang tak putus, senyum yang senantiasa merekah menghias bibir manisnya, wajah yang sumringah terpancarkan cahaya kedamaian, dan salam lembut penuh do’a. Pahamilah satu hal, ia tengah menyembunyikan sekian banyak daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh istri yang Anda sayangi itu setelah dirimu berangkat kerja.

Baca Juga  Ketika Usia Bertambah dan Makna Hari Ulang Tahun Bagiku 

Berawal dari Rumah yang harus segera dibersihkan. Mulai menyapu, mengepel lantai, jendela, merapikan kamar tidur, mencuci piring, pakaian, dan masih banyak pekerjaan ‘remeh’ lain yang tidak mungkin dan akan sangat melelahkan jika didetail satu persatu karena saking banyaknya pekerjaan. Setelahnya, ia bergegas untuk mempersiapkan sarapan anak-anak yang hendak beranjak ke sekolah sampai juga kadang mengantarkan anak ke sekolah dan juga menjemputnya.

Jika pun hanya satu anak; sadarilah bahwa ia tidak akan mau mengonsumsi makanan yang sama setiap paginya. Belum lagi jika anak kita lebih dari satu; pertama nasi goreng, kedua nasi putih, ketiga lontong sayur, dan sebagainya. Ditambah lagi jika anak-anaknya masih usia PAUD/TK, masih harus memandikan anak, memakaikan pakaian anak, menyuapi anak untuk sarapan, dan sebagainya.

Sungguh, itu amat melelahkan dan me letih kan, terlebih lagi jika istri Anda hanya mengerjakan pekerjaan rumah saja, tanpa ada kegiatan sampingan lain, tentu kejenuhan pasti dirasakan oleh istri Anda, namun ia masih tetap menyembunyikannya dalam ketulusan hatinya. Bukankah dengan itu Anda menyadari, bahwa pekerjaan istri jauh lebih banyak dan berat dari tugas Anda di kantor mana pun anda bekerja dengan jabatan setinggi apapun juga?

Lalu, setelah istri Anda satu-satunya yang anda sayangi itu seharian menyelesaikan pekerjaan rumahnya, di senja hari Anda pulang dengan membawa lelah, ia pun harus mempersiapkan diri dengan penampilan terbaik dan terpantas untuk menyambut Anda agar perasaanmu turut terhibur. Masya Allah. Pasalnya, istri anda tahu jika Anda pulang sementara keadaannya awut – awutan tak jelas, ekspresi Anda langsung kecut, cemberut, dan tak ‘berminat atau selera’ dengannya!

Dan apabila anda tetap saja bersikap seperti itu, sungguh hati seorang istri terasa sangat tersakiti dan menyedihkan. Belum lagi ibadah dan pengabdiannya kepadamu. Bukankah karena dengan adanya isteri, dirimu telah terhindar dari berbuat zina? Sungguh indah, sunnah Rasul dan Firman Allah Swt bagi hamba-Nya yang mau berpikir dan beriman. Hanya dengan sebuah kata ucapan “Ijab Qabul” dan berakhir pengakuan “Sah” dari saksi, dia telah halal bagimu. Dia rela pergi untuk mengikutimu dan meninggalkan kedua orangtuanya yang sangat dicintai. Sungguh suami yang sangat bejat, jika dirimu mengkhianatinya. Astaghfirullah.

Baca Juga  Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

Maka, jika Anda ingin belajar menjadi suami yang baik, cobalah pahami posisi dan kesibukannya yang padat merayap itu. Cukup memahami, jika Anda tak kuasa menggerakkan anggota badan untuk membantu sebab merasa sudah sibuk di luar dan cukup dengan peran sebagai pencari nafkah.

Dengan pemahaman yang baik, saat pulang di senja hari saat rumah berantakan itu, minimal Anda tidak akan mengatakan dengan nada Bos, “Kamu ngapain aja sich di rumah? Tahukah kalau saya tuh kelelahan? Seharian mencari nafkah untuk kamu dan anak-anak. Pahamilah Aku dong!?” Tapi bicaralah dengan santun, nada penuh kasih sayang dan perhatian. Karena isterimu di rumah juga bekerja dan tidak tidur sebelum tugasnya selesai …

Sebab, istri Anda adalah pendamping hidup sampai akhir hayat, belahan jiwa yang tidak mudah dipisah, penasihat yang baik dan bijak bagi Anda maupun anak-anak anda; bukanlah orang yang bisa Anda perlakukan semena-mena ibarat pembantu! Tapi ingatlah bahwa isterimu bukanlah pembantu bagimu. Dia pendamping bagimu ketika dirimu disakiti oleh orang lain, maka isterimulah yang mampu membuat hatimu terhibur. Barakallahu Fiekum, Camkanlah … !!!

Banda Aceh, 07 Maret 2023

Share :

Baca Juga

SASTRA

Generasi Kami, Kami Setia dan Selalu Ada

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu