![]()
Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Ilmuwan Politik – USK – Banda Aceh.
MEMBACA dan menyaksikan semakin rendahnya mutu kampanye pemilu-pilpres dalam periode lalu, rasanya perlu diingatkan kembali kepada para elite partai dan para pemimpin, termasuk para capres dan cawapres kita yang akan bertarung pada tahun 2024 nanti bahwa pemilu hanya digelar 5 tahun sekali. Sementara Indonesia, ia harus selalu digelar dan selalu ada untuk selamanya. Agak memprihatinkan bila untuk keperluan yang lima tahun sekali, Indonesia dibuat sedemikian rupa hingga berpotensi tidak selamanya akan ada. Lihatlah di sekitar kita saat ini. Para wasit pun telah mulai dan ikut bermain…
Suatu hal yang bisa menjadi keniscayaan bila perilaku para politisi dan pemimpin kita memilih untuk membuat rakyat menjadi dua, atau tiga kubu yang saling berhadapan dan bermusuhan secara permanen. Ujaran kebencian dan semangat perseteruan yang dilontarkan para elite politik, telah berhasil memisahkan rakyat ke dalam kelompok-kelompok pendukung fanatik yang setia buta kepada capres dan cawapres yang kelak akan menjadi pilihannya.
Hal mana merupakan benih sangat buruk yang berpotensi mengancam tegaknya sila ketiga dari Pancasila sebagai ideologi bangsa kita. Suasana yang memprihatinkan ini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kota-kota besar dan bahkan kini telah menyebar ke desa-desa di negeri ini. Masih bersyukur ‘virus politik’ yang sangat berbahaya ini belum berhasil menembus benteng pertahanan budaya masyarakat yang hidup di desa-desa di pelosok Tanah Air. Kadangkala warga masyarakat desa lebih cerdas dan dewasa.
Terakhir kunjungan saya beberapa minggu yang lalu – ke beberapa desa di bagian Timur Aceh, bagian Tengah, dan Selatan, setidaknya meyakinkan saya bahwa masyarakat desa masih hidup kompak, dan bangga dalam melestarikan nilai-nilai lokal jenius yang mereka punya dan jadikan penuntun dalam kehidupannya. Sungguh, Saya sangat berbahagia… Karena dengan kondisi ini, Sehingga virus Demokrasi Liberal pun layu dan mati sebelum berkembang ketika diperhadapkan dengan nilai-nilai lokal jenius yang mereka pegang teguh. Yang saya anggap sebuah keanehan adalah kenyataan bahwa pada komunitas masyarakat di kota besar yang relatif lebih mengenyam pendidikan formal secara baik dan bahkan tinggi, justru sangat rentan dan mudah terlumpuhkan daya tahannya terhadap virus politik (jahat), Demokrasi Liberal ini. Entah mengapa itu bisa terjadi? Wallahu ‘Aklam…
Begitu luar biasanya kita menyaksikan bagaimana akal sehat tak lagi mendapat tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat di kota-kota besar selama dan akan berlangsungnya kampanye politik Pemilu Pileg dan Pilpres 2024. Belum lagi mulai masa kampanye, gelaran dukungan kepada bakal calon presiden telah berubah menjadi ajang pembodohan dan pendangkalan pengetahuan masyarakat. Bahkan terjadi pembelokan arah dan capaian utama dari maksud dan tujuan diselenggarakannya pemilu itu sendiri. Karena dengan kian meluasnya pembiakan ‘binatang politik’ dalam dunia politik kita, telah menjadikan negeri ini berjalan tanpa tersentuh oleh pemikiran dan sikap kenegarawanan dari para politisi kita yang mestinya lebih santun dan beradab.
Dengan kata lain, ‘binatang politik’ kian banyak dan tumbuh menjamur, sementara negarawan lenyap ditelan hiruk pikuk perdebatan dan lontaran kebencian yang tak bermutu dari oknum dan para ‘binatang politik’ mendominasi panggung dan dunia perpolitikan belakangan ini. Pola bermain dan permainan politik yang dilandasi dan berdasar pada acuan zero sum game, aku atau kamu yang mati dan sejenisnya, begitu terasa dipertunjukkan oleh para kubu pendukung bakal capres-cawapres. Sehingga sering terasakan mereka seakan-akan tak lagi peduli Indonesia terbelah dan pecah berkeping, karena yang penting ‘jago aku’ berhasil memenangkan pemilu nanti. Sungguh menyedihkan nasib bangsa ini.
Tanpa berpikir panjang bahwa kemenangan ‘jagoannya’ akan sia-sia dan bahkan menjadi malapetaka ketika kemenangan yang diperoleh harus dibayar dengan perpecahan dan permusuhan rakyatnya. Menyaksikan adegan demi adegan akting para politisi kita di atas panggung pemilu yang akan datang agaknya tidak berlebihan bila dirasakan masih perlu diingatkan bahwa pemilu digelar 5 tahun sekali; sedangkan Indonesia digelar setiap hari harus ada dan harus tetap ada selamanya.
Sehingga setiap perilaku politik yang tidak menjamin dan bahkan mengancam tegaknya Motto : Indonesia harus ada dan harus tetap ada selamanya, harus segera dihentikan. Oleh karenanya, berperang melawan ‘virus jahat’ yang bernama ‘Demokrasi Liberal’ merupakan keharusan yang bersifat mendesak dan tak bisa dibiarkan untuk berkembang di negeri ini.
Membiarkan Indonesia hidup dalam cengkraman demokrasi yang (hyper) liberal seperti sekarang ini, merupakan jaminan akan pecahnya Indonesia menjadi berkeping -keping sebagai masalah dan kita tinggal tunggu waktu. Sekali lagi, ingat wahai bangsa dan sahabat-sahabatku, pemilu In Sya Allah selalu akan digelar setiap lima tahun sekali; tapi Indonesia harus digelar setiap hari dan setiap hari ia harus ada, dan harus tetap ada, selamanya. Jangan Korbankan Indonesia Hanya Untuk Kepentingan Sesaat. Yaa Allah, Yaa Rabbi, Lindungi dan Bimbinglah Kami Bangsa Ini Untuk Menjadi Bangsa Yang Besar dan Bermartabat. Semoga Indonesia Tetap Jaya Selamanya. In Sya Allah, Aamiin…Amiin…Yaa Rabbal ‘Alamin.
Banda Aceh, 04 Maret 2023







