oleh M Rizal Fadillah*
MESKI dengan penuh jumawa Ridwan Kamil menyebut ratusan penghargaan telah didapat tetapi rakyat Jawa Barat lah yang merasakan kepemimpinannya sebagai Gubernur selama lima tahun itu sukses atau tidak. Penilaian biasanya diujung masa jabatan. Dan faktanya di hari akhir Ridwan Kamil berkontribusi muncul elemen masyarakat Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat melakukan aksi dan menyerahkan “laporan merah” Ridwan Kamil ke DPRD Jawa Barat.
Berita muncul juga saat itu, ternyata Ridwan Kamil diberitakan oleh Beyond Anti Corruption (BAC) atas dugaan korupsi ke Kejaksaan Agung dalam pembangunan Masjid Al Jabbar di Bandung. Satu hari sebelum purna tugas, Ridwan Kamil juga mendemo kelompok masyarakat Manggala Garuda Putih (MGP) karena dinilai telah meninggalkan hutang 4 Trilyun atas program PEN yang akan menjadi beban bagi masyarakat Jawa Barat.
Lucunya, bentuk perpisahan jabatan Gubernur diwarnai dengan karnaval dimana Ridwan Kamil berkostum aneh. Entah apa, tapi sepertinya kostum hewan capung sebagaimana disebut detikNews. Sementara istrinya Artalia memakai kostum kupu-kupu. Ridwan Kamil terkesan eksentrik. Jadi teringat Presiden Jokowi yang biasa “tidak nempat” dimana pada acara resmi kenegaraan selalu menggunakan pakaian adat beragam. Pakaian terakhir Amangkurat “sang pembantai” rakyat dan ulama.
Capung itu terbang kesana sini dengan ringan, berbentuk besar, penanda warna warni, mata yang mampu melihat warna lebih dari warna pokok biru, hijau, merah. Bernafas dengan anus dan memangsa hewan atau karnivora. Hewan ini predator dibalik keindahannya. Lalat, nyamuk, ngengat, rayap, semut dan kupu-kupu bisa menjadi mangsanya. Capung kecil memakan ikan-ikan kecil di udara.
Sementara itu sudahlah Ridwan Kamil dan kostum capung. Yang lebih parah dan menyakitkan adalah “prestasi” membuat patung. Patung Soekarno yang siap didirikan di lahan aset Pemprop Jawa Barat dengan “merebut” halaman GOR Taman Saparua Bandung depan Kodiklat TNI AD. Protes masyarakat sudah banyak, puluhan organisasi dan kelompok aksi di samping API seperti Kappak ITB, Gerak Jabar, Gebrak, APP TNI, Al-Irsyad, Parmusi, Ikadi, Jundullah, PA 212, Persis Jabar, Fungsionaris MUI, DMI, Forum Doktor dan Advokat Muslim, dan lainnya meminta agar pembangunan dibatalkan.
Semua menolak agenda keras “pribadi” Ridwan Kamil yang dinilai tanpa prosedur hukum yang benar dan berbau kongkalikong dengan sebuah Yayasan swasta. Seperti ada gratifikasi patung untuk kepentingan politik pragmatik.
Dalih demi menghormati Bung Karno sebagai proklamator sulit diterima. Proklamator itu Soekarno dan Hatta. Menghormati Bung Karno menghormati tanpa Bung Hatta adalah bentuk penistaan dan penghianatan. Jikapun itu sebagai monumen perjuangan maka sudah ada monumen di Bandung baik rumah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul, penjara Banceuy atau Gedung Indonesia Menggugat. GOR Saparua tidak memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan Bung Karno.
Pembangunan Soekarno Patung bermasalah secara teologis, sosiologis, politis dan yuridis. Teologis menyangkut umat Islam yang secara keagamaan mempermasalahkan larangan atau keharaman membuat patung manusia. Kultus menuju keberhalaan. Sosiologis karena tidak ada sosialisasi terlebih dahulu tentang rencana pembuatan patung. “Ujug-ujug” ada terobosan baru. Ridwan Kamil meletakkan batu pertama. Secara sosiologis kecacatan ini terbukti dengan banyaknya masyarakat Jawa Barat yang menolak.
Aspek politik sangat kental. Patungisasi Soekarno adalah program Megawati. Sekjen PDIP Hasto saat groundbreaking menyebut peluang Ridwan Kamil menjadi Cawapres Ganjar Pranowo. Soekarno itu Bapak Nasakom dan secara terang-terangan melindungi PKI. TNI adalah korban PKI. Patung Soekarno akan dibangun di depan Kodiklat TNI AD dan dekat Makodam III Siliwangi. HR Dharsono dan AH Nasution adalah mantan Pangdam Siliwangi yang gigih melawan PKI.
Secara yuridis pembuatan patung Sukarno dilakukan tanpa persetujuan, pembahasan bahkan sepengetahuan DPRD Jawa Barat. Padahal yang digunakan adalah tanah atau lahan aset Pemprop Jawa Barat. Melanggar Perda No 3 tahun 2019 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan mengabaikan UU No 14 tahun 1998 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Ridwan Kamil dapat digugat secara hukum perdata, tata usaha negara dan pidana meskipun telah lama menjabat sebagai Gubernur.
Ironinya kader Golkar ini justru melapor kepada Ketum PDIP untuk menyampaikan proses pembangunan patung yang telah mencapai 70 persen. Hal ini menjadi bukti bahwa memang pembangunan patung Sukarno adalah kepentingan partai politik bukan kepentingan masyarakat Jawa Barat. Bukan aspirasi dari rakyat Jawa Barat. Celana jika rakyat Jawa Barat sampai kapanpun tetap akan menolak keras.
Ridwan Kamil ini sangat “pede”, bahkan berlebihan, dengan prestasinya. Tampaknya-olah sudah sempurna semua pekerjaannya. Jabar juara. Juara apa? Ketimpangan ekonomi meningkat, angka korupsi masih tinggi dan LGBT nya ternyata juara. Belum lagi dalam alokasi dana bantuan ormas dan lembaga kemasyarakatan termasuk kelompok budaya yang dinilai timpang atau tidak adil. Tidak memiliki standar atau tolok ukur yang baku. Terkesan “kumaha aing” dan manipulatif.
Ujungnya sombong. Bagaimana bisa seorang Ridwan Kamil mengakhiri jabatannya dengan tidak mengucapkan rendah hati tetapi “ngajago” meremehkan tugas Pejabat Gubernur. Ia menyatakan bahwa Pj Gubernur itu hanya tinggal duduk manis dan tidur nyenyak. “Si Pj ini yang penting menjaga aja prestasinya, ibarat kayak Persib lah sudah juara”. Hadeuh, Kang Emil.
Tapi memang karnaval perpisahan dengan kostum papatong atau capung atau capung mungkin pas-pas saja “hulu na gede”. Memang besar kepala. Jumawa karena mampu melihat dengan mata bersudut 360 derajat. Hanya sayang, capung yang kecil dan ringan terbang kesana kesini ternyata adalah hewan predator.
Ridwan Kamil memang Gubernur “butut”.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan.
Mantan Wakil Ketua Komisi A DPRD Propinsi Jawa Barat.
Bandung, 9 September 2023







